Kisah Cinta Dua Mutiara

Kisah Cinta Dua Mutiara
60. Dia Tetap Sahabatku


__ADS_3

"Hey Wildan, maksud kamu tadi apa berdehem kayak gitu?" tanya Ryan ketus.


"Lah, kamu sendiri juga ngapain berdehem kayak tadi? masuk angin beneran kamu?" Wildan bertanya kembali membuat Ryan mendengus kesal.


"Pokoknya kita bersaing secara sehat untuk mendapatkan Anna," sungut Ryan menatap tajam Wildan.


"Sudah berapa kali aku katakan, aku tidak akan berjuang mendapatkan hati Anna, aku hanya ingin mejaganya, jika dia berjodoh denganku, Alhamdulillah, jika tidak, aku tidak akan memaksakan kehendakku," tutur Wildan.


Ryan terdiam.


"Oh iya, satu lagi, persaingan yang kamu maksud itu tidak akan menjadi penentu dia jodohmu bro, kalau ternyata jodohnya bukan diantara kita, maka menang atau kalah tidak berarti apa-apa" terang Wildan sekali lagi membungkam Ryan.


Dari jauh rupanya Yasmin dan Anna memperhatikan keduanya yang nampak sedang asik bercerita.


--


Keesokan paginya, mereka berempat beserta supir melanjutkan perjalanan ke Rantepao untuk mengunjungi destinasi wisata disana.


Destinasi pertama yang mereka kunjungi kali ini adalah Kete Kesu, yang merupakan sebuah desa yang masih mempertahankan adat masyarakat toraja.



Sumber: Manusialembah.com


Setelah puas mengambil foro selfie disana, mereka melanjutkan perjalan mereka ke destinasi selanjutnya yaitu Bori Parinding, yang merupakan kompleks pemakaman liang batu kuno sekaligus tempat upacara rambu solo.

__ADS_1



Sumber: Manusialembah.com


"Anna, disini destinasi wisatanya kebanyakan memperlihatkan tentang adat yang ada di Toraja yah?" tanya Ryan.


"Iya betul Yan, karena memang Toraja sendiri terkenal dengan adat istiadatnya yang masih terjaga sampai sekarang" terang Anna.


"Wah, keren juga yah, habis ini kita mau kemana Ann?" tanya Yasmin pada Anna yang kini gantian menjadi tour guide.


"Bagaimana kalau kita ke Kuburan Londa?" tawar Anna.


"Kuburan? seram dong?" celetuk Ryan


"Dasar, jadi cowok kok penakut banget" seloroh Wildan membuat Ryan menatapnya tajam.



Sumber: Manusielembah.com


"Oh jadi gini bentuk kuburannya, aku pikir tadi modelnya kayak pemakaman umum," kata Ryan cengengesan.


"Kalian pasti capek, hari ini kita langsung cari hotel buat kita nginap malam ini yah," tawar Anna.


"Iya Ann, kita istirahat dulu, udah capek nih," cicit Yasmin.

__ADS_1


"Hati-hati Yasmin, jangan sampai kecapean apalagi sampai lecet loh, bisa habis aku di tangan Yusuf," celetuk Wildan membuat Yasmin terkekeh geli.


Merekapun pergi ke hotel untuk beristirahat.


Saat malam hari, Yasmin dan Anna sedang berbaring di kasur.


"Gimana Ann, sejauh ini, apa kamu sudah bisa menyimpulkan perasaanmu pada Ryan?" tanya Anna.


"Hufth.. Iya Yas, dan aku sadar bahwa dari dulu sampai sekarang dia tetap adalah sahabatku, nggak bisa lebih dari itu karena aku lebih nyaman menjadi sahabatnya," terang Anna lesu.


"Jadi, kapan kamu akan menjawab ungkapan perasaannya?" tanya Yasmin lagi.


"Insya Allah secepatnya setelah kita balik ke Jakarta," jawab Anna.


"Aku sarankan, kamu sebaiknya shalat istikharah deh, biar hatimu lebih mantap dalam memilih," saran Yasmin dan dijawab anggukan oleh Anna.


"Kalau kak Wildan sendiri gimana menurut kamu?" tanya Yasmin penasaran.


"Aku belum pernah memikirkan bagaimana perasaanku padanya, yang jelas kehadirannya kadang membuatku lebih ceria karena kekonyolannya," jawab Anna terus terang.


--


"Ck, jadi percuma aku mengikutimu sampai disini, jika ujung-ujungnya kamu tetap akan menolakku," decak Ryan yang rupanya sejak tadi berada di depan pintu kamar Anna dan Yasmin.


-Bersambung-

__ADS_1


Yuk dukung karya author dengan like, koment dan vote novel ini agar author lebih semangat lagi update cerita selanjutnya.


__ADS_2