
Saat ketertarikan mulai hadir, kadang yang dulu dianggap tak baik kini malah dianggap baik. Yang dulu dianggap galak, kini dianggap lucu.
Itulah hati, yang kadang jalannya tidak searah dengan logika, bahkan kadang bertolak belakang dengan logika.
Suatu komitmen yang dibangun atas dasar menjaga hatipun bisa saja langsung runtuh seketika manakala Sang Pemilik Hati mulai menjalankan skenarionya.
(Wildan Prasetyo)
--
Jakarta
Sore ini, Anna sedang mencari buku yang bisa iya gunakan untuk membantu tugas kuliahnya.
"Dapat!" ucapnya girang.
"Cari buku apa lagi yah? hmmm... nah yang ini saja" gumamnya saat mengambil sebuah buku dengan judul 'Hati dan Logika'.
"Saat ketertarikan mulai menyeruak masuk ke dalam hati, maka seberapa besar alasan yang dilontarkan oleh logika, ia tetap akan kalah" gumamnya kembali membaca sepenggal tulisan di dalam buku itu.
"Dan begitupula wanita, yang mengedepankan hati bukan karena ia menginginkannya, namun itulah fitrahnya yang penuh kasih sayang" kata seorang pria yang ternyata sejak tadi berada dibalik rak buku tempat Anna berdiri.
__ADS_1
Mendengar kalimat itu, hati Anna tersentuh, ia mencari sumber suara yang berhasil menyentuh hatinya itu.
"Kamu yang tadi bicara kan?" tanya Anna pada pria yang sedang memunggunginya.
Pria itu berbalik "Iya, tadi itu aku mendengarmu membaca sepenggal kalimat dalam buku yang menurutku sangat menarik" katanya kemudian.
"Benar, buku ini mengajarkanku tentang hati dan logika yang kadang bisa kompak, namun tak jarang juga saling bertolak-belakang" kata Anna.
"Tunggu dulu, apa kita pernah bertemu, aku lihat wajah kamu seperti nggak asing" tutur Anna.
--
Entah mengapa, ia mulai berpikir bahwa apa yang dikatakan Yusuf ada benarnya juga
"Jika diberi umur panjang, suatu saat kita akan bertemu dengan tulang rusuk yang telah Allah persiapkan untuk kita, jadi sebelum bertemu, maka perbanyaklah ilmunya agar kelak tak salah dalam mengambil langkah" begitu katanya kala itu.
Saat sedang memilih buku, ia tak sengaja mendengar suara seorang wanita sedang membaca penggalan kalimat indah dari sebuah buku. Ia mulai mencari tahu siapa wanita itu, sebab ia merasa tidak asing dengan suaranya. Saat mengintip diantara buku-buku, ia dapat melihat dengan jelas wajah Anna, wanuta yang dulu ia juluki wanita galak.
Merasa tertarik dengan kalimat tersebut, iapun melanjutkannta dengan kalimat yang ia rangkai sendiri. Dan disinilah dia saat ini, ketika Anna berada tepat dihadapannya.
"Benar, kita pernah bertemu di lampu merah dan bazar karena insiden tabrakan" jawab Wildan.
__ADS_1
"Oh jadi kamu, pantas wajah kamu nggak asing" kata Anna.
"Tapi kok kamu agak berbeda yah dengan kamu dalam insiden itu" tanya Anna.
"Berbeda gimana maksud kamu?" taya Wildan mengerutkan keningnya
"Dulu itu sikap kamu agak galak dan sedikit barbar" terang Anna membuat Wildan tersenyum tipis.
"Masa sih? perasaan sikapku nggak barbar kok. Tapi kalau menurut kamu sikapku barbar berarti itu karena lawan bicaraku yang barbar, jadi aku ngikut biar bisa mengimbangi ke barbarannya" kata Wildan santai membuat Anna mendengus.
"Jadi maksud kamu, sikap barbar kamu itu muncul karena bicara sama aku yah? tanya Anna melotot, Wildan hanya cengengesan mendengar pertanyaan Anna itu.
"Tapi iya sih, ku akui sikap barbarku ini memang sudah mendarah daging, jadi harap maklum" kata Anna sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal membuat Wildan terkekeh.
"Kalau gitu aku mau balik dulu, udah lambat nih, bye" kata Anna lalu berlari menggalkan Wildan.
"Sayang sekali, kita belum sempat berkenalan, ternyata saat sedang tidak marah, kamu gadis yang ceria dan lucu" monolog Wildan dengan senyumannya yang merekah di bibirnya.
-Bersambung-
Yuk dukung karya author dengan like, koment dan vote novel ini agar author lebih semangat lagi update cerita selanjutnya.
__ADS_1