
Di kediaman Paman Abu
Hari ini semua keluarga Yusuf berkumpul di rumah paman Abu, termasuk Fatimah dan suami yang datang dari Kairo untuk melihat sang Kakak menikah.
"Masya Allah abangku ganteng banget ciiih," puji Fatimah sembari menarik kedua pipi kakaknya itu dengan gemas.
"Auw... sakit tau dek..," ringis Yusuf.
"Kapan lagi aku bisa nyubit abang kayak gini, setelah ini kan abang sudah punya pawang sendiri, jadi mana berani Ima nyubit abang lagi," celetuk Fatimah lalu mencubit kembali kakaknya itu dengan gemas.
"Ima, suami kamu mana nak?" tanya Ummi Ulfa sambil mencari suami Fatimah.
"Kayaknya tadi lagi ke kamar mandi Ummi," jawab Fatimah memandang ke arah kamar mandi.
"Oke, 5 menit lagi kita berangkat ke hotel tempat Aqad akan dilangsungkan." Tegas Ummi Ulfa sambil mengecek semua hantaran apakah sudah masuk mobil semua.
"Assalamu 'alaikum semuanya," ucap Wildan yang baru tiba di rumah pamannya Yusuf.
"Wa'alaikum salam. Akhirnya datang juga, aku pikir kamu nggak akan datang karena masalah itu," tukas Yusuf merasa senang sahabatnya datang dihari pernikahannya.
"Masalah? masalah apa bang??" tanya Fatimah penasaran.
"Biasa, masalah orang dewasa, anak kecil nggak perlu tahu," jawab Wildan membuat Fatimah mendengus.
"Emang ada anak kecil udah nikah? abang kali yang anak kecil, kan masih jomblo," celetuk Fatimah sambil terkekeh, kali ini Wildan yang mendengus.
"Nanti juga Wildan akan ketemu sama jodohnya di acara aqadku,"sela Yusuf tersenyum penuh arti.
"Oh.. jadi abang Wildan udah ada ca.." perkataan Fatimah terpotong saat Ummi memanggil mereka semua untuk segera berangkat.
__ADS_1
"Hufth.. selamat.." lirih Wildan sambil mengusap dadanya legah. Sejujurnya ia tidak ingin membahas apapun tentang jodohnya saat ini, rasanya ia tidak mampu menjawab setiap pertanyaan yang akan keluar nantinya.
Kurang lebih 20 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di hotel tempat acara Aqad dan resepsi akan dilangsungkan. Yusuf dan keluarga berjalan masuk ke dalam hotel bersama.
Mereka berjalan membentuk sebuah barisan, Yusuf berada di barisan paling depan dengan di apit oleh Ummi Ulfa dan Abi Hasan, di belakangnya ada Fatimah dan suaminya, lalu dibelakangnga ada Wildan dan Ibu Sukma, dan barisan selanjutnya diisi oleh keluarga Yusuf yang lain.
Yusuf kini mengambil tempat khusus untuk aqad nikah. Sementara keluarga Yusuf termasuk Wildan duduk di kursi khusus keluarga.
Beberapa saat kemudian, Yasmin keluar dengan diantar oleh Ibu Hafsah, Ayah Syawal dan Anna.
Degh..
"Anna" batin Wildan melihat Anna yang datang bersama dengan Yasmin.
Yusuf merasa sangat gugup sehingga untuk menoleh melihat Yasminpun ia tak sanggup. Yusuf menautkan kedua tangannya untuk meredam tangannya yang sedari tadi bergetar.
Yasmin saat ini duduk dikursi khusus mempelai wanita yang berada tidak jauh dari kursi Yusuf saat ini. Sebelum Yusuf mengucapkan ijab qabul, mereka belum boleh duduk berdampingan.
"Bismillahirrahmaanirrahim, ananda Yusuf Ar-Razaq bin Hasan, saya nikahkan engkau dengan putri saya Yasmin Al-Thofunnisa binti Syawal dengan mahar sebentuk cincin emas tunai karena Allah..." ucap Ayah Syawal dengan mata berkaca-kaca.
"Saya terima nikahnya Yasmin Al-Thofunnisa binti Syawal dengan mahar tersebut tunai karena Allah." Yusuf langsung melanjutkan ucapan ijab qabul Ayah Syawal dengan lantang dalam satu tarikan nafas.
"Sah." Suara saksi diikuti keluarga yang menyaksikan prosesi sakral tersebut.
Yusuf dan Yasmin mengusap wajah mereka lembut dengan mata berkaca-kaca.
Tidak ada ungakapan yang paling indah selain ungkapan rasa syukur pada Allah atas apa yang telah Dia berikan kepada mereka.
Setelah melalui proses dan ujian yang tidak mudah, akhirnya, kini Yasmin dan Yusuf telah resmi menjadi pasangan halal.
__ADS_1
Ibu Hafsah mengarahkan Yasmin untuk berpindah tempat duduk tepat disamping Yusuf. Jantung keduanya semakin bergemuruh.
Melalui arahan Ayah Syawal, Yusuf mengulurkan tangannya kepada Yasmin yang kini telah sah menjadi istrinya untuk dipakaikan cincin.
Meski merasa takut, Yasmin perlahan mengulurkan tangannya. Dengan sangat hati-hati, Yusuf menyematkan cincin yang menjadi tanda ikatan halal mereka di jari manis Yasmin.
Untuk pertama kalinya, kulit mereka saling bersentuhan membuat jantung keduanya berdegup kencang.
Yasmin lalu meraih tangan Yusuf untuk mencium punggung tangan Yusuf yang kini telah menjadi imamnya. Cukup lama Yasmin menciumnya hingga tidak terasa bulir air matanya menetes ditangan Yusuf.
Lalu dengan arahan Ayah Syawal lagi, Yusuf mulai membacakan doa sambil memegang ubun-ubun Yasmin, untuk beberapa saat Yusuf berdoa lalu mencium kening Yasmin dengan begitu lembut. Seketika membuat darah mereka berdesir dan menghangat. Sekali lagi, hanya pujian dan ucapan rasa syukur yang senantiasa mereka ucapkan dalam hati atas hadiah terindah dari Allah.
--
Terima kasih karena telah memilihku, menjadi makmummu, dan terima kasih pula karena sudah menjaga batasan kita selama ini.
Aku tidak tahu, apakah aku sudah mencintaimu atau tidak saat ini, namun yang pasti hatiku sangat bahagia ketika para saksi telah mengucapkan kata 'sah' dihadapan penghulu.
Semoga pernikahan ini senantiasa mendapat Ridha Allah, dan melahirkan anak-anak yang sholeh dan sholehah.
(Yasmin Al-Thofunnisa)
--
Terima kasih karena telah menerimaku, bukan aku yang memilihmu, namun Allah yang memilihmu untuk menjadi istriku dan makmumku.
Setelah menggemakan ijab qabul, aku semakin menyadari bahwa aku sudah jatuh cinta padamu entah sejak kapan.
Semoga Allah senantiasa menjaga pernikahan kita, menjaga keharmonisan rumah tangga kita dan melahirkan mujahid dan mujahidah yang tangguh
__ADS_1
(Yusuf Ar-Razaq)
Yuk dukung karya author dengan like, koment dan vote novel ini agar author lebih semangat lagi update cerita selanjutnya.