Kisah Cinta Dua Mutiara

Kisah Cinta Dua Mutiara
73. Aku Cinta Kamu


__ADS_3

Terima kasih karena sudah tulus menjagaku selama ini.


Dan terima kasih pula karena sudah memilihku menjadi kekasih halalmu.


Jika saja kamu tidak pergi jauh saat itu, mungkin sampai saat ini aku masih belum menyadari perasaanku padamu.


Allah benar-benar Maha Baik, menjauhkanku dari duri dan mempertemukanku dengan emas sepertimu.


(Anna Embong Bulan)


-


Terima kasih karena sudah mencariku kembali.


Dan terima kasih pula karena sudah bersedia menerimaku, kamu adalah hadiah yang Allah pilihkan untukku.


Setelah menjauh darimu, aku semakin yakin dengan perasaanku padamu.


Allah benar-benar Maha Membolak-balikkan hati manusia, begitu banyak wanita yang datang, namun hanya kamu yang berhasil mengetuk pintu hatiku.


(Wildan Prasetyo)


--


Turki


"Kak, aku ingin bertanya, boleh?" ujar Yasmin yang saat ini sedang jalan-jalan di sekitar Blue Mosque


"Tanya apa sayang?"


"Hmm, waktu kakak mengajakku ta'arruf, kakak bilang kalau 2 tahun sebelumnya kakak mulai melakukan sholat istikharah, terus jawabannya aku, iya kan?"


"Iya sayang, lalu?"


"Hmm.. kapan tepatnya kakak melakukan istikharah itu? seingatku 2 tahun yang lalu kita belum saling mengenal," tanya Yasmin sambil memainkan jari-jemari Yusuf.


"Hmm.. apa kamu ingat pertemuan pertama kita itu dimana?"


"Di minimarket kan?" jawab Yasmin


"Benar, melalui sebuah roti. Kamu tahu, saat melihatmu pertama kali, jantungku langsung berdegub kencang, seperti ada rasa gugup dan senang dalam hatiku setelah melihatmu. Padahal sebelumnya, belum pernah sekalipun jantungku berdegub seperti itu," tutur Yusuf.

__ADS_1


"Lalu kak?"


"Lalu, beberapa hari setelahnya aku mulai gelisah karena selalu memikirkanmu, kadang juga seperti merindukan, padahal kita sama sekali belum saling mengenal. Jadi, untuk memastikan apa yang terjadi padaku, aku mencoba meminta petunjuk Allah melalui istikharah.


"Lalu kak?" Yusuf tersenyum lalu mengusap kepala Yasmin dengan gemas.


"Lalu mulai saat itu aku mulai sering melihat wajahmu dalam mimpiku." Yasmin mengangguk mendengar penjelasan Yusuf.


"Pantas saja," gumam Yasmin.


"Pantas kenapa dek?" tanya Yusuf


"Pantas aku juga sering melihat wajah kakak dalam mimpiku 2 tahun yang lalu, tapi itu bermula saat terkahir kita bertemu di rumah sakit." Terang Yasmin.


"Masya Allah.. benarkah? itukah sebabnya kamu lebih memilih aku yang hanya mengajakmu ta'arruf dibanding pria yang waktu itu melamarmu? tanya Yusuf dan Yasmin mengangguk.


"Oleh karena itu, sebelum mencintai seseorang maka cintai dulu Tuhanmu, dan sebelum merayu seseorang, rayulah dulu Tuhanmu, sebab puncak dari kekuatan cinta ada pada Tuhan yaitu Allah, Dialah yang mampu membolak-balikkan hati manusia, menumbuhkan cinta dalam hati yang gersang, atau bahkan mematikan cinta dalam hati yang penuh kasih sayang." Yusuf menangkup kedua pipi Yasmin yang kini bersemu merah.


"Kak, Seni seviyorum," lirih Yasmin yang membuat Yusuf mengerutkan keningnya.


"Kamu bicara apa tadi sayang? kakak nggak ngerti," tanya Yusuf.


"Itu bahasa Turki kak, kakak mau tahu artinya?" Yusuf mengangguk mantap, "Ya udah sini sini," lanjut Yasmin sembari memberikan kode kepada Yusuf agar mendekat karena ia ingin membisikkan sesuatu.


"Artinya, aku cinta kamu," bisik Yasmin lalu berlari meninggalkan Yusuf setelah mengecup pipi suaminya itu.


Untuk sesaat, Yusuf tercengang dengan apa yang barusan istrinya lakukan. Namun, sesaat kemudian ia tersenyum bahagia sembari memegangi pipinya.


"Awas kamu yah," seru Yusuf lalu berlari mengejar istrinya yang sudah lebih dulu berlari jauh


--


"Abang abang.. aku mau coba yang ini," seru Anna sangat antusias yang saat ini sedang menikmati jajanan khas Turki bersama Wildan.


Benar, setelah menikah, Anna memanggil Wildan yang kini telah menjadi suaminya dengan sebutan 'abang'.


*Flashback*


"Oh iya sepertinya ada yang harus aku luruskan sekarang," tukas Wildan.


Anna mengerutkan dahinya, "meluruskan apa?" tanya Anna.

__ADS_1


"Panggilan kamu ke aku, masa hanya sebut nama, jarak usia kita selisih 10 tahun loh, apalagi sekarang kamu itu sudah menjadi istriku, pasangan halalku," protes Wildan.


"Lalu aku harus memanggilmu apa? kakak, abang, mas, atau karena jarak kita yang cukup jauh, bagaimana kalau aku panggil kamu daddy saja?" canda Anna menahan tawanya saat melihat raut wajah Wildan yang seketika berubah suram saat mendengar panggilan Daddy dari mulut Anna.


"Enak aja, memangnya aku sugar daddy kamu apa," dengus Wildan


"Canda suami, hehe.. gimana kalau abang aja?" tawar Anna.


"Boleh lah daripada kamu memanggilku daddy" ujar Wildan membuat Anna terkekeh geli.


* Flashback off*


"Iya iya sayang, nikmati saja apa yang kamu suka, mumpung kita lagi di Turki." Wildan dengan setia mengikuti kemana langkah kaki Anna membawanya.


"Abang, coba deh, ini enak banget menurutku, rasanya manis dan teksturnya kenyal" tawar Anna memberikan makanan yang bernama lokum kepada Wildan.


"Emm.. beneran enak yah," ujar Wildan membuat Anna tersenyum puas.


"Kalau aku bungkus boleh yah bang?"


"Boleh, asal nanti beneran dimakan, jangan sampai mubazzir loh," jelas Wildan.


"Siap," jawab Anna sambil mengangkat tangannya memberi hormat pada Wildan.


"Gemesin banget sih kamu." Wildan mencubit kedua pipi Anna gemes membuat Anna mendengus dan memanyunkan bibirnya.


"Udah udah, bibirnya jangan dimonyong-monyongin kayak gitu, bahaya loh, nanti nggak kembali gimana?"


"Ih abang doain Anna yah?"


"Nggak sayang, cuma diingetin kok"


"Tapi kata Yasmin 'alkalamuddu'a' perkataan adalah doa," celoteh Anna membuat Wildan semakin gemas.


"Ya Allah.. istri siapa sih ini..." kata Wildan kembali mencubit kedua pipi Anna.


"Ish.. abang ngeselin deh, sakit tau," sungut Anna lalu pergi meninggalkan Wildan yang tertawa puas.


"Ann.. sayang.. tungguin abang dong, aduh ngambek deh dia," tukas Wildan berjalan cepat mengejar Anna yang mulai menjauh.


-Bersambung-

__ADS_1


Yuk dukung karya author dengan like, koment dan vote novel ini agar author lebih semangat lagi update cerita selanjutnya.


__ADS_2