
Keesokan harinya di kediaman Paman Raziq
"Silahkan utarakan apa tujuanmu kesini nak." Bibi Rima mempersilahkan Wildan yang saat ini telah berada di rumahnya beserta Ibu Sukma dan suadaranya, Ummi Ulfa dan Abi Hasan.
"Begini tante, kedatangan saya kemari ingin melamar Anna sekaligus menikahinya hari ini juga," Anna yang sejak tadi terdiam seketika matanya membulat mendengar penuturan Wildan.
"Apa? menikah? saat ini juga?" batin Anna tidak percaya.
"Maksud nak Wildan bagaimana yah?" Bibi Rima kembali memastikan maksud perkataan Wildan.
"Begini om, tante, kedatangan saya dan keluarga saya kesini ingin melamar Anna secara resmi dihadapan om dan tante, dan jika berkenan, saya juga ingin langsung menikahinya," papar Wildan.
"Apakah itu tidak terlalu mendadak nak?
Bahkan kita belum meminta pendapat Anna," tukas Paman Raziq.
"Anna, gimana nak? apa kamu mau menerima lamaran Wildan?" Anna terdiam sejenak mendengar pertanyaan tante Rima.
"Sebenarnya, Anna bersedia menikah dengan Wildan, tapi jika harus menikah saat ini juga Anna rasa itu agak sulit, karena banyak yang harus di siapkan, sementara Anna tidak ingin nikah siri." jawab Anna.
"Aku tidak akan mengajakmu nikah siri Anna, aku sudah mempersiapkan semua berkas dan pendaftaran nikah kita beberapa hari lalu setelah kamu menerimaku." Tutur Wildan.
Anna kembali terkejut, 'sesiap ini kah Wildan menikahinya?' begitulah yang dipikirkan Anna saat ini.
"Kenapa nak wildan ingin menikah secepat ini? Paman Raziq bertanya kembali.
"Saya hanya ingin menjaga Anna seutuhnya om, tante. Saya benar-benar takut jika kejadian yang menimpa Anna beberapa waktu lalu kembali terulang, apalagi kata Yasmin, teman-teman Anna kebanyakan cowok," jawab Wildan jujur.
Anna terenyuh mendengar jawaban Wildan. Ia benar-benar tidak menyangka dengan ketulusan Wildan dalam menjaganya. Kembali memori saat malam di Toraja terputar, saat dimana Wildan mengatakan bahwa ia ingin menjaga Anna, namun Anna tidak mempercayainya, bahkan ia malah mengatakan bahwa Wildan adalah orang yang harus di waspadai. "Sungguh saat itu, Wildan pasti sangatlah kecewa padaku," pikirnya.
"Bagaimana Anna?" tanya paman Raziq membuyarkan lamunan Anna.
"Anna mengikut gimana baiknya saja kalau begitu," lirih Anna.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu, kita siapkan semuanya untuk pernikahan Wildan dan Anna hari ini," seru paman Raziq.
"Saya sudah menyiapkan semuanya om, saya mohon izin untuk menyiapkan segala sesuatunya di dalam rumah om dan tante," kata Wildan dan dijawab anggukan oleh paman Raziq dan bibi Rima. Wildan kemudian memberikan kode pada Doni asistennya yang berada diluar rumah.
Tak lama kemudian, Anna dan keluarga tercengang ketika beberapa orang datang membawa hantaran, beserta sebuah kotak besar berisi baju kebaya modern yang indah lengkap dengan pakaian untuk pria, sepatu dan jilbab. Setelah itu, datang juga beberapa wanita yang akan mendandani Anna, menghias ruangan dan kamar Anna, serta fotografer untuk mengabadikan momen sakral mereka.
Belum sampai disitu, Anna dan keluarga kembali dibuat tak bisa berkata-kata, saat beberapa orang datang membawa makakan cathering untuk acara makan-makan keluarga Anna dan tetangga sekitar.
Dan terakhir, datang penghulu dan wali hakim, disebabkan Ayah Anna dan kakek dari Ayah Anna sudah meninggal, sementara Adik dari Ayah Anna hanya 1 yaitu tante Irma yang ada di Toraja dan Anna adalah anak tunggal. Paman Raziq sendiri adalah adik dari almh. Ibu Anna sehingga tidak bisa menjadi wali nikah Anna.
Paman Raziq dan Bibi Rima benar-benar tidak menyangka dengan apa yang saat ini terjadi, mereka hanya diam melihat beberapa orang yang tengah sibuk menghias rumah, menyajikan makanan prasmanan dan lain-lain.
"Apa ini sudah termasuk resepsinya nak? jika memang begitu berarti tante harus menghubungi anak-anak tante dulu, kasihan mereka jika tidak hadir di acara pernikahan adik mereka." Bibi Rima menghampiri Wildan yang berdiri di dekat pintu rumah.
"Ini hanya untuk aqad tante, untuk acara resepsinya nanti, kita bisa bicarakan ulang waktu yang tepat insya Allah," terang Wildan.
Sungguh, tekad Wildan untuk menikahi Anna saat itu juga tak bisa dianggap remeh. Itulah sebabnya Wildan jauh lebih unggul dibanding pria lain yang pernah Anna kenal, Wildan selalu membuktikan apa yang dia katakan, bukan sekedar melempar janji apalagi menjual gombalan semata.
-
"Saya terima nikahnya Anna Embong Bulan binti Hendra alm dengan mas kawin tersebut tunai karena Allah."
"Sah"
"Sah"
"Alhamdulillah," Wildan mengusap wajahnya dengan lembut saat satu bulir air mata berhasil lolos ke pipinya.
Ia benar-benar bersyukur, akhirnya ia dan Anna kini benar-benar telah dipersatukan dalam ikatan pernikahan.
Anna yang sejak tadi duduk di belakang Wildan, kini dipersilahkan untuk maju dan duduk disamping Wildan.
Rasa yang dulu terasa biasa-biasa saja saat berada dalam jarak dekat, kini berubah menjadi rasa gugup yang sangat indah bagi Anna.
__ADS_1
Perlahan Wildan meraih tangan Anna yang sudah sangat dingin untuk dipakaikan cincin pernikahan, "dingin sekali tanganmu Anna," bisik Wildan sembari menyematkan cincin ke dalam jari manis Anna.
"Yah mau gimana lagi, sudah menjadi konsekuensi kalau lagi gugup," jawab Anna asal ikut berbisik, membuat Wildan tersenyum samar dibalik kegugupannya.
Kini giliran Anna yang meraih tangan Wildan lalu mencium punggung tangannya, kemudian dilanjutkan dengan Wildan memegang ubun-ubun Anna sembari mendoakannya, lalu ia mencium kening Anna.
Cukup lama Wildan mencium kening Anna , seolah ia menyalurkan rasa rindu yang selama ini ia tahan selama ia berada di Malaysia. Anna menikmati kecupan Wildan dikeningnya, hatinya menghangat dan rasanya sangat nyaman menurutnya.
Setelah melalui beberapa prosesi pernikahan, kini Ummi Ulfa dan Abi Hasan datang menghampiri keduanya.
"Selamat yah nak atas pernikahan kalian hari ini, Ummi benar-benar nggak nyangka kalau hari ini juga kalian akan nikah loh, coba tahu pasti Ummi sudah melarang Yusuf dan Yasmin untuk bulan madu dulu supaya bisa menyaksikan pernikahan kalian," celoteh Ummi membuat Wildan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Yaa maaf Ummi, habisnya Wildan udah nggak tahan," mata Anna membola menatap Wildan saat mendengar jawaban ambigu Wildan yang kini telah sah menjadi suaminya.
"Haha bisa aja kamu Wil.." gelak Ummi Ulfa memukul tangan Wildan dengan pelan.
"Karena kalian nikah mendadak, maka Abi dan Ummi hanya bisa kasi kalian hadiah ini, sama seperti hadiah Yusuf dan Yasmin." Abi Hasan memberikan amplop berisi paket bulan madu di Turki.
"Masya Allah, terima kasih banyak Abi, Ummi," ucap Wildan lalu mencium tangan Abi Hasan dan Ummi Ulfa bergantian dan diikuti dengan Anna melakukan hal yang sama.
"Berarti kita akan bulan madu bersama Yasmin dan kak Yusuf dong, asik," seru Anna antusias.
"Iya betul, oh iya sepertinya ada yang harus aku luruskan sekarang," tukas Wildan.
-Bersambung-
Sedikit penjelasan tentang wali nikah Anna,
Para ulama sepakat, orang yang paling berhak menjadi wali adalah ayah si perempuan. Namun, bila tidak ada ayah yang disebabkan meninggal dunia (wafat), maka walinya adalah dari kerabat si mempelai perempuan dari pihak laki-laki.
Mereka adalah kakek dari pihak ayah, saudara laki-laki, paman dari pihak ayah, anak laki-laki paman dari pihak ayah, dan seterusnya. Sedangkan dari pihak ibu, baik kakek, paman dari ibu, saudara laki-laki se-ibu, bukanlah wali dalam pernikahan. Karena mereka bukan ‘ashabah, tapi dari kalangan dzawil arham. (Fath al-Bari, 9/235, al-Mughni, kitab An-Nikah, fashl La Wilayata lighairi al-‘Ashabat min al-Aqarib).
Yuk dukung karya author dengan like, koment dan vote novel ini agar author lebih semangat lagi update cerita selanjutnya.
__ADS_1