Kisah Cinta Dua Mutiara

Kisah Cinta Dua Mutiara
36. Sahabat Lama


__ADS_3

Hari berganti hari, malam yang sepi kini mulai pergi, menyisakan udara sejuk yang turut mengantarkan alunan suara indah memanggil sang hamba untuk kembali menghamba pada Sang Khaliq.


Seorang gadis dengan rambut panjang ikal mulai membuka mata, ia yang terbiasa dibangunkan saat subuh kini telah terduduk tanpa bantuan sahabat yang sudah seminggu ini meninggalkannya ke kampung halaman. Shalat subuh yang kadang begitu sulit ia laksanakan seakan berlalu begitu saja membuatnya dapat menyelesaikannya dengan mudah.


Rasa sepi kembali menyeruak diruangan itu takkala ia keluar kamar, dan mendapati tak ada seorang pun disana kecuali dirinya.


"Hufth, aku pikir udah setahun Yasmin ninggalin aku disini? eeehh ternyata baru seminggu, bosaaaan" gumam Anna menggerutu sendiri.


Bosan dan kesepian itulah yang ia rasakan, meskipun hampir setiap hari ia akan VC bersama Yasmin, namun, seperti kata Yasmin kala itu, melepas rindu lewat VC dan bertemu langsung itu jelas berbeda.


Kali ini, Anna mencoba melatih kemampuan masaknya, kalau kemarin ia telah pandai membuat nasi goreng, kali ini ia akan mencoba resep baru yang ia ambil di google.


Saat sedang sibuk memasak, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.


Tok tok


"Siapa yah yang datang pagi-pagi buta begini?" gumamnya sambil berjalan untuk membuka pintu.


"Assalamu 'alaikum.. haii Anna, masih ingat aku?" ucap seorang pria tinggi dan berkulit putih.


Anna mengerutkan keningnya, "Siapa yah?" tanyanya kemudian merasa tak mengenal pria tersebut.


"Astaga, aku Ryan Anna, teman kecil kamu dulu, masa kamu nggak ingat sih?" jawab Ryan.


"Ryan? Ryan.. Ryan..." Anna mencoba mengingat nama itu dan menyesuaikan wajah anak kecil yang ada dalam ingatannya dengan wajah pria yang ada di hadapannya sekarang.

__ADS_1


"Oooh ternyata kamu, gila, kamu Power ranger ya? aku sama sekali nggak mengenali perubahan kamu" celoteh Anna sembari memukul pundak Ryan.


"Hahah bisa aja kamu, barbarmu nggak berubah-berubah yah" gelak Ryan.


"Kayaknya sifat barbar aku ini sudah mendarah daging, hahaha" kata Anna tertawa lepas.


"Ann, aku nggak dipersilahkan masuk nih?" tanya Ryan basa basi.


"Sorry Yan, cowok nggak boleh masuk ke dalam rumah ini kecuali keluarga atau dalam keadan genting" terang Anna membuat Ryan sedikit malu.


"Kalau mau ngomong, kamu duduk aja disini Yan, ini memang dipersiapkan buat tamu cowok" kata Anna menunjuk kursi yang berada di teras depan rumah, "kamu duduk disini dulu aku buatin minum" lanjutnya kemudian masuk ke dalam rumah.


Beberapa menit kemudian


"kamu tau dari mana kalau aku tinggal disini?" tanya Anna sambil ikut duduk di samping meja yang berada diantara Ryan dan Anna.


"Dari paman kamu lah, kemarin aku sempat ke rumah paman kamu, tapi kata paman, kamu lagi ngontrak dekat kampus kamu, jadi baru deh hari ini aku bisa ketemu sama kamu" papar Ryan.


"Ooh gitu" kata Anna singkat.


Mereka berbincang-bincang cukup lama, saling mengenang masa kecil mereka yang sangat dekat seperti prangko, dimana ada Ryan disitu ada Anna begitupun sebaliknya. Ryan juga pernah bermain acaa nikah-nikahan dengan Anna (seperti yang pernah ia ceritakan dulu pada Yasmin). Bahkan Ryan pernah berjanji akan menjadikan Anna sebagai pasangan pengantin sesugguhnya dimasa depan kelak.


Benar saja, Anna adalah cinta pertama Ryan yang saat itu berumur 8 tahun, namun, beda dengan Anna yang saat itu masih berusia 6 tahun sangat polos tak mengerti tentang cinta apalagi nikah.


Setelah menyelesaikan kuliahnya di Amerika, ia memilih kembali ke tanah air. Selain karena ia ingin membantu ayahnya menjalankan perusahaan keluarga, ia juga ingin mengejar kembali cinta pertamanya.

__ADS_1


--


Pagi hari Di Makassar


Yasmin saat ini sedang duduk di dekat jendela, pandangannya lurus kepada anak-anak yang sedang bermain bersama di pagi hari yang cerah. Tidak terasa sudah seminggu ia di Makassar, jujur ia sangat merindukan sahabatnya.


Tok tok


Cekrek


Ayah masuk ke dalam kamar Yasmin setelah mengetuknya terlebih dahulu.


"Nak, berapa lamaki mau ta'arruf dengan Yusuf?" (Nak, mau berapa lama kamu ta'arruf sama Yusuf?). Tanya Ayah Syawal.


"Mungkin sekitar satu bulan Ayah, nanti saya cari tau info-info tentang kak Yusuf di Ibu Rina" jawab Yasmin.


"Bagus nak, ta'arruf itu tidak perlu dilakukan lama-lama, karena niat awalnya memang untuk nikah, jika memang kalian sudah merasa cocok satu sama lain, maka segeralah menikah. Niat baik tidak boleh ditunda-tunda, karena setan selalu mempunyai cara untuk menghalangi sebuah niat baik dan menodai sebuah niat suci" papar Ayah membuat Yasmin mengangguk paham apa maksud Ayahnya.


"Oh iya pulanglah malam ini nak, Ayah sudah sehat, Ayah tidak ingin karena alasan menjaga Ayah, kamu jadi meninggalkan kuliahmu, apalagi saat ini kamu sedang PKL, pasti tidak nyaman melakukan PKL sendiri saat teman-temanmu sudah selesai dengan PKLnya dan kamu masih harus mengganti hari PKLmu yang tertinggal" lanjut Ayah lagi sebelum berbalik keluar kamar.


Yasmin yang mendengarnya pun terkejut, rencana dia disini adalah dua minggu, namun sang Ayah sudah menuruhnya kembali ke Jakarta saat ia baru seminggu di Makassar. Memang benar, jika ia tidak segera kembali ke Jakarta, maka ia harus mengganti PKLnya selama 2 minggu itu sendiri.


-Bersambung-


Yuk dukung karya author dengan like, koment dan vote novel ini agar author lebih semangat lagi update cerita selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2