Korban Rahim Sewaan

Korban Rahim Sewaan
Bonus


__ADS_3

Eva dan Toni masih duduk menunggu di ruangan praktek dokter Danis dengan harap-harap cemas.


Mereka tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya pada mereka, bagaimana nasib mereka setelah mengetahui anak yang di kandung Eva memiliki kekurangan bahkan sebelum dia di lahirkan.


"Eva kau tak usah cemas...ini sudah merupakan resiko mereka bukan...kau hanya tempat untuk bertumbuhnya bayi itu...dan kau sudah menjalankan semua yang di perintahkan oleh mereka dengan baik bukan...kau tak perlu khawatir...kita akan tetap mendapatkan uang itu..."


kata Toni mencoba menenangkan Eva.


"Tapi perasaanku mengatakan akan terjadi suatu hal yang tak baik Toni...aku takut mereka akan menyalahkanku karna kecacatan bayi ini...mereka akan menuduh rahimku tak bagus...makanya bayi ini bisa mengalami kecacatan itu..."


terang Eva dengan air mata yang masih mengalir.


"Tidak Eva percayalah...tak akan terjadi apapun padamu...aku akan selalu ada di sampingmu...membelamu..jika mereka memang menyalahkanmu atas kecacatan bayi itu..."


Eva hanya bisa menangis apalagi saat jam mulai berganti Daniel dan Arsana yang tak kunjung kembali.


Sementara yang berada di ruangan khusus, mereka bertiga sedang berbincang.


"Sudah dok, sekarang tugas awal untukmu beri dia vitamin seperti biasanya..dan katakan bahwa kami sebentar lagi akan menemuinya lagi..."


"Apa kalian akan melarikan diri dari sini.."


tanya dokter Danis kepada Arsana.


"Tidak akan dok...kami tak akan setega itu padanya..."


kata Arsana sambil duduk di sofa di sebelah Daniel.


"Lalu kenapa kalian tega berniat meninggalkan Eva tadi.."


"Kami harus bagaimana lagi dok...lagi pula kau yang tak mau mengugurkannya kan..."


jawab Arsana acuh.


"Aku tak mau nona karna membunuh bukanlah keahlianku..dan aku tak bisa melakukan itu..lagi pula itu adalah tindakan yang ilegal....jika aku ketahuan melakukannya aku bisa di denda atau bahkan di penjara karnanya..."


"Jelas saja kami akan merahasiakan ini dok dari siapapun...kau tak perlu khawatit"


"Tapi nona Eva...bagaimana dengannya..bagaimana kalau dia tak bisa bertahan...."


Arsana dan Daniel hanya terdiam tak mengatakan apapun. cukup lama ketiganya terdiam disana hingga akhirnya Daniel membuka suaranya.


" Temui dia seperti biasanya...jangan mengatakan apapun lagi....hanya katakan setelah ini aku akan menemuinya lagi.."


'Tapi apa kalian akan benar- benar menemuinya lagi.."


"Tentu saja dok aku yang akan menemuinya.."

__ADS_1


"Baiklah aku akan menemuinya sekarang juga..."jawab dokter Danis pada Daniel sambil beranjak dari duduknya.


Dokter Danis pun kembali memasuki ruang prakteknya, dia masuk dan melihat Eva tengah menangis sementara Toni tengah berusaha menenangkannya.


Dokter Danis masuk dengan membawa senyum yang ceria seperti biasanya.


" Hey nona Eva....apa yang sedang anda lakukan...kenapa menangis..."


tanya lembut dokter Danis pada Eva.


" Dokter katakanlah dimana tuan Daniel dan nona Arsana sekarang..."


melihat kedatangan dokter Danis, Toni segera saja menanyakan keberadaan Daniel dan Arsana.


"Mereka sedang berada di ruang sebelah tuan..ada apa memangnya...."


"Syukurlah..kalau mereka masih berada disini dan tetap bertanggung jawab atas bayi ini..."


"Memangnya tuan Toni mengira mereka kemana..melarikan diri.."


"Bukan begitu hanya saja takut mereka menyalahkan semua ini karna Eva dok..."


"Tidak tuan...maaf tadi mungkin mereka terkaget dengan kondisi bayi ini...mereka masih butuh waktu untuk menerima keadaan bayi mereka..."


"Lalu sekarang apa mereka sudah bisa menerimanya dok.."


"Tentu saja nona...bayi ini anak mereka....mereka akan tetap menerimanya..untuk.itu tenanglah nona..jangan menangis lagi ya...semua akan baik-baik saja..."


jawab dokter Danis menenangkan Eva lagi.


Mendengar perkataan dokter Danis mereka pun akhirnya lega, dan mendengarkan semua penuturan dokter Danis mengenai vitamin-vitamin yang di berikan pada Eva sekarang.


Eva sudah kembali tersenyum karna beberapa godaan yang di lontarkan oleh dokter Danis. Mereka pun keluar dari ruangan dokter Danis hendak pulang ke villanya.


Tapi baru saja keluar dari ruang dokter Danis, mereka di hadang oleh Daniel yang tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka.


" Maaf baru saja aku ingin masuk...tapi kalian sudah selesai rupanya..."


sapa Daniel tiba-tiba.


"Tak apa tuan Daniel..Eva sudah selesai dengan pemeriksaannya...dia mendapatkan vitamin seperti biasanya..."


jawab Toni melihat kehadiran Daniel, Toni tersenyum ramah seperti biasanya.


"Tentu...karna itu untuk kesehatan anak ku kan..."


jawab Daniel yang tiba-tiba saja memegang perut Eva dan mengusapnya lembut.

__ADS_1


Eva sampai terperanjat karna tingkah Daniel dia merasa canggung sendiri.


"Ahh ya tentu tuan Daniel.."


jawab sembarang Eva.


"Ini...bonus untuk kalian...semoga kalian.gunakan dengan baik-baik ya..."


Daniel memberikan amplop coklat ke tangan Eva, memegang tangannya dan mencoba menggenggamkan amplop itu di tangan Eva.


Eva dan Toni pun saling memandang, merasa heran dengan tingkah Daniel yang satu ini. Karna baru kali ini dia melakukannya, memberikan uang secara langsung pada Eva. Mereka juga heran pasalnya tadi mereka takut Daniel dan Arsana tak akan menerima anak mereka, tapi sekarang Daniel malah memberikan uang bonus pada mereka.


"Tapi tuan ini untuk apa.."


tanya Eva.


"Terserah kau...ini bonus dariku untukmu..."


jawab Daniel sambil tersenyum dan melepas perlahan tangannya.


Eva pun tersenyum dengan cerahnya, baru kali ini dia mendapatkan uang dari Danis, setelah hampir 5 bulan menjaga anak dalam kandungannya.


"Kalau begitu terimakasih tuan..."


"Sama-sama Eva..berhati-hatilah dalam apapun ya...jaga anak saya dengan baik.."


jawab Daniel singkat.


"Baik tuan...terimakasih.."


jawab Eva lagi.


Setelah itu mereka pulang ke villa kembali, dan menjalani hari-hari seperti biasanya. Sampai waktu berlalu satu minggu kemudian.


Toni yang pagi itu sudah terbiasa bangun di jam 6 pagi, merasakan hal yang aneh. Tidak biasanya rumah terdengar sunyi. Biasanya saat dia bangun di jam 6 pagi. Sudah terdengar sayup-sayup riuh para pelayan dengan tugas mereka masing-masing.


Terutama di bagian dapur yang menyiapkan makanan untuk sarapan pagi.


Toni berjalan ke kamar mandi, melaksanakan rutinitas mandi pagi. Lalu segera bergegas keluar kamar melihat apakah yang terjadi hingga villa yang di tinggalinya terasa aneh hari ini.


Setelah Toni keluar dari kamar, dia tak melihat satu pun pelayan yang biasanya berada di dapur sibuk dengan masakan mereka.


Dia juga tak melihat satu pun pelayan yang membersihkan rumah setiap pagi. Semua tampak sunyi dan senyap.


Di lihatnya di meja makan, nampak masih mengkilap tak ada satu pun makanan yang terhidang disana, atau pun bau masakan yang tercium. Toni melihat jam lagi .


"Sudah jam setengah 7 pagi....sebenarnya apa yang terjadi...kemana para pelayan pergi...."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2