
Toni dan Eva pun menyusul Tama beserta para pelayannya di tepian pantai. Bermain-main disana dengan Tama.
Mereka menemani Tama yang sedang bermain pasir, menumpuk-numpuknya membuat istana dari pasir.
Eva sendiri sedang duduk di samping para pelayan, dia melihat Toni yang sedang tertawa-tawa senang menggodai Tama dan menemaninya bermain.
Eva memandang semua itu dengan rasa penuh bahagia, sesekali Eva meraba kalung yang saat ini di kenakannya. Kalung itu adalah hadiah pertama pernikahannya, juga hadiah pertama yang dia dapatkan dari cinta pertamanya.
Liburan di teruskan menuju tempat wisata yang menyediakan berbagai wahana yang seru. Baik Eva dan para pelayannya, juga Tama dan Toni bersenang-senang sampai malam menjelang.
Toni dan Eva tak pernah membeda-bedakan status mereka dan para pelayannya, mereka makan di meja yang sama, makanan yang sama. Juga tinggal di villa yang sama. Eva dan Toni sangat menghargai pelayanya, karna keduanya juga pernah berada di posisi mereka. Menjadi orang yang kurang beruntung dalam kehidupan.
Untuk itu Eva dan Toni menganggap semua pelayannya sama dengan mereka. Tak jarang Eva dan Toni juga membagi-bagikan uang, pakaian atau pun kebutuhan pokok pada para pelayannya secara cuma-cuma sebagai rejeki tambahan untuk keluarga mereka.
Malam itu Tama baru saja tertidur, setelah meminum ASInya. Tama tertidur di box bayi khusus yang sudah di sewa Toni sebelumnya. Eva dan Toni sendiri tidur tak jauh dari box itu, di sebuah ranjang bergaya eropa dengan ukuran super besar, juga busa yang super empuk.
"Mungkin kita harus mengganti ranjang kita dengan merk yang sama seperti ini...sungguh ranjang ini nyaman sekali..."
kata Eva sambil menekan-nekan ranjang yang sedang di dudukinya.
"Menurut ku ini kurang nyaman sayang..."
kata Toni dengan menaikkan kedua alisnya.
"Ini nyaman sekali sayang..malah jauh lebih nyaman dari ranjang milik kita di rumah..."
kata Eva menekankan kata-katanya.
"Ranjang manapun tak akan nyaman sebelum kita mencobanya..."
kata Toni menatap Eva dengan senyuman menyeringai.
Eva pun yang mengerti arti tatapan Toni segera tertawa lebar.
__ADS_1
"Haha...memangnya apa yang akan kau lakukan sayang...emm...aku lelah sekali..aku ingin tidur sepertinya..."
sudah berakting dengan memijit-mijit bahunya sendiri, memalingkan wajah membelakangi Toni.
"Aku tak menyuruhmu untuk melakukan apapun...hanya baringkan tubuhmu dan temani aku malam ini...itu mudah bukan..."
kata Toni sudah ada di belakang Eva memeluk tubuh Eva yang sudah ingin menjauh darinya.
"Apa kau yakin hanya akan berbaring saja..."
kata Eva dengan tersenyum lebar menggodai Toni.
"Ya...kita lihat saja nanti..."
kata Toni, di akhir kalimatnya sudah menciumi bagian belakang leher Eva dengan bersemangat.
Dan akhirnya mereka pun melakukan aktivitasnya sepanjang malam untuk yang pertama kalinya, dengan suara yang sedikit tertahan karna takut membangunkan Tama yang berada di kamar yanag sama.
Hingga waktu sudah menunjukkan tengah malam, Tama tiba-tiba terbangun dan menangis. Dengan segera Eva pun berdiri meraih daster tipisnya dan segera menggendong Tama.
kata Toni kesal merebahkan dirinya sambil memandang Eva yang sudah beranjak dari ranjang.
Eva sendiri menggendong Tama dan segera menyusuinya.
"Sungguh terimakasih sayang..kau telah menyelamatkan ibumu malam ini..."
gumam Eva sambil tersenyum lega.
Eva dan Toni yang sedang memulai babak baru dalam hidup mereka, merasakan keindahan dan kebahagiaan dalam rumah tangganya. Kehidupan mereka kini di penuhi dengan kebahagiaan seakan, segala kesedihan dan juga kesusahan hilang dari dunia mereka. Mereka seperti sedang menikmati keindahan pelangi setelah turunnya hujan badai yang beberapa waktu lalu menerjang mereka. Kini semua terasa sempurna,bahkan senyum pun selalu tergambar di wajah mereka setiap harinya.
Keadaan berbeda dirasakan di kediaman mewah Arsana dan Daniel sekarang.
Mereka berdua tengah bertengkar karna Daniel yang menyalahkan Arsana, yang tak bisa menjaga kehamilannya hingga dia mengalami keguguran.
__ADS_1
"Itu semua karna salahmu...aku sudah berusaha memberitahumu untuk kau berhenti dengan pekerjaan itu..tapi kau keras kepala...dan sekarang inilah yang aku takutkan...kita kehilangan bayi kita lagi...."
kata Daniel menatap kesal pada Arsana.
"Aku tak bisa Daniel...aku tak bisa meninggalkan pekerjaanku...kau tau sendiri inilah impianku sejak lama...menjadi artis terkenal...aku tak bisa meninggalkan pekerjaanku begitu saja...lagipula aku juga mendapatkan penghasilan yang lumayan dari pekerjaanku ini..."
"Apa lagi yang kau harapkan...aku bahkan juga mampu menghidupimu meski kau tak bekerja lagi....berhentilah beberapa tahun sampai kita memiliki anak....setelah itu aku tak akan melarangmu melakukan apapun..."
"Ya aku tau...tapi aku sungguh tak bisa meninggalkan dunia modelingku....aku mampu Daniel...aku mampu bekerja meski dalam keadaan hamil...itu tak akan sulit...hanya saja memang kemarin aku kelelahan karna banyaknya jadwal pemotretan...tunggulah untukku hamil lagi...maka aku akan membuktikan bahwa aku bisa ...dan aku akan lebih menjaganya lagi..."
jawab Arsana masih teguh dengan pendiriannya.
"Terserah kau lah....kau memang wanita keras kepala..."
kata Daniel sambil berlalu pergi.
Arsana sendiri hanya menatap kepergian Daniel dengan wajah sedihnya. Tak terasa airmatanya mengalir begitu saja di pipinya. Arsana merasa sedih karna baru saja kehilangan bayinya, dia juga baru saja keluar dari rumah sakit setelah menjalani perawatan pasca keguguran yang dia alami.
Tapi baru saja pulang, teryata Daniel sudah memarahi dirinya. Memintanya untuk meninggalkan dunia modelling yang selama ini menjadi mimpi Arsana.
Arsana sendiri saat ini tengah berada di posisi tertinggi karirnya, dia tak akan berhenti begitu saja. Tapi di sisi lain dia juga menginginkan kehadiran seorang bayi dari rahimnya. Karna dia tau Daniel yang sangat berharap untuk memiliki anak dengannya. Arsana takut jika saja dia tak dapat menghasilkan keturunan untuk Daniel. Daniel akan meninggalkannya pergi bersama wanita lain.
Cinta Arsana pada Daniel yang begitu besar membuatnya berada dalam sebuah dilema. Dia harus memilih untuk bertahan pada pekerjaannya, atau berhenti dan menjadi ibu rumah tangga sesuai permintaan Daniel.
Tapi bukan Arsana namanya jika dia tak keras kepala dan lebih memilih untuk mementingkan keinginannya. Beberapa bulan setelah keguguran, dia mendapatkan kehamilan lagi.
Daniel sudah memintanya untuk beristirahat di rumah, sampai bayinya terlahir. Tapi Arsana teguh pada pendiriannya tetap bekerja sebagai model.
Arsana terus saja berkata pada Daniel, bahwa dia mampu bekerja dalam keadaan hamil.
Hingga usia kandungan yang menginjak 6 bulan, Arsana kembali mengalami keguguran. Bahkan bayinya terlahir di area pemotretannya kala itu.
Dia kala itu melihat bayinya yang sudah berbentuk bayi sempurna dengan wajah cantiknya. Tapi sudah dalam keadaan yang tak bernyawa, akibat kejadian itu Arsana sangat terpukul sampai di rawat di rumah sakit selama berminggu-minggu.
__ADS_1
Belum lagi dia yang harus menerima kemarahan Daniel yang menyalahkannya atas kejadian itu.
Bersambung...