Korban Rahim Sewaan

Korban Rahim Sewaan
Kamar baru


__ADS_3

"Memang sebuah tantangan tersendiri membesarkan seorang anak..apalagi untuk kau Daniel yang harus mengasuh dan bekerja..."


kata Ranika pilu mendengarkan segala kisah tentang hidup Daniel sekarang.


Daniel pun hanya dapat menunduk malu pada Ranika, karna dia sebenarnya juga menyesal telah meninggalkan Arsana yang bahkan dulu sudah mulai mau merubah sikapnya dan segala tentang kehidupannya.


Hendak bertanya tentang Arsana, Tapi tiba-tiba Ranika mengeluarkan sejumlah uang dari tasnya, uang ratusan ribu senilai 5 juta rupiah.


"Ini....bawalah...bukalah sebuah usaha di rumah...bekerjalah dari rumah sambil mengasuh anakmu...apapun itu...itu akan lebih baik...dari pada kau harus membawanya bekerja bertemu dengan banyak orang seperti itu..."


kata Ranika sambil menggengamkan uang pada tangan Daniel.


"Tidak ma...mama sudah cukup membantuku dengan membayar segala perawatan anakku...aku tak mau merepotkan mama lagi..."


Daniel berusaha menolak uang itu, karna dia merasa malu sebagai seorang lelaki yang sudah dia nilai sendiri tak mampu menghidupi anaknya.


"Ambilllah...ini..."


hendak berkata lagi tapi seorang perawat datang dan berkata.


"Nyonya Ranika...kepulangan jenazah sudah siap...di mohon untuk ke ruang administrasi untuk menandatangani beberapa laporan .."


Mendengar hal itu seketika Daniel terbelalak, dan bertanya pada Ranika yang sudah mulai beranjak dari duduknya.


"Siapa yang meninggal ma..."


Ranika yang sudah berjalan mengikuti perawat itu berhenti dan berkata hanya dengan satu kata.


"Arthur..."


lalu langkahnya kembali terayun.


Mendengar mantan ayah mertuanya yang meninggal, Daniel pun terkejut. Dia sedikit menghawatirkan Arsana, karna dia tau bahwa Arsana sangat dekat dengan Arthur. Tapi Daniel juga heran dimana Arsana sekarang karna sama sekali Daniel tak melihat kehadiran Arsana disana.


"Arsana...apa Arsana sudah tau ma...dimana dia..."


kata Daniel meneriaki Ranika yang sudah mulai menjauh.


Ranika mendengar teriakan itu, tapi dia enggan untuk berhenti dan menjawabnya, dia terus melangkah meninggalkan Daniel sendiri disana.


Satu minggu setelahnya, Ranika benar-benar tengah melalui waktu tua dalam kesendiriannya. Tak ada anak atau pun suami yang menemaninya di hari tuanya.


Hingga Ranika mengingat bahwa hari itu adalah tanggal biasa dia mengirimkan mainan untuk Tama, dan juga sejumlah uang untuk kebutuhannya.


"Sebentar lagi cucuku akan berulang tahun yang ke 7 tahun...."


kata Ranika sambil tersenyum.


"Aku ingin membawanya tinggal disini bersamaku...menemaniku..."


katanya lagi sambil mengetik nominal uang yang akan dia transferkan pada Eva.


.


.


.


.


*******


"Dan seperti itulah yang telah terjadi pada Arsana...Daniel dan Arthur selama beberapa tahun belakangan ini...Eva Toni...dan seperti ini lah kehidupanku sekarang...aku sendirian..."

__ADS_1


kata Ranika dengan pilu.


"Kami turut berduka cita nyonya..."


jawab Eva dan Toni bersamaan.


Ranika hanya mengangguk.


"Maaf kami tak mengetahui sama sekali tentang berita kematian tuan Arthur nyonya .."


kata Toni.


"Tak apa Toni...tenanglah...mungkin itu memang sudah takdir untuknya..."


jawab Ranika.


"Dan aku kesini mempunyai maksud lain...selain ingin mengucapkan kata selamat ulang tahun untuk cucuku..."


kata Ranika sambil tersenyum manis.


Eva di buat tak enak hati dengan perkataan Ranika, dia takut Ranika akan membawa Tama tanpa memperdulikan keinginan Tama terlebih dulu karna usianya yang kini sudah 7 tahun.


Apalagi Ranika kini sedang sendirian, dia pasti menginginkan Tama untuk menemani tinggal di rumahnya sebagai pewaris satu-satunya keluarganya.


"Aku ingin membawa Tama tinggal bersamaku..." belum selesai Eva berkata dalam batinnya tapi Ranika sudah berkata sesuai dengan tebakan Eva.


seketika itu juga Eva dan Toni saling pandang.Lalu Toni pun segera berkata.


"Bukankah sudah ada dalam perjanjian kita memutuskan segalanya nanti berdasarkan keputusan Tama sendiri...."


"Iya nyonya...kita harus bertanya pada Tama dulu apakah dia bersedia tinggal bersama nyonya...atau dia memilih tinggal bersama kita..." kata Eva penuh penekanan sambil memeluk Tama semakin erat.


"Tama tak akan memutuskan apapun hari ini..."


"Dia akan tetap bersiap dan tinggal bersamaku hari ini juga..."


imbuhnya lagi.


aku kira nyonya Ranika adalah wanita baik..ternyata sifatnya sama saja seperti yang lainnya...suka memaksakan kehendak....batin Toni


Tidak....bagaimana pun Tama harus memilih dan mengambil keputusan hari ini....karna itu sudah merupakan hak nya untuk memilih aku atau dia....batin Eva


Melihat tak ada jawaban apapun dari Eva dan Toni. Ranika mengerti apa yang ada dalam fikiran mereka, dia pun berkata.


"Tama tak menentukan apapun hari ini....dan dia tak akan terpisah oleh siapapun juga mulai hari ini...kita akan menjadi sebuah keluarga yang utuh...."


"Maksud nyonya.."


tanya Toni bingung dengan perkataan Ranika.


"Ya...kalian juga akan ikut tinggal bersamaku sebagai orangtua Tama..."


jawab Ranika dengan tersenyum manis.


"Ka...kami..."


kata Eva dan Toni bersamaan.


"Ya...kalian semua akan tinggal bersamaku mulai hari ini..."


jawab Ranika lagi tersenyum semakin cerah membayangkan kehidupannya yang tak akan sepi lagi.


Dan hari itu juga Eva, Toni dan Tama meninggalkan rumah mereka yang sudah bertahun-tahun mereka tinggali. Mereka berpindah ke rumah Ranika yang 5x lipat jauh lebih besar dan luas dari rumah mereka sebelumnya.

__ADS_1


Eva dan Toni yang sebelumnya tak pernah kesana pun takjub dengan segala yang ada di rumah Ranika.


"Nenek....ruang tamu ini sangat luas....aku bahkan bisa bermain bola disini...."


kata Tama tiba-tiba dengan polosnya, sambil memandang lagi ke seluruh ruangan dengan berlarian.


"Haha....Tama sayang...cucuku...ini bukan lapangan sepak bola sayang...nenek sudah menyediakan taman bermain untukmu di dalam maupun di luar rumah..."


jawab Ranika sambil tertawa lebar karna tingkah Tama.


"Benarkaah....apakah aku boleh melihatnya nek..."


kata Tama dengan mata yang berbinar senang.


"Tentu sayang....mbak...antarkan cucuku melihat taman bermainnya..."


pinta Ranika pada salah satu pelayannya.


"Dan kalian berdua.. ikutlah aku...aku akan menunjukkan kamar kalian berdua ...."


kata Ranika sambil berjalan menuju sebuah ruangan di lantai atas.


"Dan ini kamar untuk kalian berdua...."


kata Ranika sambil membuka sebuah pintu yang menjulang tinggi berwarna putih bersih.


Eva dan Toni pun masuk dan terlihatlah kamar yang sangat luas, juga sebuah bed yang super besar dan super empuk dengan gaya eropa yang sedang trend di berbagai majalah properti saat ini.


Eva juga terkaget pasalnya itu adalah bed yang sangat dia incar beberapa bulan belakangan ini, dia masih menabung untuk membelinya, tapi kini sudah menjadi miliknya.


"Apa kalian suka dengan kamarnya...perlukah aku untuk merenovasi di beberapa bagiannya...katakan saja tak usah sungkan....kamar ini juga baru selesai satu minggu yang lalu...."


"Tidak nyonya...kami sangat menyukainya..."


jawab Toni dan Eva hampir bersamaan sambil tersenyum cerah.


Eva dan Toni pun juga cukup terkaget, pasalnya ini adalah desain kamar yang akan mereka terapkan pada kamar mereka nanti. Tapi tiba-tiba sudah terealisasikan di dalam rumah Ranika.


Ranika sendiri mengetahui keinginan Eva, Toni dan juga Tama dari para pelayannya. Ternyata Ranika diam-diam sebelum membawa mereka semua tinggal di rumahnya. Dia telah menghubungi para pelayan di rumah Eva untuk menanyakan hal apa saja yang di sukai oleh mereka semua, dan ruangan kamar seperti apa yang mereka inginkan.


Ranika juga telah merenovasi sebuah kamar yang akan di tempati Tama dengan tema bajak laut kesukaannya.


"Tama akan tidur sendiri mulai saat ini...aku sudah menyiapkan kamar untuknya..."


"Bahkan kamar ini sangat luas nyonya...kami bisa menempatinya untuk bertiga..."


"Tidak Eva sayang...Tama harus mulai belajar mandiri...dia akan tidur di kamarnya sendiri...aku yakin dia akan menyukai juga desain kamarnya..."


kata Ranika dengan senyuman bangga.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2