Korban Rahim Sewaan

Korban Rahim Sewaan
Persidangan.


__ADS_3

Dan pada hari itu, Arsana dan Daniel benar-benar pulang tanpa Tama di pelukan mereka.


Baik Eva maupun Toni bersikukuh tidak menerima adanya pertukaran Tama dengan uang.


Dulu memang mereka menginginkan uang sebagai tujuan utama mereka melakukan sewa rahim itu. Tapi karna semua kejadian yang mereka alami, mereka menjadi sayang pada Tama. Tidak lagi peduli dengan uang yang di janjikan. Mereka rela hidup sederhana yang terpenting ada Tama di dalamnya, yang telah membuat hari-hari mereka cukup berwarna.


"Bagaimana ini Toni jika mereka benar-benar membawa ini kepada pihak hukum...aku takut Tama di ambil oleh mereka...sungguh aku tak rela....dia anak kita..."


kata Eva menangis di pelukan Toni.


Toni hanya menepuk-nepuk bahu Eva, tak mampu berbicara apapun pada Eva. Jika memang Arsana dan Daniel membawa kasus ini kepada hukum, jelas mereka akan kalah, karna Tama adalah memang darah daging mereka, mempunyai DNA yang sama dengan keduanya.


Menuntut pun mereka tak akan mampu, karna keterbatasan biaya. Daniel dan Arsana pun jelas akan memainkan juga uangnya di dalam persidangan, untuk mendapatkan Tama sebagai anaknya.


Dan 3 hari setelah kedatangan Arsana dan Daniel ke rumahnya. Siang itu Eva mendapatkan sebuah kiriman surat dari pos. Dan benar saja Arsana dan Daniel benar-benar membawa kasus Tama ke ranah hukum. Eva dan Toni di panggil untuk menghadiri persidangan untuk hak asuh Tama, yang akan di gelar 1 minggu lagi.


Seketika Eva melemas setelah membawa surat dari kantor pengadilan yang sedang di pegangnya. Dia memandang lagi Tama yang sedang di baringkan di depan TV.


Eva mendekatinya dengan menangis, memeluknya dalam gendongannya.


"Aku mohon jangan tinggalkan ibu Tama...ibu sangat menyayangimu....ibu tak dapat hidup tanpamu...berjanjilah tetap bersama ibu..."


kata Eva terisak sambil memeluk Tama.


Malam itu Toni yang baru mengetahui mengenai surat undangan persidangan itu juga sangat syok di buatnya.


"Mereka benar-benar telah berbuat tak adil pada kita..setelah semua yang mereka perbuat dan kita alami dulu...mereka dengan mudahnya meminta hak asuh atas Tama..."


kata Toni lirih pada Eva.


"Aku yakin uang mereka akan memenangkan sidang ini...dan aku tak rela memberikan Tama pada orangtua seperti mereka...mereka benar-benar tak pantas untuk Tama..."


jawab Eva tak memalingkan pandangannya sama sekali dari Tama.

__ADS_1


Toni pun hanya bisa mengacak-acak rambutnya dengan kasar, frustasi atas semua yang telah terjadi. Baru saja mereka menemukan sebuah kebahagiaan dalam hidup mereka. Hidup yang berkecukupan juga keluarga yang utuh, kini keduanya harus menghadapi masalah atas Tama. Anak yang sangat mereka sayangi dan menjadi sumber penyemangat Eva dan Toni dalam menjalani hari. Kini sedang di perebutkan oleh kedua orangtua kandungnya.


Datanglah Hari dimana Eva dan Toni menghadiri undangan persidangan. Sebenarnya Eva dan Toni ingin menghindari persidangan itu, dengan ketidakhadiran mereka di hari itu.


Tapi ternyata pagi-pagi sekali, orang suruhan dari Daniel sudah berada di depan rumah kost mereka, guna menjemput Eva Toni dan juga Tama untuk hadir dalam persidangan itu.


Sebelum berangkat menuju pengadilan, Tama di minta untuk melakukan tes DNA sebagai bukti kuat untuk pihak Daniel dan Arsana.


Persidangan pun di mulai, hari itu juga hampir di putuskan hak asuh atas Tama.


Tapi Eva dan Toni mengajukan banding dengan menceritakan semua kisah dan kesulitan yang mereka alami atas program rahim sewaan Arsana ini.


Hingga di putuskan oleh Hakim, sidang akan di laksanakan kembali satu minggu lagi. Dan akan di lakukan sebuah penyelidikan atas semua cerita yang di nyatakan oleh Toni dan Eva. Juga akan menghadirkan beberapa saksi yang mengetahui kehidupan sulit yang mereka jalani, yang membuat mereka berhak mengasuh atas Tama.


4 hari setelah persidangan pertama di gelar, Eva mengundang kedua orangtuanya ke rumah kostnya, untuk menjadi saksi dalam persidangan selanjutnya. Dengan perjalanan yang sama menaiki kereta, kedua orangtuanya pun sampai ke rumah Eva dengan cepat.


"Aku benar-benar merindukan cucuku...kapan kalian akan membawanya ke desa..aku bahkan ingin memamerkan ketampanan cucuku ini pada para tetangga kita....terutama pada pak Erman untuk membungkam mulutnya yang sombong itu....karna melihat ketampanan cucuku yang tiada tandingannya ini.."


"Benar Eva...datanglah ke desa...aku ingin berlama-lama tinggal dengan Tama...tinggallah disana beberapa hari agar kami dapat dengan puas memeluknya..."


kata ayah Eva sambil tersenyum mencubit-cubit gemas pipi gembul Tama.


Eva pun sebenarnya tak tega mengatakan semuanya pada orangtuanya. Dia tak mampu apalagi melihat mereka dengan wajah bahagia saat bersama dengan Tama. Eva tak rela kebahagiaan itu terenggut begitu saja dari wajah kedua orang tuanya. Tapi mau bagaimana lagi, Eva harus tetap jujur atas semua yang terjadi, dan mengatakan maksud Eva mengundang mereka datang ke jakarta adalah untuk menjadi saksi dalam persidangan hak asuh Tama.


"Ayah...ibu....aku mengundang kalian datang kesini adalah untuk sebuah hal yang penting..."


Melihat tatapan serius Eva saat berbicara, dan juga mata yang mulai berkaca-kaca, Siti dan Joni segera mendengarkan Eva dengan seksama.


"Ada apa Eva katakan..."


kata Joni dengan nada khawatir.


"Kalian akan menjadi saksi untuk persidangan Tama yang akan di gelar 3 hari lagi dari sekarang..."

__ADS_1


"Sidang...sidang untuk apa...Tama...apa maksudmu Eva..."


kata Siti dengan pandangan kebingungan,hati Siti juga bergetar, karna baru kali ini dia akan di hadapkan dengan meja hijau pengadilan, yang sama sekali tak pernah dia bayangkan dalam hidupnya di akan masuk di dalamnya.


"Ini adalah sidang untuk hak asuh Tama..."


"Hak asuh...apa kau bercerai dengan Toni...kenapa Eva...bahkan anak kalian masih sangat kecil..."


kata Joni dengan cepat.


"Bukan seperti itu ayah... Ibu....dengarkan aku baik-baik...Tama bukanlah anak kandungku...aku hanyalah seorang rahim sewaan untuk melahirkan Tama............"


Eva pun menceritakan semua yang telah dia alami sebelum dia pulang kala itu ke rumah kedua orangtuanya dan di nikahkan dengan Toni.


Setelah mendengar semua kejujuran dari Eva, Siti dan Joni seketika berwajah sedih.


"Kenapa kau tak mengatakannya kala itu Eva..."


kata Joni dengan wajah penuh bersalah.


"Kami ingin mengatakannya kami ayah dan ibu tak pernah memberikan kami kesempatan untuk berbicara jujur..."


kata Eva dengan deraian airmata.


"Jika kami tau apa yang sebenarnya terjadi kami tak akan menikahkanmu kala itu..."


kata Ibu Eva dengan airmata di pipinya.


"Bukan masalah pernikahan yang aku sesali bu...tapi Tama...aku sangat menyayanginya...aku tak ingin Tama pergi dariku...aku yang telah mengandung dan melahirkannya...bukannya itu juga bisa di sebut sebagai ibu..."


kata Eva getir mengucapkan kalimatnya sendiri.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2