Korban Rahim Sewaan

Korban Rahim Sewaan
Kembali


__ADS_3

"Tidak ma...aku yakin Tama hanya sakit..mana ada sakit hanya karna rindu...apa lagi dia adalah seorang anak kecil...tau apa dia tentang rindu...."


kata Arsana menatap kesal pada Ranika.


"Iya kau ini aneh sekali...Tama masih kecil dia masih belum tau apa-apa...bahkan dia juga belum bisa membedakan mana orangtuanya dan bukan...dia tak akan sembuh hanya dengan bertemu wanita itu...yang ada dia akan bertambah sakit nanti..."


kata Arthur menatap sinis pada istrinya.


Sementara Daniel hanya terdiam tak menjawab apapun, dia berfikir mungkin apa yang di katakan ibu mertuanya itu benar. Karna Tama yang tak pernah terpisah dengan Eva. Selama ini dia berada dalam gendongannya, mungkin Tama sudah merasa nyaman dengan hadirnya Eva di sisinya.


Mereka pun terus berdebat tentang Tama, semalaman Arthur dan Ranika juga berada disana menunggui Tama yang tak kunjung membaik. Tama terus demam tinggi tanpa sebab. Segala macam tes kesehatan yang telah di lakukannya tidak menunjukkan penyakit apapun. Bahkan pihak dokter pun heran dengan yang terjadi pada Tama. Mereka tak bisa menemukan penyebab demamnya.


Di waktu dini hari Tama baru bisa tertidur setelah meminum obat tidur dari sang perawat. Kesempatan itu pun di gunakan untuk beristirahat oleh mereka. Ranika dan Arthur sudah lebih dulu tertidur di tempat tidur yang sudah di sediakan. Arsana dan Daniel sendiri berada di sofa di sebelah Tama, mereka masih menunggui Tama dengan mata yang mengantuk.


Daniel tiba-tiba saja memulai pembicaraan dengan pelan.


"Mungkin mama benar sayang....Tama mungkin merindukan Eva..."


kata Daniel sambil menatap Tama yang tepat berada di hadapannya.


"Tama memang masih kecil...tapi dia sudah bisa merasakan rasa nyaman pada seseorang...apalagi Eva yang sedari dulu berada di sisinya..."


kata Daniel lagi


"Aku rasa Eva dan Toni lah yang pantas menjadi orangtuanya...kita hanyalah orangtua yang tak tau diri dan tak tau malu telah merebut Tama dari mereka...setelah apa yang kita lakukan dulu..."


"Mungkin ini juga balasan untuk kita...karna kita yang tak menginginkan Tama dulu....Tama merasa tak nyaman dengan kita..dia sama sekali tak merasakan ikatan batin dengan kita meskipun kita adalah orangtua kandungnya.."


"Selama ini Eva dan Toni juga yang selalu ada untuknya...merawatnya dengan hati tulus...mereka adalah orangtua yang tepat untuk Tama...bukan orangtua egois seperti kita...kita bahkan tak tau apa yang di inginkan Tama..."

__ADS_1


"Segalanya kita punya...tapi itu tak bisa membuat Tama bahagia berada di dekat kita..."


kata Daniel panjang lebar karna tak mendapatkan jawaban dari Arsana.


Cukup lama Arsana terdiam, dia akhirnya menjawab perkatana Daniel dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kau benar....andai saja dulu kita tak pernah meninggalkan Tama...pasti dia sekarang akan merasa nyaman berada di samping kita...dia akan bersama kita sejak bayi...sejak dia di lahirkan...dan tak akan pernah mengenal Eva...sesuai dengan rencana kita dulu..."


"Tapi betapa bodohnya orangtua mu ini nak....yang telah meninggalkanmu....kau benar mungkin kita adalah orangtua yang egois.....kita tak juga tak bisa mengerti apa yang Tama inginkan meski kita memiliki segalanya....karna harta yang tak bisa menjamin Tama untuk bahagia berada di samping kita..."


"Maafkan aku sayang....seharusnya aku sendiri yang mengandung benih kita....sehingga semua ini tak akan pernah terjadi....maafkan aku dengan segala keegoisanku yang tak ingin mengandung seorang anak...."


kata Arsana dengan air mata yang sudah mengalir deras di matanya.


Daniel yang mengetahui Arsana sedang terisak, dia pun segera memeluknya erat. Merengkuh Eva di dalam dekapannya.


"Kalau begitu kita harus mengembalikan Tama pada Eva dan Toni...mereka pantas membesarkan Tama...mereka pantas menjadi orangtuanya...."


"Iya sayang...kita kembalikan Tama..setelah dia berusia 7 tahun nanti...terserah dengan keputusannya ...Tama ingin bersama kita atau dengan Eva...yang terpenting Tama merasa bahagia...itu sudah cukup untukku..kita tetap menjadi orangtua Tama meski dia tak bersama dengan kita...."


Mendengar perkataan Arsana, Daniel semakin mempererat pelukannya.


"Dan aku juga berjanji...aku akan mengandung anak kita tanpa adanya ikut campur tangan orang lain diantara kita....aku ingin memiliki seorang anak yang berasal dari rahimku....mama mungkin benar aku tak bisa merasakan menjadi seorang ibu seutuhnya jika aku tak melewati prosesnya.."


kata Arsana lagi dengan airmata yang semakin deras.


Dan akhirnya Daniel dan juga Arsana memutuskan untuk mengembalikan Tama pada Eva dan Toni. Mereka sudah ihklas jika Tama pada akhirnya lebih memilih Eva dan Toni sebagai orangtuanya. Karna mereka menganggap Eva dan Toni memang lebih pantas menjadi orangtuanya.


Pagi itu juga mereka membawa Tama yang masih demam tinggi kembali kerumah Eva.

__ADS_1


Pagi-pagi sekali Arsana dan juga kedua orangtuanya mengantarkan Tama kembali ke rumahnya.


Mereka menekan bell, tapi hanya seorang pelayan yang keluar menemui mereka.


tanpa banyak kata pun mereka masuk ke dalam rumah.


Sementara itu, pagi itu Toni masih terjaga setelah semalaman menjaga Eva yang juga sedang demam, dia merasakan sakit di *********** yang terasa penuh beberapa hari ini.


Pagi itu Toni sedang mengompres dahi Eva dengan sebuah kain. Toni mendengar bell berdenting tapi enggan untuk membukanya. Dia sudah merasa malas dengan siapapun yang datang.


Eva sendiri sebenarnya juga masih terjaga, dia hanya memejamkan matanya tapi masih bisa mendengarkan segala suara yang ada di sekitarnya. Termasuk merasakan tangan Toni yang terus membelai lembut kepalanya.


Eva dan Toni tersentak kaget karna suara tangis yang sangat mereka rindukan terdengar lagi di rumah mereka. Seketika Eva membuka matanya menatap Toni, begitupun Toni juga menatap Eva dengan wajah terkejutnya.


"Tama..."


kata mereka secara bersamaan.


Eva langsung saja bangun dari tempat tidurnya, seakan tak merasakan lagi rasa sakit dan pusing di kepalanya. Dia berjalan cepat bahkan mendahului Toni yang berada di sampingnya. Mengabaikan tangan Toni yang siap membantunya berdiri dan berjalan dengan perlahan.


"Eva hati-hati kau masih sakit...."


teriak Toni yang sudah jauh tertinggal oleh Eva.


Ketika Eva berada di depan kamarnya, dia melihat Tama yang sedang berada di dalam gendongan Ranika, Tama sedang menangis kencang.


Eva pun dengan segera mendekatinya, meraih Tama dan mendekapnya dalam pelukan hangatnya.


Seketika juga tangis Eva pecah meluapkan rasa rindunya pada Tama.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2