
"Ma....mama mau kemana..."
teriak Arsana yang tak di dengarkan sama sekali oleh Ranika.
Daniel melihat Arsana dan Ranika secara bergantian, dia tau bahwa mama mertuanya sangat tidak setuju dengan tindakan mereka meninggalkan begitu saja anaknya pada Eva.
"Sudahlah kalian tak perlu khawatir tentang mama kalian..dia pasti akan bisa mengerti nanti...aku akan bicara padanya...aku sangat setuju dengan sikap kalian....karna aku juga tak mau memiliki seorang cucu yang cacat..."
Jawab Arthur sambil memandang keduanya dengan bangga.
"Mama mu memang wanita yang terlalu baik...dia selalu memikirkan orang lain...tapi ya itulah sifat mama mu dari dulu..."
imbuh Arthur lagi.
"Iya pa..Arsana juga tau...mama lebih sering tak setuju dengan semua keputusan maupun keinginan Arsana...hanya papa yang slalu mendukung dan slalu bisa mengerti kemauan Arsana...papa memang yang terbaik..."
jawab Arsana tersenyum cerah kepada papanya.
"Terimakasih pa...papa slalu mendukung kami.."
kata Daniel sambil menggenggam tangan Arsana.
"Tentu...papa akan slalu mendukung yang terbaik untuk kalian...lalu bagaimana dengan berita kehamilanmu yang sudah menyebar di publik sayang...apa mereka tak curiga nanti...kalau kau tak mempunyai seorang bayi setelah 9 bulan berjalan..."
kata Arthur sambil memandang Arsana penuh khawatir. Dia khawatir kalau sampai karir anaknya sebagai seorang model tercemar karna program bayi tabungnya yang dinilainya gagal.
"Tenang pa...besok aku akan melakukan siaran langsung untuk mengumumkan kepada publik bahwa aku keguguran...mudah bukan..."
jawab Arsana tersenyum penuh kemenangan.
"Iya pa...kami juga sudah membuat sejumlah surat dari rumah sakit sebagai bukti palsu bahwa Arsana telah keguguran...dan ini foto USG bayi kami yang sudah di ganti nama menjadi milik Arsana...akan menambah keyakinan publik untuk percaya pada kabar itu..."
kata Daniel menimpali.
"Hahaha...kalian memang benar-benar pintar ya...aku suka dengan pemikiran kalian...aku yang akan membayar para wartawan itu untuk datang...kalian tak perlu khawatir..."
Arthur berkata sambil tertawa bangga pada anak dan menantu kesayangannya.
__ADS_1
Sementara itu ternyata Ranika belum benar-benar pergi dari sana, dia berada di ruangan sebelah yang hanya terhalang oleh dinding, dan dia dapat mendengar dengan jelas percakapan ketiganya.
Ranika terisak di balik dinding itu, mendengarkan pernyataan ketiganya bahwa mereka akan benar-benar meninggalkan bayi yang telah di kandung oleh Eva.
kenapa kalian sejahat itu pada darah daging kalian sendiri....dia bahkan belum terlahir ke dunia tapi sudah akan di tinggalkan oleh kedua orang tuanya....dimana pun kau berada nak...semoga kau tak menurunkan sifat kedua orang tuamu...jadilah anak yang baik kelak meski dengan segala kekuranganmu....
Dan ya...dimana wanita itu....siapa tadi namanya...Eva ya....sungguh hamil bukanlah perkara yang mudah untuk seorang perempuan...dia rela melakukannya hanya untuk uang...tapi apa sekarang yang terjadi...dia malah mendapatkan seorang bayi tanpa adanya seorang suami di sampingnya....apa yang akan dia lakukan setelah ini....
Aku memang tak mengenal wanita itu berhati baik atau buruk...tapi aku berdoa pada Tuhan semoga dia berhati mulia dan tetap mempertahankan cucuku...apapun yang terjadi...
batin Ranika dengan air mata yang terus mengalir di ujung matanya.
Dia pun berjalan terhuyung ke kamarnya, sambil terus terisak memikirkan nasib cucu yang bahkan belum terlahir itu. Dia terus saja terbayang gambar USG yang di berikan Daniel.tadi.
Membayangkan betapa menggemaskan cucunya andai dia sudah terlahir kedunia.
*
Daniel dan Arsana pun telah sampai di rumah mewah orangtua Arsana.
Daniel, Arsana maupun Arthur terlihat menunjukkan senyum kemenangannya, karna telah berhasil membohongi publik dengan siaran langsung yang baru saja selesai di tayangkan.
Tak ada yang curiga sama sekali, bahkan di sosial media Arsana banyak yang mengucapkan kesedihan yang mendalam dan juga ikut merasakan kesedihan Arsana akan berita palsunya itu.
Berita itu langsung saja menjadi trending di TV maupun di sosial media lainnya. Dan seketika juga Arsana mendapatkan panggilan di berbagai stasiun televisi untuk menghadiri wawancara tentang keguguran yang baru saja di alaminya.
"Aktingmu sungguh bagus sayang...papa bahkan terbawa suasana saat melihat acaramu..."
kata Arthur sambil tertawa ringan.
"Tentu saja pa....siapa dulu papanya.."
kata Arsana di iringi tawa bersamaan dengan Arthur.
Daniel pun ikut tertawa ringan menanggapi perkatan Arsana.
"Lihatlah pa..sosial mediaku langsung saja di banjiri oleh komentar tentang kesedihan para fans ku yang sangat mengharapkan aku segera mempunyai anak..."
__ADS_1
kata Arsana sambil menunjukkan ponsel pada Arthur.
"Haha....kau memang benar-benar bisa di andalkan sayang...mungkin sebentar lagi kau akan menjadi bintang film yang sangat terkenal...karna aktingmu yang sangat luar biasa bagus itu..."
Arthur kembali memuji dan tertawa ringan pada Arsana.
"Ma...apa mama baik-baik saja..."
tanya Daniel pada Ranika yang terlihat tak menunjukkan expresi senang sama sekali, dia malah menunjukkan wajah yang kesal dan tak merespon apapun yang di katakan ketiganya di meja makan.
"Iya ma...mama kenapa sih...kok kelihatan marah gitu..."
kata Arsana yang mengalihkan pandangannya pada Ranika.
"Setidaknya tunjukkan sedikit rasa senangmu sayang...kau tak lihat kami semua bahagia...apa kau masih marah soal kemarin..."
Arthur juga mengalihkan pandangannya pada istrinya yang sedari tadi berwajah masam dan hanya diam saja.
"Aku tak apa....menyangkal pun itu tak akan membuat kalian berubah fikiran kan..."
"Ayolah ma....kenapa mama slalu saja menentang keinginan kami sih ma...gak bisa ya...sekali aja satu pemikiran gitu...kita tertawa bersama...kayak papa nii...yang slalu mengerti dan mendukung Arsana..."
Kata Arsana sambil melirik Arthur lagi dengan senyum ceria.
"Kau tak akan mengerti perasaan seorang ibu Arsana...karna kau belum pernah mengandung sebelumnya...kau tak tau bagaimana perjuangan seorang ibu dalam membesarkan anak yang ada dalam kandungannya....dan itu bukanlah pekara yang mudah....untuk itu kau dengan mudahnya meninggalkan seorang anak pada kandungan seorang wanita tanpa penjelasan seperti sekarang...."
"Tapi ma Arsana hanya..."
Arsana ingin menjawab tapi Ranika sudah meneruskan lagi kalimatnya.
"Sudahlah...percuma saja bicara pada kalian yang hanya menuruti ego kalian...aku disini sebagai seorang ibu sangat merasa sedih dengan tindakan kalian...apapun itu alasannya....bayi bukanlah mainan yang bisa kalian ciptakan dan tinggalkan begitu saja...dia mempunyai nyawa..dia mempunyai jiwa dan dia tak bersalah apa-apa atas ketidaksempurnaan yang telah di takdirkan Tuhan untuknya...."
Ranika berdiri dan meninggalkan ruang makan sambil menitikkan airmatanya.
Sementara ketiganya hanya bisa terdiam memandang Ranika yang mulai berlalu pergi dengan hati yang terluka.
Bersambung....
__ADS_1