Korban Rahim Sewaan

Korban Rahim Sewaan
Panggilan mama


__ADS_3

Setelah mereka melihat kamar Tama, Ranika mempersilahkan Eva dan Toni untuk beristirahat dulu di kamarnya, sebelum waktu makan malam tiba.


Eva dan Toni melihat-lihat berbagai interior baru di kamarnya, dan itu sungguh membuat mereka takjub, karna segalanya yang super mewah. Eva sampai geleng-geleng kepala dengan semua yang telah di miliki oleh Ranika.


Waktu makan malam pun tiba, telah terhidang berbagai macam makanan disana, meja makan juga terbilang luas meski hanya di pakai oleh beberapa orang saja, menyisakan banyak kursi kosong di samping mereka.


"waah...banyak sekali makanannya nek..aah itu...ayam goreng kesukaanku..aku mau itu nek..."


kata Tama sambil menunjuk ayam goreng renyah yang masih mengeluarkan asap.


"Makanlah sayang...makanlah sesukamu...kau mau semua...ambillah...para pelayan nanti akan membuatnya lagi...ambillah berapapun yang kau mau sayang..."


kata Ranika sambil tertawa kecil melihat tingkah Tama yang menggemaskan


"Tidak nek...aku hanya mau satu...ibu selalu bilang kita tak boleh serakah...kita harus memikirkan orang lain..."


kata Tama menasehati Ranika dengan gaya yang menggemaskan.


Ranika pun malah tertawa di buatnya, lalu dia memandang Eva dan berkata.


"Kau sungguh telah mengajarkan banyak hal baik untuk cucuku Eva...terimakasih...kau telah mendidiknya dengan sangat baik..."


kata Ranika sambil memegang tangan Eva yang berada di sampingnya.


"Itu sudah tugas kami sebagai orang tua Tama nyonya...tidak perlu berterimakasih lagi..."


jawab Eva sambil tersenyum manis.


"Jangan memanggilku seperti itu Sayang...kalian adalah orangtua dari cucuku....berarti kalian juga anakku kan...panggil aku mama...aku akan lebih senang mendengarnya..."


kata Ranika lagi.


Seketika Toni tersedak makanannya, mendengar apa yang di katakan Ranika.


Toni meminum segelas air putih lalu segera memandang Ranika.


"Ya...kau juga Toni..panggil aku mama...aku adalah ibu kalian mulai sekarang...kalian mau kan..."


imbuh Ranika lagi.


Eva dan Toni saling pandang, lalu beberapa detik kemudian tersenyum dan mengangguk faham.

__ADS_1


Ranika pun juga tersenyum dan berkata.


"Terimakasih kalian telah bersedia memanggilku mama...kini aku mempunyai keluarga yang utuh kembali..."


"Oh ya Toni...mulai besok kau akan bekerja di perusahaan properti Arthur...sebagai pemimpin disana...Arthur telah tiada...perusahaan butuh pemimpin....dan kau lah yang akan aku tugaskan untuk itu...pemimpin perusahaan properti terbesar di negara ini....."


kata Ranika sambil meminum susu di tangannya.


"Tapi nyonya....eh ma...aku bukan orang berpendidikan..aku tak mungkin bisa memimpin perusahaan Tuan Arthur..."


kata Toni sambil terbelalak kaget dengan perkataan Ranika.


"Berpendidikan atau bukan...sebuah perusahaan hanya butuh ketekunan bukan pendidikan...percuma kalau ada seribu orang berpendidikan tapi malas...lebih baik memilih satu orang tak berpendidikan tapi rajin dan mau mempelajari hal baru...itu sudah lebih dari cukup...apalagi kau hanya tinggal memimpin perusahaan yang sudah berjalan...itu tak akan susah Toni...aku akan selalu ada di belakangmu tenang saja..."


"Tapi ma....aku rasa aku tak pantas menerima semua ini...lebih baik mama cari orang lain yang lebih pantas menerimanya...."


"Siapa lagi orang yang pantas menerimanya...hanya kau Toni...kau orangtua dari Tama...kau juga anakku sekarang....Tama sebagai pewaris satu-satunya perusahaan ini masih sangat kecil untuk memimpinnya....kau lah sebagai ayahnya harus bersedia memimpin dan menjaga perusahaan sebelum Tama nanti siap menjalankan semuanya...."


Kata Ranika memandang Toni penuh harapan.


"Mulai besok bersiaplah..akan ada seorang yang membantumu untuk mulai memimpin perusahaan...dia asisten pribadimu...dia adalah orang kepercayaanku...kau bisa mempelajari semua darinya...ya....kau bersediakan...."


imbuh Ranika lagi.


Selesai membahas berbagai hal yang harus Toni lakukan sebagai peraturan dasar pemimpin perusahaan. Eva pun berkata pada Ranika.


"Ma...."


Eva sudah dengan lugas menyebutkan panggilan itu untuk Ranika. Dia sangat senang karna Ranika juga bersikap sangat baik padanya, sudah seperti ibu Eva sendiri.


"Iya sayang...ada apa.."


jawab Ranika lembut.


"Bolehkan aku, Toni dan Tama menjenguk Arsana besok...siapa tau dengan kehadiran Tama...Arsana bisa mempunyai semangat lagi untuk sembuh...mereka memiliki darah yang sama...tentu akan ada sebuah ikatan batin antara anak dan ibu kandungnya ma....siapa tau itu membuat Arsana cepat sembuh dengan melihat Tama menjenguknya..."


kata Eva sedikit takut-takut.


"Tentu saja Eva...mari kita jenguk Arsana sama-sama...kita jenguk Arsana sore hari besok setelah kepulangan Toni dari kantor ya...."


jawab Ranika yang ternyata sangat antusias dengan ajakan Eva.

__ADS_1


Hari pun berganti, Toni sudah menyelesaikan berbagai agenda perdananya memasuki perusahaan besar Arthur sebagai pemimpin baru.


semua cukup berjalan lancar, Toni mempelajari dengan baik segala yang di ajarkan asisten barunya.


Perusahaan yang Toni pimpin ini adalah milik Arthur sendiri, yang menaungi banyak anak cabang di bawahnya.


Sedangkan perusahaan properti yang di pimpin Daniel sebelumnya, hanyalah satu anak cabang yang di berikan Arthur secara cuma-cuma untuk di pimpinnya, sebagai sumber penghasilan awal rumah tangganya dengan Arsana saat Daniel masih menjadi suaminya.


Kini Toni malah menjadi pemimpin perusahaan pusat dengan banyak anak cabang di bawahnya.


Sore itu mereka berangkat menuju rumah sakit jiwa yang merawat Arsana.


Mereka pun di bawa pada sel yang mengurung Arsana. Eva dan Toni sendiri cukup kaget dengan keadaan Arsana yang sangat jauh berbeda dari sebelumnya, dia tampak lusuh dengan banyak bekas luka di tubuhnya.


Awalnya Tama takut melihatnya tapi setelah dia di berikan pengertian akhirnya Tama mengingat kembali wajah Arsana sebagai orang yang sering mengunjunginya dulu. Tama juga di berikan pengertian bahwa Arsana adalah ibu kandungnya.


Tama pun mencoba berinteraksi dengan Arsana, dan tak di sangka Arsana mengenali Tama, meski dia tak menyebutkan namanya. Tapi ketika bertemu dengan Tama, Arsana menjadi lebih tenang. Bahkan dia juga mau memakan makanannya dengan telaten sambil memandangi Tama.


Karna perkembangan Arsana yang terlihat lebih baik ketika bertemu dengan Tama, Ranika pun merencanakan agar Tama lebih sering bertemu dengan Arsana agar dia bisa lekas sembuh.


Tama pun tak keberatan, setelah dia tau bahwa Arsana juga ibunya dia juga lebih perhatian padanya, kadang Tama sendirilah yang meminta untuk pergi menjenguk Arsana ke rumah sakit jiwa.


Orang tua Eva sendiri juga sedang bersiap untuk berpindah ke kota. Menuruti keinginan Eva dan Toni. Karna kosongnya rumah yang mereka tinggali dulu, Eva meminta orangtuanya untuk menjual seluruh tanah di kampungnya, meninggalkan semuanya dan mulai hidup di kota menempati rumah lama Eva dan Toni.


Mereka berfikir dengan berpindahnya orangtua dan adik-adik Eva, mereka bisa semakin dekat dengan mereka. Tak perlu lagi jauh jika ingin bertemu satu sama lain.


orangtuanya juga tak perlu bekerja keras lagi, mereka tinggal menikmati fasilitas di rumah itu dengan para pelayan yang ada. Untuk biaya sekolah adik-adiknya, Eva akan menanggungnya dengan mengandalkan usaha onlinenya yang berjalan sangat lancar dan sudah memiliki puluhan karyawan tambahan.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2