Korban Rahim Sewaan

Korban Rahim Sewaan
Pulang


__ADS_3

Eva berjalan menuju rumah sang pemilik kost hendak memberikan kunci kamar kostnya.


Cukup lama pintu di ketuk akhirnya keluarlah wanita pemilik kost, yang rupanya baru saja terbangun dari tidurnya.


"Kau..kenapa kesini pagi-pagi sekali..."


kata wanita itu sambil menguap, karna rasa kantuk yang masih terlihat jelas di matanya.


"Maaf saya sudah mengganggu tidurnya....tapi saya hanya akan menyerahkan kunci ini..."


kata Eva sambil menggantungkan kunci di udara dengan tangannya.


"Astaga kau benar-benar akan pergi dari kamarmu sepagi ini....kau mungkin salah...tapi aku tak menyuruhmu pergi sepagi ini....setidaknya tunggulah dulu sampai matahari meninggi..kau akan kedinginan jika pergi sepagi ini..."


kata wanita itu terbelalak karna kaget Eva yang benar-benar akan pergi sepagi itu, matanya tiba-tiba sudah tidak merasa mengantuk lagi.


"Tidak mbak....mbak nggak salah...saya memang menginginkan pergi sepagi ini..."


"Lalu kemana tujuanmu setelah ini..."


"Aku mungkin akan kerumah saudaraku dulu setelah ini..."


tentu saja itu hanyalah alasan Eva, karna dia tak ingin membuat wanita di hadapannya semakin bertanya banyak padanya, Eva ingin segera pergi dari sana.


"Oh syukurlah kalau kau masih punya saudara....kalau begitu pergilah..maaf ya...jika selama ini kau tak nyaman dengan sikapku..."


kata wanita itu dengan wajah yang mulai melembut.


"hmm...aku juga minta maaf mbak...dan juga terimakasih telah di ijinkan tinggal disini..."


"Sama-sama...eh tunggu sebentar..."


wanita itu masuk ke dalam rumahnya, dan beberapa saat kemudian keluar dengan membawa kotak makanan.

__ADS_1


"Ini bawalah sebagai bekal untukmu...ini makanan untukmu.."


wanita itu memberikan sekotak makanan yang sudah di masaknya tadi malam, dia tak tega melihat Eva yang harus berjalan sendirian dengan keadaan hamil. Dia takut kalau Eva lapar dan tak segera menemukan makanan yang tepat untuknya. Untuk itu dia memberikan Eva sedikit bekal makanan untuknya.


"Terimakasih mbak...apa ini tidak merepotkan.."


"Tentu saja tidak...aku yang minta maaf telah membuatmu pergi selarut ini...".


" Tak apa ini semua adalah kemauanku sendiri...mbak nggak perlu merasa bersalah begitu..."


"Baiklah..hati-hati ya...semoga semua yang ada di dalam hidupmu berjalan dengan lancar..."


"Terimakasih mbak...saya permisi dulu.."


Eva segera berpamitan dan beranjak pergi dengan membawa sekotak makanan yang di berikan oleh wanita pemilik kostnya.


Eva pun segera pergi dan berjalan tak tentu arah tujuan. Yang dia fikirkan sekarang dia ingin segera mencari tempat lagi untuk tinggal dengan harga yang lebih murah.


Sepagi itu Eva sangat sulit untuk menemui orang yang bisa di ajak bertanya, karna suasana yang masih pagi. Juga orang-orang masih sibuk dengan segala aktivitasnya di pagi hari.


Setelah dirasa cukup beristirahat, Eva segera berjalan kembali, bertanya kepada setiap orang yang di temuinya. Mencari informasi dimana kost dengan harga terendah yang dapat di sewanya.


Telah bertanya kepada banyak orang, tapi Eva tak menemukan harga yang cocok menurutnya untuk di sewa, semua harga masih di atas uang yang di milikinya sekarang.


Hingga dia bertanya pada seorang wanita yang memberitahukan ada sebuah kost dengan harga murah, tapi tentu dengan ruangan yang sempit dan hanya terdiri dari satu kamar.


Eva tak masalah dengan semua itu, dia juga sudah terbiasa hidup di kamar sempit sebagai tempat tinggalnya sehari-hari.


Eva pun menuju alamat yang sudah di berikan dengan penuh semangat, tapi ketika sampai disana, ternyata semua kamar kost telah penuh dengan penyewa. Eva pun beranjak pergi dari sana, kini dia merasa lapar setelah berjalan seharian. Tempat kost pun tak dia dapatkan. Dia memilih berteduh di tepi jalan, di bawah pohon rindang, berlindung dari panasnya terik matahari yang menyengat.


Eva membuka kotak makanan yang telah di berikan oleh wanita pemilik kost tadi pagi, dia pun memakan seluruh isinya disana sambil beristirahat sejenak berfikir harus kemana lagi dia pergi.


"Untung saja aku telah diberi bekal oleh wanita tadi...jika saja tidak..dimana aku akan membeli makanan...di sepanjang jalan yang aku lewati aku tak melihat warung nasi sama sekali....hmm...terimakasih...semoga Tuhan membalas semua kebaikanmu...."

__ADS_1


kata Eva sambil tersenyum menatap kotak makanan yang sudah kosong.


"Kemana lagi aku akan pergi sekarang...aku tak punya sanak saudara di kota ini...semua sewa kost disini sangat mahal sekali....tentu uangku tak akan cukup untuk membayarnya..."


gumam Eva lirih.


"Maafkan aku ya....aku membuatmu lelah seharian dengan berjalan..aku pun juga sangat lelah...kau pasti juga panas ya di dalam sana..."


kata Eva lagi sambil memandang perut besarnya.


"Maaf aku tak bisa memberimu hidup dengan layak seperti orangtuamu....tapi setidaknya aku tidak pernah meninggalkanmu.."


Mengucapkan kata orangtua, Eva mengingat kembali tentang orangtuanya.


Dia tak pernah lagi mengirim uang pada orangtuanya, dia hanya mengatakan pada mereka, bahwa dia baru saja di pecat oleh bos nya dan harus mencari pekerjaan lagi.


"Bagaimana kabar orang tuaku dan adik-adikku ya....apa mereka baik-baik saja...aku terlalu sibuk akhir-akhir ini...sampai aku jarang mengabari mereka..."


"Ahh sudahlah...aku akan mengabari mereka nanti...yang terpenting sekarang aku harus segera mencari tempat kost yang baru sebelum malam tiba...atau aku akan tidur di jalanan nanti..."


kata Eva kembali bersemangat untuk berjalan lagi, meski tubuhnya sudah lelah. Membawa tasnya dan juga berjalan jauh dengan perut besarnya adalah sebuah tantangan tersendiri untuk Eva.


Singkat cerita hingga sore hari tiba, Eva telah mengunjungi beberapa kost murah atas informasi dari beberapa orang, tapi kost yang di maksud kesemuanya sudah penuh dengan penyewa, karna ya tentu saja. Kost murah selalu di buru oleh orang-orang tak bertempat tinggal seperti Eva, maupun mahasiswa-mahasiswa yang jauh dari rumah mereka.


Eva yang sudah teramat lelah serta fikiran yang sangat kacau, tak dapat berfikir lagi apa yang harus dia lakukan selanjutnya.


Di fikirannya hanya ada satu sekarang yaitu pulang ke rumah orangtuanya, karna Eva tak memiliki tujuan lagi di hidupnya.


"Tapi apa yang akan mereka katakan nanti dengan perutku yang membesar ini..."


kata Eva sambil berjalan dan berlinang air mata.


Tak menghiraukan lagi berbagai fikiran tentang orangtuanya, Eva dengan mantap memilih untuk pulang dan kini segera berjalan ke arah terminal bus terdekat untuk melakukan perjalanan, karna waktu yang sudah mulai menjelang malam.

__ADS_1


"Maafkan aku ayah...ibu...hanya kalian lah tempatku untuk pulang..."


Bersambung....


__ADS_2