
Sampai sore hari Toni masih tak memberikan kabar tentang dirinya, panggilan ponselnya sama sekali tak di jawab. Pesan teks yang di kirimkan Eva juga tak di balas.
Seakan semakin khawatir terjadi sesuatu pada Toni, Eva pun memutuskan untuk mencarinya di pasar. Bertanya pada teman yang biasa di ceritakan oleh Toni, yaitu si pria mungil bernama Eko.
Sudah berjalan di area parkiran pasar, tak perlu lama-lama mencari, dia sekarang sudah melihat seorang pria yang bertubuh kecil dan pendek, tengah membawa 2 karung gula di bahunya, tampak berjalan cepat mengiringi berat yang sedang di bawanya.
"Itu pasti pak Eko yang sering di ceritakan Toni...dia bertubuh kecil kan...dan semua ciri-cirinya persis sama seperti yang di sebutkan Toni..."
gumam Eva pelan, sambil berjalan mendekati Eko yang sudah menaruh karung berasnya, dan hendak mengambil lagi di truk seberang jalan.
Eva segera berlari kecil mengejar pak Eko yang berjalan cukup cepat. Eko ingin segera menyelesaikan pekerjaannya karna hari sudah mulai sore, sudah banyak toko mulai tutup dan mungkin truk gula itu juga truk terakhir di hari itu.
"Pak Eko....pak Eko..."
teriak Eva sambil berlari kecil di belakang Eko.Seketika Eko juga langsung menoleh.
"Iya...ada apa ya mbak..."
kata Eko dengan melihat Eva dari atas sampai bawah, melihat dengan tatapan menyelidik.
"Maaf pak saya mau bertanya tentang Toni .."
Eva mulai berhenti melangkah, karna Eko juga sudah berhenti di tempatnya menghadap Eva.
"Toni...?"
"Iya pak Toni..dia bercerita sering bekerja dengan bapak sebagai kuli panggul di pasar ini..."
"Oh iya maaf...saya baru ingat kalau namanya Toni...kenapa memangnya mbak..."
"Maaf pak...Toni kemana ya...dia semalam tidak pulang...apa memang ada lembur...atau dia bekerja di tempat lain mungkin kalau bapak tau.."
"Saya nggak tau mbak...Toni dari kemarin nggak kelihatan tuh...dia kemarin nggak ke pasar mbak....saya kira malah kemana....mbak istrinya ya..."
nggak ke pasar...kemarin bukannya dia berangkat pagi-pagi sekali ya..
__ADS_1
batin Eva heran.
"Emm...eh iya pak saya istrinya.."
kata Eva bingung ingin menjawab apa, kalau dia menjawab tidak apa yang akan di katakan orang nanti, apalagi mereka tinggal satu kost berdua.
"Dia sering cerita mencari uang buat hidupin wanita hamil katanya...makanya saya membantunya mencari kerjaan disini...ya meski cuma kuli panggul kalau dia tekun kerjanya kan ya lumayan ya mbak...apalagi susah cari kerjaan di jakarta ini kalau gak benar-benar ada pengalaman kan...Saya juga kasian sama dia sering kelihatan lelah dan ngantuk kalo lagi ngangkat barang...kadang sampai terjatuh juga pas bawa barang..."
kata Eko yang malah bercerita panjang lebar.
"Hehe iya pak...makanya saya khawatir...semalam Toni tidak pulang.."
"Loh nggak pulang kemana mbak..."
"Lah iya itu yang saya ingin tanyakan pada bapak...kemana Toni..apa dia nggak sama bapak .."
"Tidak mbak...kemarin Toni malah nggak datang ke pasar tuh...saya kira sakit atau kemana...soalnya dia nggak bilang apa-apa..."
Semakin bingung dan khawatir karna jawaban Eko, Eva pun memutuskan untuk kembali ke kostnya.
"Emm...ya sudah kalo gitu pak terimakasih ya...saya akan mencarinya di tempat lain..."
"Iya pak terimakasih ya..."
Eva pun beranjak pergi, sambil melihat-lihat ke sekitar pasar, siapa tahu dia melihat sosok Toni di antara banyaknya orang disana.
Sampai jalanan menuju kostnya Eva benar-benar tak menemukan keberadaan Toni dimana pun. Dia pun kembali masuk ke kamar kostnya. Masih tak ada Toni disana, yang ada hanya banyaknya pakaian yang menumpuk disana-sini karna belum terselesaikan oleh Eva.
"Toni sebenarnya kamu kemana sih...tiba-tiba hilang tanpa kabar..."
Eva pun yang lapar segera mengambil makanan, berharap setelah ini dia mendapatkan tenaga lagi, untuk meneruskan pekerjaannya yang masih menggunung.
Eva duduk di tikar biasa Toni tidur, dia makan disana dengan lahap, merasa ada sebuah pemandangan yang tak biasa di lihat Eva. Eva pun berusaha berfikir apa yang berbeda dengan kamar kostnya.
Eva mencari keberadaan tas Toni yang biasa ada di samping lemari, Tapi Eva tak berhasil menemukannya. Merasa ada yang tak beres, Eva segera membuka isi lemari kecilnya. Dan benar saja ternyata bagian pakaian Toni sudah kosong, menghilang semua tanpa sisa. Hanya menyisakan pakaian Eva saja disana.
__ADS_1
Eva juga mencari lagi beberapa barang Toni, semuanya sudah menghilang begitu saja.
"Kemana perginya semua barang-barang Toni...semua menghilang juga..."
"Bahkan aku sampai tak menyadarinya..karna terlalu sibuk dengan pekerjaanku..."
masih melihat-lihat kesegala arah dengan tatapan bingungnya.
Seketika Eva melemas dan berkata lirih dengan bibirnya.
"Apa dia juga meninggalkanku..."
kata Eva dengan wajah yang sedih.
"Tidak-tidak....Toni tak akan melakukan itu padaku...dia slalu bilang dia akan bertanggung jawab untuk semua ini...dia akan selalu bersamaku apapun yang terjadi....aku yakin dia pasti akan kembali..."
kata Eva lagi dengan wajah sedih.
"Apa Toni benar-benar marah padaku...karna aku yang ingin mempertahankan bayi ini...."
kata Eva lagi yang mengingat kejadian di malam itu, ia bertengkar dengan Toni karna bayi yang ada di rahimnya. Toni ingin Eva segera mengugurkannya karna di nilai bayi itu akan menurunkan sifat orang tua kandungnya, yang jelas sudah sangat di benci oleh Toni.
"Jika Toni benar-benar meninggalkanku...apa yang akan aku lakukan tanpanya....aku tak memiliki siapa-siapa lagi disini.."
kata Eva di iringi oleh air mata yang mulai membasahi pipinya.
Eva merasa takut menjalani kehidupannya sendiri tanpa Toni. Apalagi dia tak memiliki satu teman pun sekarang. Dia bingung harus memulai hidup dengan cara apa jika dia sendirian, apalagi dengan seorang bayi yang di kandungnya. Dan tentu ini juga pengalaman hamil pertamanya.
Dia takut terjadi sesuatu dengan bayi yang di kandungnya, belum lagi biaya hidup yang harus dia tanggung jika Toni benar-benar meninggalkannya.
Dia akan mengasuh sendiri anak yang bukan darah dagingnya, mengasuh sekaligus mencari nafkah sebagai orangtua tunggal.
Air matanya semakin deras saat mengingat orangtuanya, pulang pun tak mungkin ia lakukan.
Orangtuanya pasti akan sangat marah besar dan kecewa, karna satu-satunya anak perempuan yang menjadi harapan hidupnya harus hamil tanpa seorang suami di sampingnya.
__ADS_1
Tentu Eva juga akan semakin menjadi beban jika dia harus pulang, beban biaya hidupnya juga beban fitnah Eva sebagai wanita nakal yang hamil di luar nikah.
Bersambung...