
Malam telah tiba, suasana pun sudah gelap dan Eva baru saja tiba di terminal terdekat.
Eva duduk sejenak di sebuah bangku yang telah di sediakan di ruang tunggu.
Mengantre untuk membeli tiket bus ke tempat tujuannnya.
Di jam yang sudah malam seperti ini terminal yang di datangi oleh Eva masih cukup ramai.
Banyak yang mengantre di loket, hendak membeli tiket ke tempat tujuan mereka masing-masing.
Eva yang sedang duduk sendirian, mendapat tatapan aneh dari sekitarnya, sebagian juga menatap iba. Eva saat itu nampak sangat kacau, kulitnya tampak mengkilap karna keringat, pakaiannya lusuh karna seharian berjalan di jalanan tak tentu arah, membawa 2 tas yang cukup besar dan yang paling mendapat tatapan iba adalah perutnya yang besar. Apalagi dia datang tak di temani oleh siapapun, sendiri berjalan membawa tas-tas itu sendiri dengan raut wajah yang sedih.
Eva sendiri yang mendapat tatapan dari para calon penumpang bus tak menghiraukannya, dia enggan untuk menebak tatapan mereka, karna tubuhnya yang sudah sangat lelah berjalan seharian. Yang dia inginkan sekarang hanyalah segera naik bus dan tertidur di dalamnya, karna perjalanan yang panjang hampir memakan waktu kurang dari 20 jam perjalanan.
Eva yang melihat seorang pedagang berjalan membawa keranjang dagangannya, dengan berbagai camilan, kacang, permen manisan dan apapun yang enak untuk menemani perjalanan para penumpang. Eva melirik 1 makanan yaitu manisan mangga muda yang sangat menggiurkan untuknya, Eva segera memanggil dan membeli beberapa darinya.
astaga...aku benar-benar ingin makan mangga itu...terlihat enak sekali...tampaknya juga segar...batin Eva dengan air liur yang hampir menetes di sudut bibirnya.
Manisan sudah di tangan, dengan antusiasnya Eva segera melahap manisan mangga di tangannya.
"Emm...astaga ini enak sekali.."
kata Eva lirih, padahal mangga yang ada di tangannya terasa asam. Tapi entah kenapa Eva sangat menyukainya. Eva sampai menghabiskan 3 plastik manisan sekaligus.
Tak lama setelahnya, Eva pun maju untuk membeli tiket karna loket yang sudah sepi, antrian panjang pun sudah menghilang.
Sekarang Eva menunggu lagi waktu untuk keberangkatan bus yang masih 1 jam lagi. Tapi Informasi dari sang penjaga loket itu pun bisa bertambah karna menunggu jumlah penumpang bus yang searah dengan Eva penuh.
Cukup lama menunggu di sebuah bangku kayu, Eva merasakan sakit di bagian perutnya.
sedikit perih awalnya, tapi semakin lama semakin perih dan terasa sakit.
Kenapa dengan perutku ini...tak biasanya terasa sakit bergini...apa karna aku habis memakan manisan itu ya...
Batin Eva sambil berfikir.
lalu beberapa detik kemudian.
ya ampun aku lupa...aku memang belum memakan apapun sejak tadi siang....terakhir aku makan makanan pemberian dari wanita pemilik kost itu...tapi dengan bodohnya aku tergiur dan memakan mangga muda dalam keadaan perutku yang kosong...
batin Eva sambil menepuk keningnya sendiri merasa bodoh dengan tindakannya.
__ADS_1
Eva memandang di sekitarnya tak ada sama sekali orang yang berjulan nasi disana, hanya beberapa pedagang dengan makanan-makanan kecil di keranjang yang di bawanya.
"Aku harus segera menemukan penjual nasi..supaya perutku terisi dan tidak semakin perih seperti ini..."
Eva pun mulai berdiri, dan masih setia membawa kedua tasnya. Berjalan lagi di sepanjang bangunan terminal berharap menemukan satu saja seorang penjual nasi untuk dia beli.
Sudah berjalan ke seluruh bangunan terminal dengan perut yang semakin perih, tapi Eva sama sekali tak mendapati penjual nasi disana.
Dengan tubuh yang lelah, perut perih dan di tambah lagi pusing yang sekarang menyerang , Eva memutuskan ingin duduk kembali saja ke kursinya tadi, agar perih di perutnya tidak semakin menjadi.
Tapi masih berada jauh dari kursinya, tubuh Eva tiba-tiba ambruk ke belakang. Eva pingsan, sebagian orang yang melihatnya pun segera menolongnya. Dengan banyak pandangan iba, mereka melepaskan tas Eva dan menidurkannya di bangku panjang ruang tunggu tersebut.
"Siapa keluarga dari wanita ini..."
teriak salah satu pria yang baru saja membantu membopong Eva.
Tak ada jawaban dari siapapun disana, dia segera berteriak lagi.
"Apa ada yang mengenal wanita ini..."
Seorang wanita tiba-tiba bersuara.
Sebagian dari calon penumpang wanita disana, mengoleskan minyak kayu putih di hidung Eva, berharap Eva segera sadar dari pingsannya.
Masih sibuk dengan berbagai praduga dari semua calon penumpang disana, mereka membicarakan betapa iba nya mereka melihat Eva yang tak sadarkan diri tanpa ada seorang pun yang mengenalnya. Tiba-tiba seorang pria datang dan menghampiri dengan tergesa-gesa. Lalu segera berkata.
"Saya keluarganya..."
kata Pria itu dengan nafas terengah-engah.
"Wahh mas ini gimana sih....ini istrinya ya...kenapa di biarkan pergi sendiri sih...apalagi sedang dalam kondisi hamil begini.."
"Iya...lain kali jagain mas...kasian dia membawa tas sebesar ini....semenjak datang dia sudah terlihat lelah...."
"Jagain yang benar mas istrinya...sampe pingsan gini...masnya kemana aja..."
"Syukurlah ada keluarganya...aku tak tega melihatnya...."
Pria itu di cecar berbagai pertanyaan dari banyak orang di sekitar Eva. Sebagian dari mereka pun menghilang karna sudah menemukan seorang yang bertanggung jawab terhadap keadaan Eva.
Mata Eva juga terlihat mulai membuka, beberapa kali Eva tampak mengerjabkan matanya karna penglihatan yang masih buram.
__ADS_1
Pria di depan Eva mencoba memanggilnya menyadarkan dengan menepuk-nepuk pipinya.
"Eva..eva....sadarlah..."
kata pria itu pada Eva.
Penglihatan Eva yang mulai jelas menangkap sosok yang berada tepat di depannya.
"Kau....Toni..."
kata Eva dengan nada lemah.
"Ya...ya ini aku...sadarlah..."
kata Toni dengan nada yang khawatir.
Menyadari bahwa pria yang berada di depannya adalah benar-benar Toni. Eva segera bangun dari tempatnya dengan tubuh yang masih lemas Eva duduk di depan Toni.
"Jangan bangun dulu...kau belum benar- benar pulih..."
kata Toni sambil mencegah Eva yang sudah ingin beranjak untuk duduk.
"Kau benar-benar jahat...kenapa kau meninggalkanku sendirian...hah..."
kata Eva dengan wajah kesal tapi air matanya mengalir begitu saja di pipinya.
Terdengar beberapa orang yang berada di samping mereka berbicara.
"Ya ampun ternyata wanita ini kabur dari suaminya..."
"Eh bukan...mungkin si pria yang meninggalkan istrinya dalam keadaan hamil...kasian sekali..."
"Teryata hanya konflik rumah tangga...ayo kita pergi...aku tak mau terlibat di dalamnya..."
"Ayo-ayo bubar biarkan mereka menyelesaikan permasalahan rumah tangganya sendiri..."
Suara cercaan di samping mereka itu pun terdengar dengan jelas tapi sama sekali tak di respon oleh Toni maupun Eva, karna mereka berada dalam dunianya sendiri.
Orang-orang itu pun bubar, meninggalkan Eva yang sedang menangis menatap Toni. Sedangkan Toni tengah menatap Eva dengan wajah bingungnya.
Bersambung...
__ADS_1