Korban Rahim Sewaan

Korban Rahim Sewaan
Melahirkan


__ADS_3

Minggu-minggu berlalu dengan cepat, sampai pada waktu hari dimana Eva merasakan sakit menjelang persalinan di perutnya.


Pagi itu Eva bangun, dan melihat sebuah bercak darah di sprei tempatnya tertidur, dia juga merasakan sakit yang luar biasa di perutnya.


Eva pun segera membangunkan Toni,


"Apa kau mau melahirkan..."


kata Toni dengan paniknya, mengetahui bercak darah di sprei yang di tempati Eva


"Ntah lah...tapi perutku terasa sakit sekali Toni.." Kata Eva sambil mencengkram tangan Toni kuat-kuat.


"Kau pasti akan melahirkan...ayo..aku akan segera membawamu ke rumah sakit..."


Kata Toni berusaha melepaskan cengkraman Eva. Dan mengambil tas yang sudah di persiapakan untuk persalinan, juga uang yang sudah mereka tabung untuk biaya persalinan.


Tak ada kendaraan yang di miliki keduanya, akhirnya mereka memutuskan untuk menaiki angkutan umum untuk sampai di rumah sakit terdekat.


Untung saja yang supir yang mengerti keadaan Eva yang kesakitan karna segera melahirkan, dia mempercepat laju kendaraannya, hingga tak lama akhirnya sampai di rumah sakit.


Eva langsung di bawa Toni masuk ke dalam ruang gawat darurat, berharap dia segera mendapatkan penanganan.


Tapi bukannya langsung mendapatkan pertolongan, mereka masih harus antri karna ruang UGD yang sudah penuh dengan pasien.


"Mbak...ini istri saya akan segera melahirkan tolong segera tangani dia..."


kata Toni pada salah satu perawat.


Perawat itu memandang remeh pada Toni, karna penampilannya yang terlihat biasa saja. Dengan sinisnya dia menjawab


"Sabar ya pak...bapak harus antri dulu...karna pasien disini masih penuh...tunggu duduk disitu dulu...kami akan menangani yang lain dulu..."


kata perawat itu sambil berlalu pergi.


"Hei mbak...gak bisa begitu donk..."


kata Toni yang terputus begitu saja karna perawat yang berlalu pergi dengan cepat.


"Sabar Eva...apa rasanya sakit sekali..."


tanya Toni yang menghampiri Eva lagi.

__ADS_1


"Rasanya sakit sekali...tolong segera bawa aku ke dalam aku sudah tidak tahan..."


kata Eva dengan deraian airmata, menahan sakit di tubuhnya.


Merasa ada yang janggal dalam pelayanan rumah sakit. Baru saja datang seorang pasien menggunakan sebuah mobil, hanya dengan keluhan gatal-gatal di tubuhnya, dia malah langsung di tangani oleh para medis disana tak perlu antri lagi seperti Eva.


Merasa tak adil dengan pelayanan rumah sakit, apalagi mellihat Eva yang semakin kesakitan, membuat Toni semakin Emosi di buatnya.


Toni pun masuk ke dalam ruang UGD dan meluapkan emosinya disana.


"Mbak...ini istri saya sudah kesakitan dari tadi...tapi masih di suruh ngantri...lah ini ibunya datang malah langsung di tangani.."


Kata Toni membentak perawat yang meningalkan dia tadi.


"Mas sabar dulu donk...ini tempatnya masih penuh mas...nunggu ibu ini di masukkan dalam ruangan dulu..."


"Lihat istri saya mbak dia mau melahirkan...dia sudah sangat kesakitan...saya akan tuntut rumah sakit ini kalau sampai istri saya kenapa-napa..."


Merasa ancaman Toni adalah serius, sang petugas kesehatan yang lain menyarankan untuk menaruh Eva di bed tambahan agar Toni tidak semakin marah-marah.


Toni masih terus saja mencaci, tidak peduli dengan para pasien yang ada, dia terus saja meluapkan emosinya, sampai Eva mendapatkan tempat untuk dia berbaring dan segera di tangani.


Eva sudah berbaring di bed pasien, dia masih saja menggeliat-geliat kesana kemari, merasakan sakit luar biasa di dalam perutnya.


Beberapa menit berlalu, Eva merasakan dirinya yang ingin mendorong bayinya keluar, segera menyuruh Toni untuk memanggil siapa saja yang bisa menolongnya.


"Mbak itu tolong istri saya sepertinya mau melahirkan sekarang...tolong mbak lihat...mbak bantu dulu..."


kata Toni pada salah seorang perawat yang sedang menangani pasien lain.


"Bapak bilang pada mbak satunya ya...saya masih tangani ini..."


Toni pun berlalu, berkata pada beberapa perawat disana, lalu kembali kepada Eva dan menenangkannya lagi.


para perawat itu tak ada yang menghampiri Eva, semua sibuk dengan pekerjaannya.


"Toni bayi ini sepertinya mau keluar dari sana...."


kata Eva sambil meringis kesakitan.


"Aku sudah bilang pada mereka... tapi ntah kenapa tak ada seorang pun yang menghampiri kita..."

__ADS_1


Lalu tiba-tiba Eva mendorong bayinya dengan sangat kuat, mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengeluarkan sang bayi. Dan benar saja akhirnya sang bayi keluar tanpa bantuan para medis, Eva berjuang sendiri di dampingi oleh Toni di sampingnya, tanpa adanya satu perawat pun disana.


Mendengar tangisan sang bayi yang sangat keras, para perawat baru berdatangan ke bed Eva, menanganinya memeriksa keadaan Eva dan bayinya.


Bayi yang masih berlumuran darah di bawa oleh sang perawat untuk mendapatkan perawatan lanjutan. Toni tak begitu menghiraukan bayi itu, karna dia memang tak begitu mengharapkan kehadirannya. Dia sangat khawatir dengan keadaan Eva yang terlihat lemah.


Setelah menjalani berbagai pemeriksaan, Eva di pindahkan ke ruangan lain. Dia pun yang sudah mulai stabil bertanya pada Toni.


"Toni bagaimana keadaan bayi itu..."


kata Eva dengan nada lemah.


"Aku tak tau bagaiman keadaannya....aku tak melihatnya tadi..dia dibawa oleh sang perawat..."


Kecemasan terlihat jelas di wajah Eva, dia pun terdiam tak meneruskan lagi kalimatnya.


apapun keadaannya aku harus menerima dan merawatnya dengan baik nanti...


batin Eva.


Tak lama setelahnya sang perawat datang membawa seorang bayi pada mereka.


"Ini bayi anda bu......tolong segera di susui ya..."


kata perawat lain yang terlihat lebih sabar dan sopan dari sebelumnya.


Toni yang melihat seorang bayi di bawa ke hadapannya, dengan impulsifnya bertanya.


" Apa dia baik-baik saja..."


berniat ingin bertanya keadaannya, bukan tentang kecacatannya, karna Toni sudah membayangkan bagaimana postur tubuhnya sesuai apa yang di lihatnya dulu waktu USG, dia hanya ingin tau keadaan kesehatannya.


"Tentu saja bayi anda baik-baik saja pak...anak bapak lahir dengan sehat dan sempurna...ini...tolong di susui dulu ya...saya akan mengantar bayi ke pasien lain..."


kata perawat itu memberikan bayi pada Toni dan berlalu pergi.


sehat dan sempurna...


batin keduanya mendengar jawaban dari sang perawat.


Toni yang sedang menggendongnya, segera saja membuka bedong yang melilit tubuh sang bayi dengan hati-hati. Dia ingin melihat bagian kakinya, apakah benar dia cacat lahir seperti yang pernah di prediksi.

__ADS_1


Sementara Eva melihat bayi itu juga dengan penasaran, kulitnya terlihat putih bersih jauh dari kulit Eva dan Toni, yang memiliki kulit sawo matang dan hitam. Bayi itu memiliki kulit yang putih bersih dan juga wajah yang sangat tampan, hidung mancung, bibir mungil yang merah, dia terlihat sangat menggemaskan di mata Eva, yang selama ini memang menantikan kehadirannya, tak peduli dengan apapun keadaannya.


Bersambung...


__ADS_2