Korban Rahim Sewaan

Korban Rahim Sewaan
Sempurna


__ADS_3

Ketika Toni berhasil membuka bedong sang bayi, terlihatlah sepasang kaki mungil yang sempurna. Keduanya bahkan bergerak-gerak dengan normal. Kaki mungil yang putih bersih itu bergerak perlahan menendang-nendang tangan Toni yang tak percaya dengan apa yang di lihat, dia memegang kaki itu, menyamakan antara yang satu dengan yang lainnya.


Tiba-tiba buliran airmata membasahi pipi Toni. Teryata apa yang sudah di prediksi lewat alat yang canggih sekalipun, tidak bisa mengalahkan kekuasaan Tuhan, yang ingin bayi itu hidup normal seperti anak yang lainnya.


"Di..dia sempurna Eva...dia sempurna.."


kata Toni sampai terbata karna menahan tangis yang begitu saja keluar dari ujung matanya.


Eva pun sama, dia melihat juga kedua kaki yang sempurna, seketika tangisnya juga pecah. Toni memberikan bayi itu pada Eva, Eva pun menggendongnya dengan sangat hati-hati.


Di elusnya pipi lembut itu oleh Eva.


bayi setampan dan sesempurna dirimu...harus hidup dengan orangtua seperti kami...yang mungkin belum bisa menghidupimu dengan layak...seperti orangtua kandungmu..tapi apapun yang terjadi nanti...kami akan berusaha membuatmu bahagia mempunyai orangtua seperti kami...


Batin Eva sambil menangis menatap iba pada bayi itu.


Seketika Eva menatap Toni dengan pandangan yang berbeda.


"Kau kenapa menangis..."


"Tak apa...aku hanya terharu...Tuhan telah memberikan keajaibannya pada bayi ini..."


kata Toni sambil mengusap air matanya.


"Kau tak berniat memberikan bayi ini pada mereka kan...demi Tuhan aku tak rela jika kau sampai melakukannya...".


" Tidak Eva...sungguh aku tak ada niatan sama sekali untuk melakukan itu....aku juga tak rela jika mereka sampai bertemu dengan anak mereka....aku masih ingat betul..apa saja yang telah kita alami untuk mempertahankan bayi ini...dan kini terbayar sudah dengan di berikannya bayi yang sangat sempurna untuk kita...kita akan merawatnya...dia anak kita mulai sekarang..."


kata Toni sambil tersenyum, mengelus rambut Eva.


Mendengar jawaban dari Toni, seketika Eva tersenyum lebar.


"Berjanjilah padaku...jangan pernah tinggalkan aku lagi dan anak ini..."


"Ya aku berjanji...aku akan bertanggung jawab dengan semua ini...anggap saja kita di berikan seorang malaikat tampan dalam hidup kita...kita akan menjaganya dengan sebaik-baiknya...berusaha menjadi orangtua yang baik...meski dengan keadaan kita yang seperti sekarang...tapi tenang saja aku akan berusaha memberikan kehidupan yang layak untuk keluarga kecil kita..."


kata Toni lagi sambil tersenyum memandang bayi yang berada dalam gendongan Eva.


"Maafkan aku yang tak bisa memberikan kehidupan mewah untukmu...tapi setidaknya aku dan ibu yang telah mengandungmu ini...tak pernah membuang dan meninggalkanmu...kami akan merawatmu...dan kami sayang padamu..."


kata Toni lagi sambil mencium pipi bayi itu.

__ADS_1


Melihat Toni yang sangat bahagia dengan kehadiran bayi yang sebelumnya dia benci, Eva juga merasa bahagia. Ntah sejak kapan tumbuh sikap saling peduli dan khawatir diantara keduanya. Mungkin karna mereka yang selalu bersama-sama, ikatan suami istri yang sebelumnya terjalin karna paksaan orang tua Eva. Kini rupanya menjadi ikatan yang membuat keduanya semakin dekat, dan menjadi suami istri sungguhan. Dengan rasa cinta dan kasih sayang yang sudah tumbuh di antara keduanya, tapi belum disadari sama sekali oleh mereka.


"Kita beri nama dia siapa Toni.."


kata Eva sambil terus mengelus lembut pipi bayi mungil itu.


"Terserah kau saja...tak masalah dengan sebuah nama, siapapun itu....tapi sungguh aku masih tak menyangka di usiaku yang sekarang aku telah mempunyai sebuah keluarga kecil...ya meski dengan cara yang tidak wajar..."


kata Toni sambil duduk di samping Eva, memeluk bahunya dan menatap bayi yang ada di gendongan Eva.


"Hehe...anggap saja semua itu adalah sebuah takdir untuk kita..."


"Ya kau benar...takdir memiliki seorang anak yang sangat tampan seperti dia bukan...mungkin orang-orang nanti akan berfikir jika kau telah selingkuh dariku..karna lihat saja ini.."


Toni menyandingkan tangannya yang hitam di samping bayi yang putih bersih itu.


"Aku dan dia bahkan bagai langit dan bumi..."


kata Toni sambil menahan tawa.


Eva pun tak dapat menahan tawanya, dia sampai tertawa kencang karna ulah Toni itu.


kata Toni menghentikan tawa antara mereka berdua.


"Emm...aku beri nama dia Adhitama...bagaimana..."


"Emm...bagus juga...aku setuju...dan kita akan memanggilnya dengan panggilan Tama..."


Sore itu, Eva sudah di perbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit karna keadaannya yang sudah stabil. Toni harus membayarkan sejumlah uang untuk biaya Eva bersalin di rumah sakit tersebut.


Cukup terkaget karna biaya yang harus di bayarkan tidaklah sedikit, padahal disana Eva tak mendapatkan pelayanan yang baik. Eva bahkan melahirkan sendiri tanpa bantuan siapa pun, tapi dia harus membayarkan dengan jumlah normal seperti yang lainnya.


Pelayanan rumah sakit yang di nilai Toni mengesampingkan orang-orang miskin membuatnya kesal, sepanjang perjalanan pulang, Toni terus saja mengumpati pihak rumah sakit yang di nilainya tak adil dalam pelayanan.


"Sungguh aku tak ihklas membayarkan uang pada rumah sakit yang bahkan memandang kita rendah..."


"Sudahlah Toni...jangan di ingat-ingat lagi...kita memang bukan orang kaya...dengan melihat penampilan kita...mungkin mereka takut kita tak bisa membayarnya...untuk itulah mereka tak melakukan pelayanan yang sepenuhnya.."


"Mungkin...tapi tak bisa begitu...kita bahkan membayarkan biaya yang sama seperti yang lainnya...tapi dengan pelayanan yang tak baik....kau bahkan mengeluarkan bayi itu dengan usahamu sendiri bukan..."


"Iya...iya...sudah lah...yang terpentingkan semua sudah selesai..."

__ADS_1


Tak sampai disitu, Toni masih saja mengumpati para perawat yang ada di rumah sakit sampai angkutan umum yang membawa mereka pulang sampai di jalanan kost nya.


Telah sampai di rumah, para tetangga kost yang melihat bayi mereka mengatakan.


"Apa benar ini anak kalian..."


"Sungguh dia tampan sekali...kau ngidam apa Eva ketika hamil..artis korea ya..."


"Ya ampun bagaimana bisa dia memiliki kulit seputih ini..."


"Dia benar-benar seperti malaikat..."


"Apa bayi kalian tak tertukar oleh bayi orang lain..."


"Kenapa sama sekali tak mirip dengan kalian..."


"Dia menurunkan kulit putih bersih dari siapa Eva..."


Berbagai macam pertanyaan terlontar pada mereka, yang jelas membuat mereka bingung untuk menjawabnya. Mereka hanya tersenyum dan berkata.."Ntahlah...mungkin ini sudah takdir dari Tuhan...Tuhan telah memberikan kami seorang malaikat kecilnya yang sangat tampan..."


Sore itu juga Eva mengabari kedua orangtuanya, bahwa dia telah melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat dan sempurna.


Orangtua Eva pun dengan bahagia berjanji untuk segera mengunjungi cucu pertama mereka itu secepatnya.


Bersambung....


.


.


.


.


.


Tinggalkan jejak dengan like n coment ya....


jangan lupa favorit, vote dan hadiahnya supaya author rajin updatenya....hehe


Salam manis dan sehat selalu....💞💞💞

__ADS_1


__ADS_2