
Eva sama sekali tak menolak di peluk oleh Toni. Dia malah semakin terisak di dalam pelukannya, semakin melampiaskan segala kekesalan dan kesedihannya dengan air matanya.
Merasa sudah cukup lama, Isak Eva pun sudah mulai mereda, perlahan Toni melepaskan pelukannya.
"Sudah ya...aku mohon maafkan aku...aku memang bersalah padamu...maafkan aku ya..."
kata Toni sambil memandang Eva lekat.
Eva tak menjawab, dia hanya berusaha menyeka airmata yang ada di pipinya.
"Kau pasti kelelahan seharian ini.....apa kau sudah makan...ini aku bawakan makanan untukmu..."
kata Toni sambil tersenyum menghibur Eva, dan mengambil kantong yang berisi nasi bungkus yang dia bawa sedari tadi.
Kebetulan sekali dia membawa nasi....sungguh aku sangat lapar...
batin Eva yang mulai merasakan kembali perutnya yang sakit.
Melihat bungkusan nasi yang di sodorkan Toni padanya, Eva seperti tak asing dengan bungkusan itu. Dengan cepat Eva segera bertanya pada Toni.
"Jadi kau yang selalu mengirimkan makanan padaku setiap hari..."
kata Eva dengan wajah penuh menyelidik.
"Ya...aku yang mengirimnya..maaf hanya itu yang bisa aku lakukan untukmu..."
kata Toni dengan wajah tertunduk.
astaga...teryata Toni selama ini tidak benar-benar meninggalkanku...bahkan dia masih memikirkanku...dan sering mengunjungiku walau hanya memberi sebuah makanan tanpa bertemu denganku...aku telah salah dengan pemikiranku....
batin Eva, sambil menerima bungkusan nasi dan segera melahapnya, karna dia tak mau perutnya semakin terasa sakit.
Sama-sama merasa lapar keduanya pun dengan cepat menghabiskan porsi masing-masing dengan lahap.
Telah selesai dengan makanannya, Toni pun bertanya pada Eva.
"Lalu kau berada di terminal ini untuk apa...apa kau mau bermalam disini...pasti sangat dingin...lebih baik kau ikut aku kembali ke kost ku...kita tidur disana ya..."
"Aku akan pulang ke rumah orang tuaku..."
kata Eva ringan sambil menunjukkan tiket yang ada di saku jaketnya.
"Pulang...."
kata Toni dengan mata terbelalak.
"Kau mau pulang...lalu bagaimana dengan orang tuamu nanti...apa mereka mau menerimamu dengan kondisimu sekarang...kau sudah gila ya..."
__ADS_1
imbuh Toni lagi dengan nada terkejutnya.
"Tak ada lagi yang dapat aku lakukan sekarang...hanya mereka tujuan terakhirku...mereka tempatku untuk pulang..."
"Tidak....kau tak akan pulang...ayo ikut aku ke kost baru ku...kita akan tinggal disana...aku janji aku tak akan meninggalkanmu lagi.."
"Tidak Toni...aku tak mau kau terpaksa melakukan ini semua...jika kau ingin pergi pergilah...aku tak akan mencegahmu...kau bisa hidup tenang tanpaku...aku yang akan menanggung semua ini bersama orangtuaku...apapun reaksi mereka nanti aku akan menerimanya..."
"Aku berjanji aku tak akan meninggalkanmu Eva...tapi fikirkanlah..bagaimana perasaan orangtuamu nanti jika tau keadaanmu yang seperti ini...aku yakin mereka akan marah padamu...dan aku tak bisa membayangkan tentang itu..."
"Biarlah...aku yang akan menanggungnya..."
Toni masih terus membujuk Eva dengan berbagai alasan, agar Eva membatalkan rencana kepulangannya ke rumah orang tuanya. Tapi Eva masih teguh dengan pendiriannya dan akan tetap pulang malam itu juga.
Setelah berdebat banyak keduanya pun terdiam cukup lama, tenggelam dalam fikirna masing-masing. Sampai Toni akhirnya memecah keheningan dengan berkata.
"Kalau begitu aku akan ikut pulang bersamamu...kita hadapi bersama kemarahan orangtuamu..."
kata Toni sambil menatap lurus ke depan.
"Apaa...tidak Toni kau..."
Eva terdiam seketika saat tiba-tiba Toni menutup mulut Eva dengan satu jarinya.
"Diamlah...ini sebagai bentuk tanggung jawabku kepadamu...maka jangan menolaknya...aku sudah berjanji aku tak akan meninggalkanmu lagi....maka aku akan ikut bersamamu..."
Malam itu pun mereka akhirnya melakukan perjalanan pulang ke rumah Eva.
Perjalanan hampir memakan waktu 20 jam, mereka duduk berdampingan, berbincang apapun kadang juga terlihat tertidur bersama, dengan Eva yang bersandar di bahu Toni.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka sampai di desa Eva tinggal selama ini. Setelah naik bus keduanya harus naik angkutan umum lagi untuk mencapai rumah Eva yang berada di pelosok desa dengan banyak persawahan.
Angkutan umum sudah berhenti, Eva dan Toni tinggal berjalan beberapa meter untuk sampai di rumah Eva.
Sore itu Eva yang sudah berada di depan pintu rumahnya, jantungnya sangat berdebar karna takut dengan reaksi orangtuanya. Eva juga membawa tas jinjingnya di depan perut, bertujuan untuk menutupi perut buncitnya.
Pintu di ketuk, tak lama muncullah ibu Eva bernama Siti yang terlihat dengan rambut basahnya, rupanya dia baru saja mandi.
Ibu Eva baru saja pulang dari menggarap ladang bersama suaminya. Baru selesai mandi, ingin duduk dan mengistirahatkan diri tapi tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
"Evaaa...."
kata ibunya dengan mata berbinar senang, melihat anaknya yang sudah 2 tahun lebih tidak pulang.
"Ibu..."
kata Eva sedikit dengan nada bergetar, tangannya sedari tadi sudah basah oleh keringat.
__ADS_1
Siti merentangkan tangannya memeluk Eva bersemangat, tangannya sudah memeluk bahu Eva tapi Siti merasakan sesuatu yang mengganjal pada diri anak gadisnya ini. Apalagi Eva yang enggan menyingkirkan tas jinjing dari depan perutnya.
Merasa ada yang aneh, Siti segera melihat ke arah bawah tubuh Eva. Melihat perut buncit yang tidak bisa Eva di tutupi lagi.
Seketika ibunya mundur beberapa langkah dan menetap Eva dengan penuh tanya.
"Kau...kau hamil Eva..."
kata Ibunya dengan terbata.
Seketika itu juga Siti baru menyadari di belakang Eva ada seorang pria yang berdiri tepat di belakang Eva.
"Di...dia suamimu..."
katanya lagi sambil menunjuk Toni.
"Siapa buk..."
Suara ayah Eva bernama Joni, yang terdengar dari dalam, lalu tak lama kemudian terlihat juga keluar rumah melihat siapa yang datang.
Melihat tatapan aneh Siti yang berada di ambang pintu, Joni segera saja melihat siapa yang datang.
Tak bisa berkata apa-apa karna begitu melihat ke luar Joni seketika fokus dengan perut buncit itu, lalu segera melihat wajah siapa yang datang di sore hari kerumahnya.
"E...eva..."
kata Joni tak kalah kagetnya.
Melihat tatapan terkejut dari kedua orangtuanya, Eva segera melepas tas jinjingnya dan berlutut di depan orangtuanya.
"Maafkan aku ibu....maafkan aku ayah..."
kata Eva dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi...kau menikah tanpa memberitahu kami nak..."
kata Joni dengan menaruh kedua tangannya di bahu Eva, hendak membantunya untuk berdiri.
"Tidak ayah..aku belum menikah...dia bukan suamiku...."
Kata Eva lagi masih terisak dan menunduk dalam.
"Jadi kau hamil di luar nikah..begitu maksudmu.."
kata Joni dengan wajah yang sudah menunjukkan amarahnya.
Bersambung....
__ADS_1