Korban Rahim Sewaan

Korban Rahim Sewaan
Di maafkan


__ADS_3

Mereka berdua pun malam itu tidur di kamar berdua, sebagai sepasang suami istri.


Pagi itu Toni dan Eva terbangun di waktu yang sama, rupanya sinar mentari belum menampakkan diri tapi mereka sudah terbangun karna suara-suara seorang memasak di dapur.


Kamar Eva memang berada di urutan paling belakang, tepat di dekat dapur.


Eva dan Toni pun segera terbangun, keduanya menatap bingung apa yang harus mereka lakukan sepagi ini.


Toni bingung hendak melakukan apa di rumah mertuanya karna dia juga tak memiliki pekerjaan disana.


Sementara Eva bingung karna berada di dekat orangtuanya dia merasa canggung karna apa yang baru saja terjadi di antara mereka.


Akhirnya keduanya pun memutuskan untuk keluar kamar, Toni yang keluar untuk ke kamar mandi. Sedangkan Eva yang keluar untuk membantu ibunya memasak di dapur.


"Bu...apa yang akan ibu masak hari ini.."


kata Eva menyapa lebih dulu.


"Ini..ibu akan memasak sup dan menggoreng tempe juga membuat sambal..."


kata ibu Eva sambil tersenyum tipis padanya.


Melihat sedikit senyum dari ibunya, Eva seketika merasa bahagia. Karna setelah semua kesalahfahaman yang terjadi ibunya ternyata masih memaafkannya


"Ibu tak marah denganku..."


"Marah pun percuma...semua sudah terjadi bukan...ibu memaafkanmu...begitu juga ayahmu..."


"Benarkah ibu..terimakasih ibu...sudah memaafkan ku..."


Kata Eva sambil memeluk ibunya dari belakang.


"Iya sudah-sudah..jangan melakukan hal seperti ini Eva...kau bisa menyakitinya nanti.."


"Tenang saja bu itu tak akan menyakitinya..."


Hubungan Eva dan ibunya pun berjalan seperti biasanya, mereka memasak bersama hingga semua masakan tersaji di meja.


Sementara Toni yang baru saja selesai dari kamar mandi. Dia keluar rumah merasakan udara sejuk yang tak pernah dia rasakan selama berada di kota jakarta. Udaranya juga dingin, tapi sama sekali tak membuat Toni kedinginan. Dia malah sangat menikmati udara dingin pagi hari disana.


Toni melihat ayah mertuanya yang tengah membersihkan cangkul di samping rumahnya. Merasa tak ada lagi yang bisa Toni lakukan disana, akhirnya dia menghampiri Joni dan berbasa-basi dengannya.


"Emm...sedang apa pak..."

__ADS_1


meskipun dia tak menjawab pun aku akan tetap bertanya...aku tau dia marah padaku..tapi aku tak akan hanya diam saja...aku bahkan akan bertanya sampai dia menjawabnya.


batin Toni yang merasa canggung ketika sapaannya tak segera di jawab oleh ayah mertuanya.


"Maaf....atas sikapku kemarin padamu...apa masih sakit...."


kata ayah Eva sambil memandang Toni sekilas.


Pertanyaannya tak di jawab tapi kini ayah mertuanya malah bertanya tentang keadaannya. Toni yang terkaget karna reaksi Joni yang tak terduga malah terdiam.


"Maaf aku hanya terbawa emosi waktu itu...aku tak menyangka semua akan terjadi..."


"Tidak apa pak...saya pantas mendapatkan semua...saya memang salah..."


"Salah atau tidaknya kau..aku sudah menganggap semua ini adalah takdir..."


"Maafkan saya pak...tapi saya berjanji akan bertanggung jawab pada Eva dan kehamilannya..."


Percakapan mereka masih banyak lagi, meminta maaf satu sama lain. Percakapan berhenti saat Eva berteriak memanggil bahwa lauk sudah matang dan sarapan sudah terhidang.


Mereka pun makan bersama di ruang keluarga ala kadarnya, bersama-sama dengan adik Eva yang baru saja terbangun dari tidurnya.


Terjadi keheningan saat sarapan bersama. Meski mereka telah saling memaafkan tapi baik Eva maupun Toni masih merasa canggung jika berada di antara orang tua Eva. Keduanya ingat lagi betapa marahnya kedua orangtuanya saat pertama kali mereka datang, apalagi saat melihat Toni dengan tubuh lebam disana sini.


"Apa kalian berencana tinggal disini.."


Toni tak menjawab, dia hanya memandang Eva. Toni sendiri tak tau bagaimana jalan hidupnya kini yang semakin rumit saja dan jauh dari segala bayangannya dulu. Dia sekarang lebih pasrah dengan segala keputusan Eva ke depannya.


Eva yang mengerti arti pandangan dari Toni pun menjawab.


"Iya ayah...sepertinya kami akan tinggal disini...apa ayah keberatan..."


kata Eva memelas pada ayahnya.


"Tidak Eva..tinggallah...tapi Toni berarti juga harus bekerja disini bukan...untuk biaya hidup kalian.."


"Benar pak...tapi saya harus bekerja apa di desa ini...saya tak mempunyai banyak pengalaman dalam bekerja..."


kata Toni menimpali.


"Kau bisa ikut aku bekerja di ladang..."


jawab Joni.

__ADS_1


"Ya...ayah akan mengajarimu bekerja di ladang...di desa kami tak ada lagi pekerjaan kecuali merawat ladang..karna 80 persen area dari desa ini terdiri dari persawahan..."


kata Siti menimpali.


"Baiklah ayah...ibu ...Toni mungkin akan ikut ayah untuk bekerja mulai besok...sekarang biarkan dia beristirahat dulu.."


kata Eva menatap iba pada Toni, karna luka-luka di tubuhnya.


percakapan pun mengalir begitu saja, sampai sarapan di masing-masing piring mereka kandas sepenuhnya.


waktu pun berlalu, sore itu saat Siti dan Eva sedang duduk di depan rumahnya. Sekedar berbincang-bincang hangat. Mengingat masa kecil Eva dulu, sambil melihat adik-adik Eva yang bermain kejar-kejaran di depannya.


Tiba-tiba sesosok pria bertubuh gendut datang menghampiri mereka. Dan berkata dengan suara khasnya.


"Sudah lama nggak pulang...ehh pulang-pulang udah bunting aja nihh...bunting sama pria miskin lagi...nyesel nggak...tau gitu kan enak nikah sama aku...hidup kalian jadi makmur..."


kata pria itu dengan sombongnya, dan ternyata dia adalah pak Erman.


Eva hanya terdiam, dia hanya melirik pria itu sekilas, lalu mengelus perutnya dengan lembut tanpa memperdulikan perkataan pria di hadapannya yang dia benci sedari dulu.


Sementara ibunya hanya tersenyum malu pada pak Erman tanpa menjawab apapun.


Tak mendengar jawaban apapun dari mereka berdua pak Erman kembali berkata.


" Tapi kau masih kelihatan cantik Eva...meski keadaanmu yang sedang bunting itu...jika kau mau...kau bisa meninggalkan pria miskin mu itu dan menikah denganku....aku akan bertanggung jawab dengan anakmu...menghidupi satu anak sama sekali bukan beban untukku...bagaimana ..."


kata Erman dengan senyum menyeringainya pada Eva.


Eva melirik senyum itu, yang membuat Eva malah bergidik ngeri.


dia masih saja pria yang menjijikkan seperti dulu....sungguh aku benci dengan senyumannya itu...


batin Eva melihat ke arah pak Erman dengan tatapan geli.


Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari arah dalam rumah.


"Saya masih bisa menghidupi istri dan anak saya pak...tak perlu bapak menawarkan bantuan seperti itu...karna saya masih sanggup bekerja untuk menghidupinya..."


kata Toni sambil berjalan keluar menghampiri Erman dengan wajah kesalnya.


Ntah rasa cemburu atau apa, Toni seakan tak rela jika Eva jatuh dalam pelukan pria yang ada di hadapannya itu. Toni juga sudah tau siapa dia, lewat penuturan Eva yang sudah bercerita banyak tentang semua di kehidupannya.


"Oh jadi ini toh....pria miskin pilihanmu itu..."

__ADS_1


Erman menatap Toni dengan pandangan merendahkan.


Bersambung....


__ADS_2