
Seminggu setelah kelahiran Tama. Orang tua Eva baru mengunjungi mereka ke kota jakarta. Mereka baru pertama kali menginjakkan kaki di sana.
Cukup kesulitan mencari alamat Eva karna kota jakarta yang sangat luas itu, belum lagi kedua orangtua Eva sama sekali tak pernah kesana dan tak mengerti jalan-jalan perkotaan disana.
Hampir setengah hari mereka berdua berputar-putar di ibu kota, hingga akhirnya bertemu dengan alamat kost Eva.
Adik-adiknya tak ikut mengunjungi Eva, mereka di titipkan di rumah saudara Eva di desa.
Eva yang kala itu, baru akan tidur siang mendengar suara ketukan pintu, dia pun membukanya.
"Ayah...ibu...."
kata Eva sambil memeluk keduanya bergantian.
"Ya ampun Eva sulit sekali mencari tempat tinggalmu...kami sudah datang sedari pagi...kami berputar-putar tak tentu arah mencari rumahmu ini..."
kata ibu Eva dengan wajah yang berkeringat dan sudah nampak lelah.
"Astaga...jadi kalian sudah sampai sedari pagi... kan sudah aku bilang, naik angkutan umum ke arah utara setelah tiba di stasiun...jalanan hanya lurus maka kalian akan sampai disini...."
kata Eva yang tak enak hati melihat kedua orangtuanya yang terlihat sangat kelelahan.
"Kami bingung Eva...menentukan arah disini...dimana utara dimana selatan kami tak tau..."
kata ayah Eva dengan wajah yang lelah juga.
"Sudah...sudah ayo masuk dulu...ayah dan ibu istirahat dulu..."
"Dimana Toni..."
"Dia masih bekerja bu...nanti sore baru pulang..."
"Oh iya dimana cucuku...aku ingin melihatnya..."
kata Ayah Eva kembali bersemangat, mengingat tujuannya kembali berkunjung ke rumah Eva.
"Oh iya aku sampai lupa...dimana dia..."
kata ibu Eva tak kalah antusiasnya.
__ADS_1
"Hehe...itu dia baru saja tertidur...."
Eva menunjuk Tama yang sedang terbaring memejamkan mata di tengah ranjang.
"Dia cucuku..."
kata ayah dan ibu Eva serentak melihat Eva dengan wajah yang terkaget.
"Iya ayah...ibu...memangnya cucu siapa lagi..."
"Ya Tuhan dia tampan sekali..."
kata ibu Eva semakin mendekat pada Tama.
"Dia sama sekali tak mirip denganmu Eva...juga dengan Toni..kulitnya begitu putih...anak siapa dia sebenarnya Eva..."
"Astaga ayaah....jelas dia adalah anakku...anak siapa lagi...Mungkin Tuhan memang telah menitipkan malaikat tampannya pada kami...hingga wajahnya sangat tampan seperti itu...lihatlah dia begitu menggemaskan..."
Kata Eva dengan bangga menatap Tama yang masih tertidur pulas.
Percakapan mereka pun terus berlanjut, orang tua Eva masih saja bertanya tentang Tama, mereka masih tak percaya cucunya terlahir sangat tampan seperti itu. Juga kulitnya yang putih membuat mereka semakin terus bertanya pada Eva.
Selama 3 hari orangtua Eva berada disana, keberadaan orangtuanya cukup membantu Eva dalam menjaga Tama. Baik Eva, Toni dan kedua orangtuanya sangat menyayangi Tama sebagai keluarga baru mereka.
Hari-hari pun terus berlalu, Toni tetap dengan rutinitasnya yaitu bekerja paruh waktu di restorant juga sebagai tukang parkir. Kebutuhan keluarga kecilnya dapat terpenuhi dari sana, meski Toni harus bekerja keras siang dan malam. Kini dia merasa bahagia dalam menjalaninya karna ada Tama. Si kecil menggemaskan yang selalu dia rindukan ketika bekerja juga sebagai sumber semangatnya dalam mencari uang setiap harinya.
Eva yang pada awalnya kewalahan dalam mengasuh Tama sendirian, apalagi saat Toni bekerja. Kini dia sudah terbiasa, dia bahkan ingin mencari kesibukan lain untuk harinya. Eva ingin membantu Toni dalam mencari uang tambahan untuk kebutuhannya.
Ide Eva itu di sambut baik oleh Toni. Toni mencarikan modal untuk Eva yang ingin berjualan online di rumah sambil mengasuh bayinya.
Eva tak ingin berdiam diri, dia berfikir dengan begitu sedikit banyak dia akan bisa membantu perekonomian keluarganya agar lebih baik lagi.
Meski kini Toni sudah dapat mencukupi semua kebutuhannya dan Tama, Eva masih ingin membantu untuk menghasilkan uang, untuk tabungan mereka di masa depan.
Jualan online yang Eva kendalikan dari rumah cukup bisa di andalkan. Cukup banyak orang yang membeli barang yang di jual Eva. Di jaman sekarang semua serba online, orang malas keluar rumah hanya untuk membeli sebuah barang, mereka lebih ingin barang di antarkan ke rumah mereka, apalagi jika barang itu harganya cukup ramah di kantong.
Dari hasil jualan online itu Eva bisa kembali mengirimkan uang kepada orangtuanya, membantu untuk keperluan pendidikan adik-adiknya. Dia juga bisa menabung untuk masa depan keluarga kecilnya.
Bulan-bulan pun berlalu, kini Tama sudah berusia 5 bulan, Dia sudah mengerti jika diajak bicara. Kadang tersenyum kadang juga tertawa merespon setiap kata yang di lontarkan Eva maupun Toni. Keadaan itu membuat Toni semakin tak bisa jauh dari Tama. Senyumnya yang menawan dan menggemaskan selalu terbayang saat dia tengah bekerja. Toni selalu ingin segera pulang dan bercanda menggodai Tama, melihat dan mendengar tawanya.
__ADS_1
Pagi itu, seorang kurir paket datang ke rumah Eva untuk mengambil beberapa paket yang akan di kirimkan Eva. Karna seringnya Eva memakai jasa kirim tersebut untuk mengirim jualan online nya. Pihak jasa kirim memberikan pelayanan khusus untuk Eva, dengan mengambil barang ke rumahnya, jadi Eva tak perlu lagi berjalan jauh untuk mengantarkan paket ke kantor jasa kirim.
"Ini sudah semua kah mbak..."
tanya sang kurir memastikan paket yang di kirmkan Eva apakah ada yang tertinggal.
"Sudah semua kok mas...jualan agak sepi buat hari ini...tapi masih lumayan lah..."
"Iya mbak...di syukuri aja...namanya juga usaha pasti ada pasang surutnya..."
"Hehe iya mas bener....tapi kalo udah rejeki mah gak akan ketuker..."
"Hehe iya mbak...saya doakan semoga rejekinya mbak selalu lancar....oh ya kemana si tampan Tama kok gak kelihatan..."
tanya sang kurir yang sudah sangat akrab dengan Eva.
"Itu dia lagi tidur.."
Eva menunjuk Tama yang sedang terlelap tidur di belakangnya.
"Oh saya kirain kemana kok gak kelihatan... ya sudah kalo gitu mbak...saya bawa ini ke kantor dulu ya..."
"Iya mas terimakasih ya.."
"Iya mbak sama-sama..."
Baru beberapa menit kurir itu pergi, ada seorang yang mengetuk pintu lagi. Kebetulan waktu itu Eva sedang menggendong Tama yang sedang menangis. Eva membukakan pintu dengan Tama yang berada dalam gendongannya.
"Mbak maaf mau numpang tanya..."
"Tanya apa ya mas..."
"Apa mbak yang namanya Eva... yang jualan online itu..."
kata seorang pria misterius di depannya, sambil terus memandang Tama yang ada dalam gendongan Eva.
"Iya mas saya sendiri... ada apa ya..."
"Tidak apa mbak..saya hanya ingin membeli beberapa barang dari mbak...bolehkah saya masuk.."
__ADS_1
tanya seorang pria di ambang pintu itu yang mengenakan pakaian serba hitam, dengan wajah yang sedikit garang.
Bersambung...