
Mentari telah menghangatkan seluruh isi bumi, aktifitas para pejuang rupiah pun sudah di mulai sedari tadi. Tapi tidak dengan Eva, dia masih terbaring di ranjangnya. Eva menitikkan airmata, meratapi nasib yang kini di jalaninya.
Perutnya juga terus menggeliat mengikuti gerak bayi yang ada di dalamnya.
"Kau lapar ya...maaf ya...aku bahkan malas sekali untuk bangun..."
kata Eva terbata menahan tangisnya, sambil mengelus-elus perutnya pelan.
kenapa semua jadi seperti ini...jika tau semua akan jadi seperti ini...aku memilih tak pernah bertemu dengan Toni...dia yang sudah menjerumuskanku di posisi ini....dan sekarang malah pergi menghilang entah kemana...
aku tak ingin lagi bermimpi menjadi orang kaya ...aku hanya ingin hidup damai dan berkecukupan...aku rasa itu semua sudah cukup...
dan apa yang akan aku lakukan pada bayi ini nanti setelah lahir...dia bahkan tak akan dapat akta kelahiran karna aku yang tak memiliki suami...bagaimana dengan kehidupannya nanti...
batin Eva sambil terus berderai airmata.
Fikirannya masih melayang kemana-mana membayangkan kehidupannya bersama bayi kecil yang slalu di jaganya.
Seketika Eva tersadar dari lamunannya, ketika tiba-tiba ada suara ketukan pintu yang di ketuk dengan keras.
"Siapa yang kemari sepagi ini....tidak bisa ya mengetuk dengan pelan...tidak sopan sekali..."
Gumam Eva sambil beranjak dari ranjangnya, berjalan membukakan pintu secepatnya.
Ketika pintu di buka ternyata sang pemilik kost berada di depan pintu kamar Eva.
"Ehh...mbak ada apa..."
__ADS_1
kata Eva dengan wajah kesalnya, tapi masih di selingi dengan senyum yang nampak di paksakan.
"Ada apa...ada apa...bayar kost nya mbak...sudah telat seminggu nih...saya butuh uang.."
kata wanita pemilik kost dengan ketus.
"Loh memangnya sudah waktunya bayar ya mbak...bukannya sudah saya bayar untuk 2 bulan...ini sudah 2 bulan memangnya..."
"Ini nih....salah satu penyewa kost gak tau diri...udah waktunya bayar masih aja pura-pura lupa....,"
"Saya bukan pura-pura lupa mbak...tapi temen saya waktu itu kan sudah bayar untuk 2 bulan kedepan...apa ini sudah waktunya bayar lagi..."
"Iya laah mbak...mbak nggak punya tanggalan ya..ini bahkan udah telat 1minggu...ayo sini bayar.."
"Maaf mbak tapi saya masih belum punya uang...bagaimana kalau saya bayar separuhnya dulu...nanti sisanya akan saya bayarkan kalau sudah ada uangnya..."
"Nggak bisa donk mbak...mbak aja menempati 1 kamar lo gak separuh-separuh...jadi bayarnya harus langsung....kalo gak bisa bayar mbak mending keluar aja dari sini deh mbak...ada yang mau nyewa juga yang mau bayar langsung...udah pada antri nungguin kost nya kosong..."
"Jangan gitu donk mbak...kasih saya kesempatan seminggu lagi ya...saya akan bayar...saya nggak punya tempat tinggal lagi mbak.."
"Itu bukan urusan saya ya....kalau mbak nggak bisa bayar sampai nanti malam...mbak besok harus segera keluar dari sini....maaf ya mbak...saya harus bertindak tegas disini...saya nggak mau para penghuni kost lainnya minta keringanan-keringanan gini...ujung-ujung nya pasti nggak sanggup bayar tuh...udah sering saya dulu di gituin...makanya sekarang saya udah nggak percaya lagi ma siapapun....saya kasih waktu mbak sampai nanti malam ya...kalau mbak memang nggak sanggup bayar besok mbak harus pergi dari sini.....saya ngomongin baik-baik nih...sebenarnya saya juga kasian sama mbak yang hamil gini...tapi saya nggak mau nanti penghuni lainnya minta keringanan juga sama saya..."
kata wanita pemilik kost melihat perut Eva dengan rasa iba.
Pemilik kost itu pun segera pergi dari sana, sedangkan Eva hanya terdiam di ambang pintu, bingung harus melakukan apa, uang yang dia pegang sekarang bahkan tak cukup untuk membayar separuhnya.
Eva masuk ke dalam kamarnya lagi, dan terisak kembali di ranjangnya semakin keras.
__ADS_1
kenapa ujian hidupku seberat ini Tuhan...harus kemana lagi aku tinggal....
Eva terisak cukup lama disana, dia berfikir tak akan bisa membayar kost itu, akhirnya dia memilih untuk meninggalkan kost itu esok hari.
Eva mengemasi baju-baju pelanggan yang sudah dia selesaikan, berharap mendapat uang lebih untuk meninggalkan kostnya ini. Dia berencana mencari kost dengan harga yang lebih murah lagi, agar Eva tak keberatan membayar tagihan setiap bulannya, mengingat dia sekarang harus mencari uang sendirian.
Eva juga mengemasi baju-baju pelanggan yang belum sempat dia kerjakan. Dia ingin mengembalikan baju-baju itu pada pemiliknya, dan meminta maaf karna tak bisa lagi mengerjakannya, karna Eva tidak akan tinggal disana lagi.
Eva berjalan bolak-balik kost nya. Membawa banyak kantong untuk di kembalikan pada pemiliknya, sebagian Eva mengetahui rumahnya. Tapi sebagian Eva menitipkan pada tetangga kost nya. Eva mendapatkan cukup banyak uang dari baju yang sudah selesai dia kerjakan, uang itu akan dia gunakan untuk perjalanannya besok sebelum dia mendapatkan kost lagi.
Cukup lelah Eva berjalan kesana kemari, hingga waktu tak terasa sudah sore hari.
waktu itu juga Eva mengemasi barang-barangnya. Tak banyak yang dia miliki, hanya beberapa pakaian dan perlengkapan dapur yang dia beli ketika baru menyewa kost nya dulu. Sebagian barang-barang Eva juga sudah hilang tertinggal di villa tempat dia menginap dulu.
Malam itu pun Eva merebahkan dirinya, memandangi lagi barang-barang yang sudah dia kemas dan siap di bawanya besok. Tak banyak dia hanya membawa 1 tas ransel dan juga satu tas jinjing ukuran sedang.
"Lagi-lagi aku harus terusir dari tempat yang aku tinggali...harus kemana lagi aku besok..."
Eva merasa bingung, karna dia sendiri sekarang. Dia harus bisa menentukan jalan hidupnya sendirian, dengan bayi yang dia kandung.
Kepalanya terasa sangat penuh dengan segala keluh kesah hidupnya, ingin dia bercerita tapi tak ada satu pun orang yang mau mendengarkan cerita kehidupannya. Yang terasa getir dan pahit untuk di jalani.
Pagi pun menjelang, pagi itu Eva sarapan dengan mie instan. Makanan paling cepat untuk mengisi perut. Dia ingin pergi pagi-pagi sekali hari ini, karna tak ingin sang pemilik kost memaki-makinya lagi.
Di jam 5 pagi, Eva sudah keluar dari kamar kostnya. Dia memandangi lagi kamar kostnya lalu segera mengunci dan membawa 2 tas miliknya. Berjalan memakai jaket tipis di dinginnya pagi yang masih menusuk kulit.
Bersambung....
__ADS_1