Korban Rahim Sewaan

Korban Rahim Sewaan
Negosiasi


__ADS_3

Pagi itu Daniel dan Arsana benar-benar berangkat menuju rumah kost Eva dan Toni. Bersama dengan beberapa pengawal dan juga Vincent yang bertugas membawa uang 4 miliar untuk menukarkan uang tersebut dengan Tama.


Telah sampai tepat di depan kost Eva, mereka tak ingin banyak orang yang melihat, untuk itu seorang pengawal turun terlebih dulu untuk mengecek keadaan, mereka tak mau terlihat oleh khalayak ramai. Terutama Arsana yang menjadi seorang artis, tentu pasti kedatangannya kesana akan mengundang banyak perhatian jika sampai ada yang melihatnya.


Dengan memakai berbagai penyamaran, seperti jaket, Topi dan kacamata. Arsana dan Daniel keluar dari mobil segera menuju rumah kost Eva.


Sementara pagi itu, Toni baru saja pergi bekerja. Tinggalah Eva hanya bersama Tama berdua di rumah. Selesai bersih-bersih rumahnya sambil menggendong Tama. Eva terduduk sejenak, memeriksa berbagai pesanan yang harus dia kemas malam nanti untuk di kirim esok hari.


Masih fokus dengan ponselnya, Eva di kagetkan dengan suara ketukan pintu.


Eva mengira yang datang adalah seorang kurir langganannya yang akan mengambil paket darinya. Karna setiap hari di jam yang sama kurir itu selalu datang dan membawa barang-barang Eva yang akan di kirimkan pada para pemesan.


"Iya sebentar mas..."


kata Eva sambil berjalan membuka pintu.


Eva terkaget saat mendapati yang berada di depan pintu bukanlah kurir yang di maksud, tapi seorang pengawal yang kemarin malam datang bersama Daniel.


"Untuk apa kau kesini lagi...bukankah aku sudah bilang pada majikanmu untuk menjauh dari anakku..."


kata Eva dengan ketus.


Seakan seperti orang tuli, dia tak mengatakan apapun dan tak bereaksi apapun. Pria itu hanya terdiam menatap lurus ke depan.


"Hey...aku bicara denganmu..."


tak mendapat jawaban, Eva seperti bicara dengan sebuah patung, dia pun kesal dan berusaha menutup pintu rumahnya. Tapi tangan pria itu dengan sigap segera mencegah pintu itu untuk tertutup.


Alhasil Eva dan pengawal itu mendorong 1 pintu ke kedua arah yang berbeda. Tengah berusaha menutup pintu, tiba-tiba tangan Eva melemas karna melihat 3 orang yang berjalan cepat menuju ke arahnya. Yaitu Vincent, Arsana dan Daniel.


Eva seakan tak bertenaga lagi, apa yang di takutkan ternyata segera terjadi. Menyadari hal itu, Eva makin mempererat pelukannya pada Tama yang berada dalam gendongannya.


Eva melangkah mundur di iringi oleh 3 orang itu yang langsung berjalan masuk ke rumah Eva tanpa permisi.


Arsana dengan cepat membuka topi yang di kenakannya, dan seketika menjuntailah rambut panjangnya dengan indah.


"Apa kabar Eva..."


sapa Arsana tersenyum pada Eva.


"Hay sayang...sungguh dia memang menurunkan wajah dari Daniel..."


kata Arsana saat melihat wajah Tama dengan seksama.

__ADS_1


" Untuk apa kalian datang kesini..."


kata Eva dengan ketus kepada ketiga orang yang berada disana.


Seketika Vincent tanpa berkata apapun langsung maju mendekati Eva, bersama 2 koper besar yang sedari tadi di bawanya.


Menaruh 2 koper itu di depan Eva, dan membuka keduanya. Terpampanglah uang ratusan ribu yang sudah tertata dengan rapi di dalamnya.


"Eva...itu adalah uang yang kita janjikan...karna kau telah melahirkan anak kami...kami akan membawa Tama...dan kau akan mendapatkan imbalan yang kau inginkan...3 miliar untukmu...dan 1 miliar untuk Toni...sesuai kesepakatan kita..."


kata Daniel menatap Eva penuh keyakinan.


Sementara di depan pintu, seorang kurir yang biasa datang bingung melihat seorang yang berdiri tegap di depan pintu rumah Eva.


"Maaf mas jangan di depan pintu...mas menghalangi jalan saya..."


kata sang kurir dengan wajah datarnya.


"Maaf tapi tak ada seorang pun yang di perbolehkan masuk..."


"Looh...memangnya kenapa dengan mbak Eva...apa dia baik-baik saja..."


kurir itu melihat wajah garang sang pengawal, dia pun takut terjadi sesuatu pada Eva, takut Eva di rampok atau apapun semacamnya, sampai-sampai rumahnya di jaga oleh orang berwajah garang seperti itu.


"Mbak Eva...mbak Eva gapapa mbak...mbak ini saya..."


kata sang kurir berteriak keras.


Eva yang mendengarnya seakan mendapatkan sebuah bantuan, dia yang sedari tadi hanya diam mendengar penjelasan dari Daniel maupun Arsana dan memeluk Tama dengan erat. Menolak tangan-tangan yang berusaha mengambil Tama darinya.


"Masuk aja mas..."


kata Eva sambil berjalan menabrak bahu Arsana yang berada di depannya.


Eva membuka pintu dan seketika Arsana maupun Daniel membelakangi kurir itu, tak ingin siapapun tau siapa sebenarnya mereka.


Eva memberikan 1 kantong besar berisi paket-paket yang harus di kirimkan. Eva dan kurir itu mengecek barang sambil berjongkok di lantai, mengecek satu persatu barangnya.


"Mas saya bisa minta tolong..."


kata Eva lirih kepada sang kurir.


"Ada apa mbak..katakan saja...siapa mereka...orang jahat ya..."

__ADS_1


kata sang kurir antusias ingin membantu Eva.


"Iya mas mereka orang jahat...saya minta tolong mas tau kan tempat kerja suami saya...mas tolong kesana dan bilangin pesan dari saja...mereka datang lagi...gitu ya mas bilang nya..."


"Oh gitu mbak...oke...saya akan kesana..."


mengecek barang sepenuhnya sudah selesai, kurir itu pun pergi, Eva melihat kepergiannya, berharap Toni segera datang dan melindungi dirinya dan juga Tama dari ketiga orang yang sekarang berada di dalam rumahnya.


Arsana dan Daniel terus meyakinkan Eva untuk menukar Tama. Mereka memberikan beberapa pilihan pada Eva, bahkan berkata akan menambahkan sejumlah uang pada Eva agar dia mau menukar Tama.


Toni pun datang dengan tergesa, melewati begitu saja pengawal yang ada di depan pintu.


Toni masuk dan langsung memeluk Eva juga Tama, seakan memberikan perlindungan pada keduanya.


Sekilas Toni melihat banyak uang di dalam koper, tapi sama sekali tak membuat dia ragu untuk mengusir mereka dari rumahnya.


"Saya minta kalian semua pergi dari sini...jangan mengganggu ketenangan keluarga kami..."


kata Toni dengan tegas.


"Haha...keluarga kau bilang...kau lupa dia bukanlah anakmu Toni...dia anak kandungku"


jawab Eva tertawa mengejek.


"Dia bukan lagi anak kalian semenjak kalian telah mencampakkan dan meninggalkannya pada kami...dia anak kami sekarang.."


kata Toni lagi.


"Dan saya maupun Toni sama sekali tak tergiur untuk menukarkan Tama dengan uang...lebih baik kalian membawa uang itu dan cari wanita lain lagi untuk menanamkan benih kalian..."


kata Eva dengan sinis menatap Arsana dan Daniel.


"Aku datang kemari dengan baik-baik...tapi kalian bersikap kurang ajar kepadaku...mengakui anakku sebagai anak...apa kalian tidak malu.."


teriak Arsana yang sudah mulai kesal.


"Seharusnya kalian yang malu...memungut sesuatu yang sudah kalian buang..."


kata Eva tak kalah kesal.


"Tapi bagaimana pun dia anakku..darah dagingku...kalau kalian tak bisa di minta dengan cara baik-baik... maka kami akan menempuh jalur hukum untuk mendapatkan Tama..."


kata Arsana menatap serius pada Toni dan Eva bergantian.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2