
Di hari Toni tak pulang.
Selepas bertengkar dengan Eva mengenai bayi yang ada di rahimnya. Malam itu Toni tak bisa tidur. Semalaman dia terjaga, memikirkan bagaimana kehidupan dia kedepannya. Toni merasa hidupnya kini sangat sengsara. Dia harus bekerja keras siang dan malam setiap hari hanya untuk biaya hidupnya .
Seharian dia harus mengangkat beban-beban berat di bahunya, bekerja sebagai kuli panggul. Sorenya ketika pulang pun dia harus menggantikan Eva menyetrika baju-baju milik pelanggannya sampai malam. Tak menghiraukan tubuh yang teramat lelah, Toni terus bekerja untuk menghasilkan uang. Menghidupi Eva yang bukan siapa-siapa untuknya, juga bayi yang ada di kandungannya. Semua yang dia lakukan hanyalah sebatas tanggung jawabnya pada Eva, karna dia telah membuat Eva berada di posisinya sekarang.
Semalaman Toni berfikir bahwa dia sudah tak sanggup lagi menjalani kehidupannya kini, apalagi Eva yang menolak untuk membunuh bayi itu, yang jelas membuat Toni berfikir ulang untuk terus bertahan. Dia tak mau membesarkan anak yang menjadi sumber penderitaannya, apalagi dia memiliki kecacatan dari lahir, yang tentu akan membutuhkan biaya lebih dari bayi-bayi biasanya. Bayi itu juga akan menurunkan sedikit atau banyak dari sifat tak bertanggung jawab orangtuanya, yang tentu sangat di benci oleh Toni.
Toni ingin terlepas dari segala kesengsaraan hidupnya sekarang, dia ingin hidup damai dan tanpa beban seperti dulu. Saat dia belum mengenal Eva, dan hidup sebatang kara tanpa bertanggung jawab dengan siapapun.
Toni memandang Eva yang sudah tertidur pulas.
maafkan aku Eva...aku tak sanggup lagi hidup seperti ini...aku tak mau melihat bayi itu..apalagi harus membesarkan sebagai orangtuanya...aku tak sanggup...
batin Toni sambil menatap Eva penuh rasa bersalah.
Toni dengan perlahan mengemasi semua barang-barangnya, termasuk pakaian yang ada di lemarinya. Semua dia masukkan ke dalam tas nya. Malam itu Toni benar-benar berniat untuk pergi meninggalkan Eva.
Di pagi itu Eva membawakan sarapan untuk Toni dan mereka pun sarapan bersama seperti biasanya, hanya sedikit obrolan di antara keduanya sebelum akhirnya Eva beranjak membawa piring kotornya.
Toni bingung hendak membawa tasnya dengan cara apa, apalagi tak mungkin juga dia berpamitan pada Eva. Toni jelas tak sanggup dan tak akan tega melakukannya. Dan saat Eva masuk ke dalam kamar mandi itulah menjadi kesempatan untuk Toni pergi.
Dia membawa semua barang-barangnya yang sudah dia kemas dalam tas, membawa sedikit uang di saku celananya.
Toni pun keluar dari kost sambil menitikkan airmatanya, sebenarnya dia tak tega untuk meninggalkan Eva. Tapi dia sudah tak sanggup lagi menjalani kehidupan bersamanya.
__ADS_1
maafkan aku Eva...maafkan aku..aku tak sanggup hidup seperti ini terus....aku bukan pria yang baik untukmu....semoga kau menemukan kebahagiaan nanti...apapun yang terjadi semoga Tuhan selalu melindungimu....
batin Toni sambil terus berjalan menjauh dari kostnya, dan pergi ntah kemana arah tujuannya.
**
Semenjak hari dimana Eva mengetahui fakta bahwa Toni juga telah meninggalkan tanggung jawabnya. Eva menjalani hari seperti biasanya. Menghasilkan uang dari mencuci dan menyetrika pakaian para pelanggannya.
Eva jadi sering melamun,meratapi kehidupannya kini, dia juga sering sakit karna kelelahan. Mengerjakan semuanya sendirian dengan perut yang bertambah besar. Eva juga kadang mengantar dan mengambil pakaian di para pelanggannya sendirian, berjalan kaki demi mendapatkan uang untuk menjalani hidupnya.
Dia juga harus bekerja keras untuk menghasilkan uang lebih untuk bekal persalinannya nanti. Eva sudah dengan yakin akan melahirkan bayi itu, ada atau tidaknya Toni di sampingnya.
Hari-hari berlalu dengan cepat, Eva yang memaksakan diri untuk bekerja keras. Dia beberapa kali mengalami sakit dan tak dapat mengerjakan pekerjaannya. Kadang dia juga menolak baju-baju para pelanggan yang sudah di antar ke kamar kostnya, karna dia sudah tak sanggup mengerjakan cucian yang semakin hari semakin banyak.
Bekerja keras setiap hari tak membuat Eva mempunyai banyak uang dengan cepat. Karna dia harus mengeluarkan biaya lebih juga untuk kebutuhan kehamilannya, yang semakin hari semakin membesar juga keluhan-keluhan kehamilan yang setiap hari dia rasakan.
Tak ada seorang pun yang merawatnya, dia berusaha bertahan sendiri di kamar kostnya. Berjalan terhuyung hanya untuk memesan makanan pada penjual makanan yang selalu berkeliling di sekitar kostnya.
Dia tak dapat memasak karna kondisinya, Eva membeli beberapa porsi makanan untuk dirinya sendiri yang tentu harganya jauh lebih mahal, menguras cukup banyak tabungannya selama beberapa hari sampai dia sembuh.
Seorang tetangga dekat kostnya yang melihat Eva selalu membeli makanan di luar, juga melihat dia berjalan terhuyung merasa iba. Wanita itu pun mendekati Eva yang sedang menunggu porsi baksonya.
"Mbak...mbak kenapa beberapa hari saya perhatikan beli makanan di luar terus....mbaknya sakit ya..."
tanya wanita itu sambil melihat dengan seksama tubuh Eva.
__ADS_1
"Hehe iya mbak...saya lagi gak enak badan...gak sempet masak..."
jawab Eva dengan lemas.
"Emang suaminya kemana mbak...sudah lama juga saya gak melihatnya..."
"Emm...dia lagi kerja jauh mbak...pulangnya nggak pasti.."
cukup terkaget dengan pertanyaan tetangganya, Eva spontan menjawab bahwa Toni sedang bekerja jauh. Eva tak mau banyak orang berfikiran buruk terhadap Toni.
"ohh makanya kok jarang kelihatan...lah istrinya lagi hamil kok malah di tinggal kerja jauh sih mbak...kok gak kasian sama mbaknya...apalagi kalo sakit gini...kan jadi gak ad yang merawat kan ya..."
"Hehe...ya karna kebutuhan aja sih mbak...disini sulit cari kerjaan..."
"Iya sih mbak...apalagi mbaknya perutnya udah besar ya bentar lagi punya bayi butuh biaya yang lebih juga..."
Percakapan mereka pun terus berlanjut, hingga porsi bakso yang di pesan Eva sudah siap di bawa pulang.
Beberapa hari belakangan ini, ada seorang yang memberikan makanan di depan kamar kost Eva. Ntah dari siapa, makanan itu tergantung begitu saja di gagang pintu kamar kostnya.
Kadang makanan itu terdiri dari beberapa porsi cukup untuk makan sehari. Eva merasa sangat bersyukur masih ada orang baik hati yang peduli padanya, meski dia tak tau siapa orangnya.
Eva susah mencoba bertanya pada setiap.pelanggan yang datang kepadanya. Tapi tak satupun yang mengaku melakukan hal itu. Tak berniat apapun, dia hanya ingin mengucapkan terimakasih nya, karna telah membantu sedikit banyak menyambung kehidupannya.
Sebenarnya siapa orang baik yang sudah memberikan makanan padaku setiap hari...siapapun itu...semoga Tuhan membalas kebaikan orang itu...
__ADS_1
batin Eva yang sedang menerima lagi bungkusan makanan di depan kostnya, sambil melihat 2 porsi nasi didalamnya.
Bersambung....