
Bulan-bulan berlalu Ranika dan Arthur pun setia menjenguk Arsana di.rumah sakit jiwa setiap minggunya. Mereka ingin melihat perkembangan Arsana, dan tentu ingin cepat membawanya pulang.
Tapi setiap mereka berkunjung kesana, mereka mendapatkan fakta bahwa Arsana mengalami gangguan jiwa yang cukup serius, setelah di rawat berbulan-bulan pun Arsana tak menunjukkan perkembangan.
Arsana malah sering marah-marah dan tau mau memakan obat atau pun makanan yang telah di sediakan oleh rumah sakit.
Ranika dan Arthur pun di buat sangat sedih dengan keadaan Arsana yang sekarang. Bagaimana mungkin, dulu Arsana yang terkenal sebagai model dan artis paling cantik juga kaya raya. Sekarang berada di rumah sakit jiwa dengan wajah dan badan yang sudah sangat kacau. Bahkan bisa di pastikan siapa saja yang menemui Arsana pasti akan terkaget dengan keadaannya yang sekarang yang tampak sangat lusuh dan kacau.
Tubuhnya tak lagi bisa di katakan sebagai tubuh yang ideal, juga wajahnya yang lusuh dan di penuhi dengan luka disana-sini karna dia sering menyakiti dirinya sendiri.
Akibat keadaan yang kini menimpa Arsana, Arthur di buat sangat syok. Apalagi saat beberapa dari teman-temannya tau akan keadaan Arsana , dia di buat sangat malu akan hal itu, tak dapat lagi membanggakan putrinya yang sangat cantik dulu dengan segala karir yang telah di raihnya.
Tak ingin publik mengetahui segala berita tentang kehidupan Arsana, juga tak ingin membuat Arthur semakin malu, Ranika berinisiatif untuk membungkam semua awak media maupun orang yang telah mengetahui keadaan Arsana kini.
Ranika tak ingin Arthur juga stress akibat hal itu, karna dia yang gila akan reputasi dan tak ingin sedikit saja reputasinya tercemar.
Telah membungkam semua orang yang tau akan kehidupan Arsana, teryata tak membuat hidup Arthur tenang. Dia selalu takut dan memikirkan tentang reputasinya. Akibatnya kini Arthur mengalami serangan stroke yang cukup parah. Bahkan dia tak bisa lagi kemana-mana, dia hanya dapat berbaring di ranjangnya tanpa bisa kemana pun.
Arthur juga kesulitan untuk berbicara, dia setiap hari hanya bisa terdiam di ranjangnya tak dapat melakukan apapun.
Bulan-bulan berlalu keadaan Arthur tak kunjung membaik, meski telah di lakukan perawatan di luar negeri atas permintaannya. Tapi keadaannya semakin memburuk, dia malah tak bisa menelan makanan yang ada di mulutnya.
Yang akhirnya semakin berdampak pada kesehatan dan nutrisi dalam tubuhnya. Arthur juga telah di pasangkan sebuah selang untuk mencukupi nutrisi tubuhnya.
Dan tepat di 1 bulan sebelum ulang tahun Tama yang ke 7 tahun.
Arthur meninggal dunia karna tak sanggup lagi bertahan dengan kondisinya yang sudah sangat lemah. Arthur sempat di rawat di ruang ICU beberapa hari sebelum meninggal.
Dan di hari itu juga Ranika juga bertemu dengan Daniel di rumah sakit yang sama. Daniel tengah ingin memeriksakan bayinya yang sedang demam tinggi.
Awalnya Ranika tak mengenali Daniel karna penampilannya sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Masih tetap tampan, tapi Daniel kini memiliki tubuh yang kurus dan juga kulit yang menghitam.
Daniel terlihat memohon di depan resepsionis sambil menggendong bayinya, juga ada seorang satpam yang sudah siap ingin menyeretnya. Melihat keributan itu Ranika pun menghampirinya tanpa menyangka bahwa pria yang membuat keributan itu adalah Daniel.
"Maaf ada apa ini..."
__ADS_1
kata Ranika yang tiba-tiba datang melerai keributan, Ranika sendiri datang dengan mata yang masih sembab karna baru saja kehilangan suaminya.
"Maaf nyonya atas ketidaknyamanannya...kami akan segera membereskannya..."
jawab sang resepsionis sambil memberikan kode pada satpam untuk segera membawa Daniel keluar.
"Mama....ma...saya mohon tolong saya ma....tolong saya untuk kali ini saja..."
kata Daniel sambil menarik lengan Ranika, yang membuat Ranika sedikit terkejut.
Mendengar suara dan juga panggilan mama untuknya, seketika Ranika menatap wajah pria di hadapannya dengan seksama.
"Astaga Daniel ini kau...."
kata Ranika kaget pada Daniel.
"Iya ma...ini aku...aku mohon kali ini tolong bantu lah aku...aku memang telah banyak bersalah pada mama dan Arsana...tapi untuk kali ini...aku mohon jangan melihat aku tapi lihatlah bayi ini....dia sedang demam tinggi ma..tolong sembuhkanlah dia..."
kata Daniel memelas pada Ranika.
kata Ranika dengan heran, dia juga sedikit kesal karna melihat wajah Daniel lagi setelah sekian lama. Melihat Daniel mengingatkannya kembali pada Arsana anaknya, yang keadaannya sekarang sangat memprihatinkan.
"Bantulah aku ma..aku mohon...aku tak memiliki uang untuk membayar rumah sakit ini...sementara anakku dalam keadaan sakit...tolong bantulah dia ...aku mohon..."
kata Daniel lagi sambil berlutut di bawah Ranika.
Ranika yang berhati baik tak akan tega dengan keadaan yang ada di depannya sekarang, meski apa yang telah di lakukan Daniel pada Arsana. Ranika melupakan itu semua, dia melihat bayi kecil yang ada di gendongan Daniel, tubuhnya tampak gemetar dan kemerahan karna demam.
Melihat keadaan itu seketika Ranika menyuruh seorang perawat untuk membawanya ke ruang rawat inap, Ranika mengatakan bahwa dia yang akan menanggung semua biaya untuk bayi tersebut.
"Aku akan mengganti semuanya nanti ma ketika aku mempunyai uang..."
kata Daniel pada Ranika yang berada di ruang tunggu bersamanya.
"Tak perlu...lupakan kau pernah bertemu denganku...aku hanya melakukan ini semua karna bayi itu...aku juga akan melakukan hal yang sama meski pada orang yang tak ku kenal..."
__ADS_1
kata Ranika sambil memandang lurus kedepan
Daniel pun terdiam sejenak, lalu berkata lagi.
"Maafkan semua perbuatan Daniel ma....dan terimakasih...telah membantu anakku...dan menyelamatkan nyawanya.."
"Tak perlu berterimakasih Daniel...kalau boleh aku bertanya...kemana ibunya...kenapa kau hanya sendiri membawanya ke rumah sakit.."
"Istriku meninggal karna melahirkannya ma...dan kini aku sendiri yang harus berjuang mengasuh..membesarkan serta mencari uang untuk kehidupan kami...aku ibu sekaligus ayah untuknya..."
ucap Daniel getir.
Seketika Ranika menoleh pada Daniel.
"Lalu bagaimana kau bisa mengasuh sekaligus bekerja.. karna aku dengar kau bekerja di restoran..."
"Aku membawanya bekerja... menaruhnya di box bayi...kadang juga menitipkannya ke beberapa temanku jika mereka istirahat.."
"Itu bukanlah hal yang baik untuk bayi Daniel...membawanya bekerja bertemu banyak orang di usianya kini yang masih rentan terhadap penyakit..."
"Mau bagaimana lagi ma...hanya itu yang bisa aku lakukan...aku tak memiliki penghasilan lagi..aku pun bersyukur...pemilik resto itu masih mau menerimaku meski aku selalu membawa bayi kesana kadang juga terlambat dan tertidur disana...karna semalaman aku tak tidur menemani anakku yang masih terjaga..."
kata Daniel menunduk malu.
.
.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1