Korban Rahim Sewaan

Korban Rahim Sewaan
Semalaman


__ADS_3

Di ruang yang berbeda Arsana, Daniel dan Arthur sedang berbicara dengan tatapan yang serius.


"Arsana...bukankah sudah hak mu untuk memiliki Tama daripada wanita itu..."


kata Arthur dengan nada kesal.


"Benar pa...tapi mau bagaimanan lagi...pengadilan sudah memutuskan tentang itu...baik aku maupun Daniel tak dapat mengelak lagi...."


jawab Arsana dengan nada yang sama.


"Kami bahkan sudah menghabiskan banyak dana pa...belum lagi untuk denda yang harus kami bayarkan pada pengadilan..."


sahut Daniel pada Arthur.


"Haha...apa kalian akan pasrah begitu saja pada hukum....mereka bahkan tidak akan menghukum jika mereka tak mengetahuinya kan..."


kata Arthur di selingi tawa kecil.


"Maksud papa..."


jawab Arsana menatap Arthur penuh tanya.


"Ya...kalian bisa membawa Tama tinggal bersama kalian tanpa di ketahui oleh pihak hukum.."


"Mana mungkin pa...pasti Eva dan Toni tidak akan pernah tinggal diam dengan itu...mereka sangat melindungi Tama...mereka tak mau Tama bersama kami...."


jawab Daniel dengan wajah memelasnya.


"Ancam mereka dengan alasan Tama...maka mereka tak akan berani untuk melaporkan kalian pada polisi....papa yang akan membantu kalian dalam rencana ini...."


"Papa juga tak mau Tama terus-terus an bergantung pada wanita itu....jelas-jelas dia tak pantas menjadi ibu dari Tama...papa juga tak mau cucu papa minum ASI darinya terus...papa bisa membelikan Tama susu yang lebih baik...."


"Papa takut Tama kenapa-napa karna minum susu darinya....bagaimana pun kalian lebih pantas menjadi orangtua Tama...kalian bisa menjadi keluarga yang sempurna dengan adanya jagoan tampan ini..."


kata Arthur tanpa jeda.

__ADS_1


Merasa Arthur mempunyai ide yang bagus, sementara Arsana dan Daniel sendiri memang memimpikan hidup bersama dengan malaikat kecilnya ini. Apalagi Daniel yang merindukan tangisan seorang bayi di rumahnya, dia akan sangat bahagia jika memang Tama bisa tinggal serumah dengannya.


Mereka pun melanjutkan pembicaraan tentang berbagai rencananya untuk membawa Tama tanpa di curigai oleh Eva dan Toni.


Cukup lama hingga akhirnya, mereka menuju kembali ke ruang tamu, disana masih ada Toni, Eva dan Ranika yang sedang berbincang-bincang hangat.


Tiba-tiba Arsana berkata dengan senyumannya.


"Eva aku akan membawa Tama berjalan-jalan ya...."


"Jalan-jalan..."


tanya Eva dengan bingung, lalu segera berkata lagi.


"berjalan-jalanlah..kalian bebas ke ruangan mana pun yang kalian sukai bersama Tama..."


"Bukan dirumah ini Eva....tapi di luar...aku ingin mengajak Tama ke mall untuk membelikan keperluannya...kau bisa menyusuinya terlebih dulu sebelum aku membawanya...kami tak akan lama-lama..."


kata Arsana yakin menatap Eva dengan senyuman manisnya.


kata Eva menatap Toni meminta persetujuan.


"Ahh ya...kami akan ikut...."


jawab Toni spontan terkaget dengan panggilan Eva.


"Tak perlu...apa kalian tak percaya dengan kami....kami tak akan menyakitinya...dia anak kami....kami hanya ingin waktu bersama dengan Tama tanpa kalian...kami akan membawanya pulang kembali sebelum malam..."


kata Daniel mencoba meyakinkan Eva dan Toni.


Mendengar jawaban dari Daniel, Eva dan Toni pun tak dapat berkata lagi. Mereka pun mengizinkan Arsana dan Daniel untuk pergi membawa Tama.


Terbiasa dengan kehadiran Tama disisi mereka, juga biasa bergulat dengan segala kelucuannya. Kini saat Tama pergi, Eva dan Toni merasa sangat kesepian. Mereka bahkan sampai bingung ingin melakukan apa.


Akhirnya Eva memilih untuk menghibur dirinya dengan menyibukkan diri mengurus bisnis onlinenya. Sementara Toni memilih untuk menentukan Tema yang tepat untuk resto miliknya, juga makanan apa saja yang harus dia jual supaya menarik banyak pelanggan.

__ADS_1


Lama di tunggu sampai malam menjelang Tama tak kunjung kembali. Eva pun di dampingi oleh Toni segera menelpon ponsel Daniel, berharap Tama segera di pulangkan dan bersama dengan mereka kembali.


Mencoba menghubungi nomor Daniel tapi sama sekali tak ada jawaban darinya. Eva pun menghubungi Arsana, tapi dia juga melakukan hal yang sama.


"Bagaimana ini Toni....mereka tak bisa di hubungi...apa mereka baik-baik saja...aku takut terjadi sesuatu pada mereka semua....mereka bahkan tak mengabarkan apapun pada kita semenjak pergi tadi..."


"Tenang lah dulu....jangan gegabah dan jangan berfikiran yang aneh dulu....mungkin mereka tak sempat mengabarkan pada kita tadi....mungkin juga mereka lupa dengan ponselnya setelah bermain dengan Tama...."


jawab Toni dengan tenang.


Eva pun bisa sedikit tenang dengan kata-kata Toni, mereka memutuskan untuk menonton Tv sambil menunggu Tama pulang.


Sampai larut malam, keduanya masih menunggu Tama yang tak kunjung kembali.


Sementara Arsana dan Daniel kini tengah sangat bahagia karna kamar yang mereka peruntukan untuk Tama akhirnya terisi juga.


Mereka menemani Tama sampai malam, bersama babysister dadakan yang di panggil oleh Arsana.


Arthur juga menepati janjinya untuk membelikan Tama susu terbaik yang ada, juga makanan tambahan untuk Tama. Awalnya Tama enggan untuk meminumnya, karna dia terbiasa minum ASI dari Eva. Tapi lama kelamaan, Tama akhirnya mau meminumnya,dalam keadaan perut yang lapar.


Di malam pertama Tama tidur di rumah Arsana, dia selalu menangis, Tama tak bisa tidur karna dia terbiasa tidur di gendongan Eva.


Arsana dan Daniel semalaman juga di buat kebingungan karna Tama yang rewel, mereka tak tau kebiasaan Tama setiap hari seperti apa. Mereka juga tak pernah mengasuh bayi sebelumnya, tak ada pengalaman yang membuat mereka bisa menenangkan Tama.


Tama juga enggan di gendong oleh babysister sewaan Arsana, Tama tak mau di gendong oleh orang yang belum di kenalnya.


Semalaman Arsana dan Daniel lah yang bergantian menggendong Tama. Saat Tama sudah mulai tertidur, Arsana menaruhnya ke box bayi yang sudah di sediakan khusus untuknya. Tapi saat itu juga Tama kembali membuka mata dan menangis. Daniel pun menggantikan Arsana untuk menggendongnya hingga tertidur.


Semalaman mereka berdua terus bergantian mengurus Tama. Daniel sendiri terlihat biasa karna dia memang sudah siap menjalani hidup dengan adanya bayi di rumahnya, dia bahkan sudah rindu dengan waktu-waktu itu. Kini Daniel pun menikmatinya meski dia harus rela waktu istirahatnya tersita oleh Tama.


Berbeda dengan Arsana yang lebih emosional, awalnya Arsana dengan sabar mengurusi Tama yang mulai menangis. Tapi ketika Tama terus-terusan menangis tanpa henti, apalagi Tama yang tak mau tertidur di dalan tempat tidurnya, Arsana mulai marah-marah, dia bahkan mengumpat cara Eva mendidik Tama.


Tapi meski dengan emosional Arsana tetap menemani Tama semalaman, karna dia memang menginginkan Tama berada dekat dengannya, hanya saja Arsana tak bisa lebih sabar dalam mengurusi Tama.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2