
Sinar mentari sudah menghangatkan seluruh isi bumi. Burung-burung pun telah berkicauan merdu di bawah rindangnya pepohonan. Langit terlihat indah berwarna biru terang dengan gumpalan-gumpalan awan putih sebagai penghias langit luas.
Hari begitu cerah, pagi ini di rumah Eva tengah di lakukan berbagai persiapan pesta ulang tahun Tama.
Para pelayan yang tak terhitung jumlahnya sudah di sibukkan dengan tugasnya masing-masing.
Pesta akan di gelar di pagi hari tepat di jam 8 nanti.
Sementara itu di sebuah ruangan yang sudah di dekorasi dengan warna dan karakter kesukaan Tama, Toni sedang berdiri melihat-lihat semua persiapan.
"Akhirnya semua selesai bahkan di jam yang masih sepagi ini....terimakasih...aku benar-benar tak salah mengandalkanmu..."
kata Toni pada salah seorang pelayan yang masih menata dekorasi pesta ulang tahun Tama.
"Tidak perlu berterimakasih tuan...ini sudah tugas kami..."
kata pelayan tersebut dengan tersenyum lebar.
Toni tiba-tiba melihat sekelebat anak yang berlarian di ujung ruangan, lalu melihat Eva yang tengah berlari mengejarnya.
"Astaga apa lagi ini..."
kata Toni sambil berjalan ke arah anak tersebut.
"Hey sayaang....ayo percepat makannya...lalu segera mandi...teman-temanmu akan datang sebentar lagi sayang..."
kata Eva sambil memegang sebuah piring dan mengejar Tama yang sedang berlarian.
"Ibu...aku masih ingin bermain pesawat ini ibu...."
rengek Tama sambil terus berlari menghindari Eva.
" Tama...ayolah...percepat makanmu sayang...sebentar lagi pesta mu akan di gelar.."
kata Toni yang berada di ruangan yang sama memandangi keduanya.
"Ayah....aku masih ingin bermain pesawat ini ayah..."
rengek Tama masih dengan hal yang sama.
Toni pun berjalan mendekati Tama,
"Sayang....ayo ikut ayah...lihatlah tempat pestamu sudah selesai di buat...apa kau tak ingin melihatnya..."
kata Toni sambil berlutut memeluk Tama.
"Benarkah ayah..."
jawab Tama dengan berbinar senang.
"Tentu...ayo lihatlah..."
__ADS_1
Toni pun mengajak Tama menuju ruangan tempat pesta dengan menggendongnya.
"Lihatlah...."
kata Toni sambil menunjukkan segala dekorasi ruang dengan karakter bajak laut.
"Wooaahh....ini bagus sekali ayah.."
kata Tama sambil berusaha turun dari gendongan Toni. Dia pun berlarian melihat kesegala arah, dan memegang beberapa ornamen yang membentuk karakter bajak laut.
Setelah puas berlarian Toni menghampiri Tama lagi.
"Sekarang makan dulu ya anak pintar...lalu segera mandi....sebentar lagi teman-temanmu akan datang...ini pesta ulang tahunmu...kau harus terlihat tampan bukan..."
kata Toni sambil mengelus kepala Tama.
"Ya ayah...aku akan memakai kostum bajak lautku...."
kata Tama dengan mengangkat kedua tangannya, tangan satunya masih memegang erat mainan pesawatnya.
"Memakai apapun kau akan selalu terlihat tampan sayang...ayo makan ini...ibu akan memandikanmu sebentar lagi..."
kata Eva yang berjalan ingin menggandeng Tama.
"Iya ibu...ayo..ayo...aku ingin segera mandi..."
Tama sudah menarik-narik tangan Eva.
"Iya...iya ayo...kita segera mandi.."
"Kau memang punya segala cara untuk membujuknya..."
bisik Eva pada Toni yang ia lewati begitu saja.
Toni pun hanya tetsenyum mendengar apa yang baru saja di katakan Eva.
Pesta pun di gelar dengan meriah, di hadiri oleh teman-teman sekolah Tama. Eva dan Toni sendiri juga mengundang anak-anak panti asuhan, dan memberikan mereka beberapa bingkisan juga .
Sesuai rencana pesta di gelar dengan segala karakter dan kostum bajak laut. Eva dan Toni sendiri juga memakai kostum yang sama dengan milik Tama.
Pesta pun selesai di gelar dan berjalan dengan lancar. Toni dan Eva kini sedang melihat Tama yang mengantarkan kepergian teman-temannya di depan pintu rumah.
"Kini usianya sudah tepat 7 tahun....saatnya dia menentukan pilihan hidupnya bukan...."
kata Eva sambil memandang Tama dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ya kau benar...apapun pilihannya kita harus berlapang dada sayang..."
kata Toni sambil merengkuh bahu Eva dan menyandarkan kepala Eva pada bahunya.
"Hemm...aku pun sudah lama menyiapkan hati untuk ini....tapi menurutmu..apa Arsana dan Daniel akan datang hari ini...setelah sekian lama mereka tak berkunjung...."
__ADS_1
"Ya...aku rasa mereka pasti akan datang...bukankah ini adalah waktu yang mereka tunggu-tunggu..."
"Ya...dan waktu bergulir begitu cepat bukan...tiba-tiba Tama sudah sebesar itu....dan dia benar-benar tumbuh menjadi anak yang tampan dan cerdas...."
Keduanya berbincang banyak hal tentang Tama, sampai keduanya terkaget karna teriakan menggemaskan Tama dari luar rumah. Tama berteriak sambil membawa sesuatu di tangannya.
"Ibu...ayah...ada seorang yang memberikanku hadiah ini..."
teriak Tama sambil menenteng sebuah robot yang cukup besar, yang masih terbungkus rapi di kemasannya.
"Dari siapa itu Tama..."
Toni segera bertanya, dia terkaget pasalnya itu adalah robot dengan harga yang cukup mahal. Beberapa hari yang lalu Toni juga hendak membelikan Tama mainan yang sama, tapi dia urungkan karna harganya yang mahal.
"Ini dari wanita yang ada di luar..."
"Wanita siapa dia...."
kata Eva sambil mendekati Tama.
"Sudah berkali-kali ayah katakan jangan pernah menerima apapun dari orang yang tak kau kenal Tama..."
kata Toni sambil mengambil robot di tangan Tama.
melihat reaksi Toni, Eva yang juga khawatir dengan siapa wanit yang telah memberi Tama hadiah, Eva segera menggendong Tama dan mengikuti langkah Toni keluar rumah.
"Tapi dia bilang dia adalah nenekku..."
kata Tama yang seketika menghentikan langkah Eva dan Toni.
"Nenek..."
kata Eva dan Toni bersamaan.
Eva berfikir orangtuanya tak mungkin datang ke rumahnya tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Apalagi tak mungkin juga mereka memberikan hadiah yang mahal kepada Tama.
Toni sendiri melihat kembali robot yang sedang di pegangnya, dia berfikiran sama dengan Eva. Lalu keduanya berpandangan.
"Nyonya Ranika..."
kata Toni dengan tatapan penuh tanya pada Eva.
Eva pun hanya mengangguk faham dengan apa yang ada di fikiran Toni.
Keduanya pun berjalan menuju luar rumah, dan benar saja mereka tengah mendapati Ranika yang sedang berbincang pada para pelayan mereka disana.
Dengan senyum menawan dan wajah yang masih cantik dan terlihat awet muda, Ranika berbincang hangat bahkan tak segan juga menjabat tangan para pelayan yang ada.
Eva pun sudah bisa menebak, pasti hari ini salah satu dari keluarga Arsana akan datang untuk memastikan pilihan Tama.
Tapi Eva juga heran, pasalnya sudah hampir 2 tahun pihak dari keluarga Arsana maupun Daniel tak pernah terlihat. Mereka hanya mengirimkan beberapa uang untuk kebutuhan Tama setiap bulannya dan juga mengirimkan mainan untuknya.
__ADS_1
Kini Eva di buat bertambah heran, karna kehadiran Ranika yang sendirian.Tanpa Arsana, Daniel ataupun Arthur yang biasa menemaninya.
Bersambung...