Korban Rahim Sewaan

Korban Rahim Sewaan
Sakit


__ADS_3

Toni pun pulang dengan perasaan yang tak bisa di gambarkan. Dia sedih, kecewa, menyesal, marah semua menjadi satu.


Eva yang melihat expresi dari Toni saat pulang pun mulai merasa ada sesuatu yang tak beres.


"Ada apa..."


tanya Eva begitu Toni masuk ke dalam kamar kostnya.


"Riko tidak bekerja disana lagi..."


"Loh...gak bekerja disana gimana...lalu berita kita...uang kita gimana..."


"Maaf va...semua uang kita hilang di bawa Riko pergi....seluruh rekan kerjanya pun tak tau dimana dia sekarang..dan berita kita hilang dari jurnalnya..."


jawab Toni dengan wajah malasnya.


Toni kemudian menceritakan semua yang di alaminya hari ini dengan detail pada Eva.


Seakan hilang semua harapan Eva mendengar yang di ungkapkan oleh Toni. Dia pun terdiam dan mulai mengingat kejadian sebelum mereka meminta Riko untuk menulis berita tentang mereka.


Eva ingat betul semua ini adalah ide dari Toni. Kala itu Toni bersikukuh untuk mencemarkan nama baik Daniel dan Arsana lewat sebuah berita. Hati Eva menjadi kesal dan di selimuti oleh amarah. Bagaimana tidak uang 8 jutanya melayang dengan sia-sia, mereka bahkan tak memiliki uang lagi sekarang.


"Ini gara-gara pemikiranmu yang bodoh itu....jika kau tak berfikir untuk membuat berita ini...kita pasti masih memiliki uang sekarang..."


kata Eva dengan nada marah.


"Maafkan aku Eva aku memang ceroboh..aku tak berfikir semua ini akan gagal lagi..."


"Lihatlah sekarang hidupku hancur karnamu...karna kau yang menawarkan pekerjaan ini padaku..."


"Kenapa kau malah menyalahkanku...kau sendiri kan yang tergiur dengan bayaran dari si Daniel itu...makanya kau mau melakukan pekerjaan ini..."


"Ya tapi itu semua karna informasi darimu....andai saja aku tak pernah bertemu denganmu...hidupku tak akan sehancur sekarang..."


Mereka pun saling menyalahkan satu sama lain akibat kegagalan program rahim sewaan ini. Amarah selesai di luapkan keduanya, kini mereka diam dan menatap nanar kamar kost mereka, berfikir akan di bawa kemana kehidupan mereka selanjutnya.


"Uang yang kau pegang tinggal berapa..."


tanya Toni tiba-tiba.


"Ntahlah mungkin tinggal 3 juta atau kurang dari itu..."


"Va...lebih baik berikan yang 2 juta untuk membayar kost ini...lalu sisanya kita buat makan sehari-hari...dan aku akan bekerja untuk mencukupi kebutuhan kita..."

__ADS_1


"hmm...ya aku juga berfikir demikian...tapi kau mau kerja apa Toni...disini jauh dari sebuah proyek bangunan...aku seperti tak melihat perhotelan atau apapun mengenai pembangunan di sekitar sini...."


jawab Eva sambil mengingat-ingat lagi penglihatannya.


"Kerja apapun Va...yang penting menghasilkan uang untuk sementara...sambil mencari pekerjaan dengan penghasilan yang lebih ..."


Hari pun telah berganti, pagi sudah menjelang, mentari mulai memancarkan sinar hangatnya di seluruh penjuru bumi.


Toni pagi itu sudah bersiap hendak mencari pekerjaan untuk mencukupi kebutuhannya dan Eva juga bayi yang di kandungnya.


Berbeda dengan Eva, pagi itu Eva masih terbaring dengan balutan selimut di ranjangnya.


Toni yang merasa ada yang aneh pada Eva segera menghampirinya.


"Eva..kau tak bangun...ini sudah pagi..."


menepuk-nepuk pelan bahu Eva. Tak mendapat jawaban, Toni mencoba membangunkan lagi. Tak sengaja dia menepuk pipi Eva yang terasa sangat panas.


"Eva....kau sakit...kau demam..."


Eva tak menjawab apapun, pagi itu Toni segera mencari bantuan. Toni mendapat informasi dari tetangga kost nya bahwa ada seorang bidan terdekat yang mungkin bisa mengobati Eva.


Toni pun mencari alamatnya dan membawanya ke kamar kost untuk mengetahui apa yang terjadi pada Eva.


Setelah melakukan pemeriksaan Eva hanya mengalami demam biasa, sang bidan pun memberikan resep obat kepada Eva yang langsung di minumnya saat itu juga.


kata bidan yang sudah berjalan keluar kamar.


"Terimakasih bu bidan.."


jawab Eva sambil tersenyum simpul.


Toni mengantarkan bidan tersebut sampai di depan pintu kamar.


"Terimakasih bu bidan..."


"Iya pak..sama-sama...jaga istrinya baik-baik ya pak....jangan sampai wanita hamil berfikir terlalu keras...itu bisa mempengaruhi kondisi kesehatannya juga kesehatan janin di dalam kandungannya..."


"Jadi ini karna fikiran ya..."


"Saya juga tak mengerti pak...mungkin bisa saja...mungkin bisa juga karna sebuah makanan atau apapun itu...mengingat tubuh wanita hamil sangat sensitif..."


"Hmm..baiklah bu...terimakasih..."

__ADS_1


Bidan itu pun beranjak pergi dari sana, dan Toni kembali masuk dalam kamar kostnya, dengan fikiran yang masih kemana-mana.


apa mungkin gara-gara kemarin Eva jadi sakit seperti ini....dia memikirkan uang yang hilang itu...atau mungkin memikirkan tentang pertengakaran kita kemarin...tentang apapun itu..Eva memang tak seharusnya memikirkan apapun tentang kondisinya sekarang...itu bisa berbahaya untuknya dan janinnya...


batin Toni sambil berjalan memasuki kamar.


Hari itu Toni batal untuk mencari pekerjaan, dia memilih tetap tinggal di dalam kost dan merawat Eva memenuhi kebutuhannya.


Hari itu juga Toni membayarkan uang untuk kamar kostnya untuk 2 bulan ke depan.


Di dalam perjalanan kembali ke kamar kostnya. Toni yang memegang dompet berisi uang sisa dari pemberian Daniel, dia melihat dan menghitung sisa dari uang tersebut. Masih tersisa 850 ribu.


"Astaga hanya tersisa segini...bagaimana ini...aku harus segera bekerja ....tapi bagaimana dengan Eva...siapa yang akan merawatnya nanti jika aku bekerja..."


Mata Toni berkaca-kaca sambil berjalan kembali menuju kost nya.


Sampai di dalam kost, Toni tak mendapati Eva berada di ranjangnya. Tapi pintu kamar mandi terlihat tertutup.


oh mungkin Eva masih buang air kecil..


batin Toni.


Toni pun berbaring di atas tikar tempat biasa dia beristirahat, ia menyalakan Tv untuk menghibur diri. Dari fikiran kehidupan yang terus membuatnya pusing akhir-akhir ini.


Toni mengganti-ganti channel Tv, tapi tidak menemukan acara yang bagus untuk dia tonton. Tak menemukan acara yang cocok, Toni pun membiarkan Tv itu menyala, tapi dia memejamkan matanya. Sambil berfikir pekerjaan apa yang akan dia dapatkan setelah ini. Dan apa saja kemampuannya, mengingat dia hanyalah lulusan SD.


Dia pun tanpa sadar tertidur lelap karna tubuh yang terasa lelah.


Suara sepeda motor tetangga kost tiba-tiba membangunkan tidur Toni yang cukup lelap.


astaga aku ketiduran....


Toni melihat jam menunjukkan pukul 12 siang, dia melirik ke ranjang Eva, tapi masih tak menemukan Eva di atasnya.


"Aku tertidur cukup lama, terakhir aku melihat jam pukul 10...sekarang sudah pukul 12...Eva masih belum keluar dari kamar mandi...apa yang dia lakukan didalam.."


Kata Toni sambil berjalan menuju kamar mandi.


"Eva...apa yang kau lakukan didalam..."


Yang di dalam tak menjawab apapun, dan tak terdengar suara apapun.


Toni mengetuknya beberapa kali, dan memanggil-manggilnya tapi tak ada jawaban dari Eva. Sedangkan pintu juga terkunci dari dalam.

__ADS_1


Khawatir dengan keadaan Eva yang tak menjawab apapun, Toni akhirnya mendobrak pintu itu. Dan benar saja Eva sedang terduduk di kamar mandi tak sadarkan diri. Dengan pakaian yang setengah basah dan wajah yang terlihat pucat pasi.


Bersambung....


__ADS_2