
"Ini sarapan dulu..."
kata Eva sambil menyodorkan piring dan duduk di sebelah Toni.
"Tumben kau sudah bangun..."
kata Toni dengan lirih, dia terasa malas karna merasakan pegal di seluruh tubuhnya.
"Ya...aku takut kau akan pergi bekerja pagi-pagi sekali...makanya aku bangun dan membuat sarapan untukmu...kuli panggul itu kan pekerjaan yang cukup berat...jika kau tak makan bisa pingsan kau nanti..."
jawab Eva sambil tersenyum menggoda Toni.
"Hmm...aku tak selemah itu kali..."
Kata Toni sambil menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.
"Kau memang benar pekerjaan ini cukup berat...mungkin aku belum terbiasa...badanku terasa pegal-pegal sekarang..."
imbuh Toni lagi dengan mulut penuh makanan.
"Kau sakit ya...kalau begitu istirahat saja dulu hari ini...jangan di paksakan..."
kata Eva merasa bersalah karna Toni harus bekerja mencari uang, untuk Eva yang bukan siapa-siapa untuknya.
"Tak apa va...kalau aku tak bekerja apa yang akan kita makan besok..."
Eva pun hanya terdiam, bingung harus menjawab apalagi pada Toni, karna memang benar apa yang Toni katakan. Tak akan ada yang di makan jika Toni tak bekerja.
Sarapan dan ritual membersihkan diri telah selesai di lakukan oleh Toni. Dia pun segera berangkat menuju ke pasar tempat kemarin dia bertemu dengan si pria mungil itu, Eko.
Eva yang memandang Toni keluar dari kamar kostnya dengan rasa malas, dia merasa bersalah karna dia tak dapat membantu apapun untuk menghasilkan uang.
Saat itu juga muncul ide Eva untuk mulai membantu Toni bekerja, dia mencoba keluar dari kamar kostnya, menawarkan tenaganya untuk mencuci atau menyetrika pakaian-pakaian tetangga kostnya yang cukup padat.
Tawaran Eva itu di sambut dengan antusias oleh tetangga kostnya, beberapa dari mereka mulai mengantarkan baju kotor pada Eva untuk dicuci.
Eva dengan perut yang sudah membesar berusaha mencuci pakaian-pakaian itu di kamar mandi sempitnya, mengucek beberapa kantong pakaian kotor yang sudah di berikan para tetangganya.
Dengan susah payah akhirnya Eva selesai mencuci semua pakaian itu, dan menjemurnya di depan kamar kostnya yang terkena cukup banyak sinar matahari.
Setelah selesai menjemur, Eva berkacak pinggang di depan jemurannya. Pinggangnya terasa sakit, mungkin karna terlalu lelah mencuci banyak pakaian yang ada di depannya sekarang. Apalagi dengan kamar mandi sempit yang tidak memudahkan Eva banyak bergerak bebas dengan perut besarnya itu.
__ADS_1
Eva pun masuk dan berbaring di ranjangnya, mengelus perutnya lembut merasakan bayinya menggeliat-geliat pelan di dalam sana.
Kepalanya sekarang terasa pusing, hingga ia memutuskan untuk tidur sejenak melepaskan lelah yang menjalar di seluruh tubuhnya.
Hari sudah berganti sore, Eva baru saja bangun dan mengangkat jemuran yang sudah mulai kering. Lalu dia segera mengambil setrika yang di pinjamnya dari tetangga kostnya.
Eva mulai menyetrika dengan telaten, satu per satu baju dia setrika hingga licin dan rapi. Dan di masukkannya dalam plastik lagi.
"Toni kemana ya...hingga sore hari dia belum pulang.."
kata Eva lirih sambil terus menyetrika banyak baju di depannya.
Baru saja Eva mengatakan hal tentang Toni, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah kostnya. Teryata Toni baru saja pulang, Toni masuk ke dalam kamar kostnya dan terkaget mendapati kamar kost yang berantakan penuh dengan pakaian.
"Eva....apa yang kau lakukan..."
tanya Toni sambil memandang Eva yang sudah sibuk dengan setrikaannya.
"A..aku..tentu saja membantumu menghasilkan uang.."
kata Eva terbata karna kaget dengan nada suara Toni yang sedikit meninggi.
"Kenapa kau lakukan ini va..kau bisa sakit lagi nanti...dan ya...kau mengerjakan semua ini dengan perutmu yang sudah membesar itu...itu sangat beresiko.."
Eva menjawab sambil memandang perutnya yang bergerak mengikuti bayi yang ada di dalamnya.
"Aku tau Eva..tapi apa semua akan baik-baik saja jika kau melakukan ini semua..."
tanya Toni lagi sambil mendekati Eva.
"Aku baik-baik saja ton...tenanglah..."
jawab Eva santai, tapi sesungguhnya Eva juga merasakan lelah di tubuhnya, apalagi dia juga dalam keadaan mengandung sekarang, butuh tenaga extra untuk malakukan pekerjaannya.
"Baiklah...jangan memaksakan diri jika kau tak sanggup...aku takut kau akan sakit lagi nanti..."
kata Toni duduk di sebelah Eva.
"Dan ini uang yang aku hasilkan hari ini...."
Toni menyodorkan uang 45 ribu pada Eva, hasil kerjanya dari pagi sampai sore hari.
__ADS_1
"Kata temanku sesama kuli panggul beberapa truk muatan tak datang hari ini....jika mereka datang mungkin aku bisa menghasilkan lebih dari itu..."
imbuh Toni lagi.
"Ini sudah banyak kok...kita bisa menggunakannya untuk makan dan sisanya untuk menabung..."
kata Eva sambil mengambil dan menaruh uang itu di dalam sebuah dompet.
"Makanlah..kau pasti lelah..."
kata Eva lagi.
Toni pun makan, setelahnya dia membersihkan diri. Baru keluar dari kamar mandi, Toni yang melihat Eva sedang menyetrika, beberapa kali tampak memegangi pinggangnya yang mungkin mulai terasa pegal. Toni merasa iba dan tiba-tiba saja duduk di sebelah Eva.
"Sini biar aku yang menyetrika sisanya..."
"Eh...tidak ton...istirahatlah kau pasti lelah..."
berusaha mendorong tubuh Toni menjauh darinya.
"Sudahlah...pergi istirahat sana...kau tak boleh terlalu lelah...aku sudah mulai terbiasa kok dengan pekerjaanku...jadi sudah tidak begitu lelah seperti kemarin..."
kata Toni berusaha mengelak, padahal saat ini tubuhnya sudah lelah luar biasa, dan rasa pegalnya tadi pagi pun belum menghilang dari tubuhnya. Tapi rasa ibanya pada Eva yang mendorong dirinya terlihat tegar di depannya.
"Benarkah.."
Eva memandang Toni mencoba memastikan.
"Ahh sudahlah sana istirahat..."
"Apa kau bisa menyetrika Toni...."
"Tentu saja bisa...kau jangan meremehkanku...sudahlah sana pergi istirahat..."
Akhirnya Eva mengalah dan memilih mengistirahatkan tubuhnya yang sudah sangat lelah sedari tadi.
Hari-hari pun mereka jalani dengan rutinitas yang sama seperti hari ini. Toni selalu membantu Eva setelahnya pulang dari pasar. Meski dengan rasa lelah yang luar biasa Toni berusaha terlihat kuat, dia merasa iba karna bagaimana pun semua yang mereka jalani kini adalah akibat dari ajakan Toni.
Dia merasa tanggung jawab dengan semua yang terjadi pada Eva, karna dia yang menawarkan pekerjaan itu pada Eva.
Hari-hari pun terus berganti, Eva mulai menunjukkan gejala kelelahan lagi. Dia sering merasakan pusing di kepalanya, sakit pinggang bahkan demam juga sering dialaminya. Eva sering bolak-balik ke rumah bidan untuk memeriksakan dirinya dan bayinya yang tentu membutuhkan biaya lebih lagi karna kesehatannya yang mulai menurun.
__ADS_1
Bersambung....