
Dokter Danis tiba-tiba memanggil security ke ruangannya untuk mengusir Riko beserta teman wanitanya itu.
Setelah keduanya pergi dari ruangan dokter Danis terdiam, dia bingung dan ketakutan jika nanti sang jurnalis benar-benar menerbitkan berita tentang Eva. Karna dia sudah mendapat suap untuk diam dan melupakan soal Eva.
Merasa sang jurnalis adalah sebuah ancaman, dengan terpaksa akhirnya dia menghubungi Arsana untuk menceritakan semuanya yang baru saja terjadi.
Sementara sang jurnalis segera ke rumah Eva seorang diri, untuk menceritakan semua yang terjadi padanya.
"Dia tak mau mengakui...sepertinya dia ketakutan saat saya menyebut nama Eva...dia sepertinya di ancam oleh seseorang"
"Pasti Arsana dan Daniel yang mengancam dokter Danis untuk bersedia tutup mulut atas semuanya..."
kata Eva dengan wajah sedih.
"Lalu bagaimana mas...kita tak punya bukti lagi..."imbuh Eva lagi.
" Iya mungkin untuk alasan itu juga, pihak rumah sakit mengatakan bahwa dokter Danis tak lagi bekerja disana...mereka menyembunyikan dokter Danis dan berusaha melindunginya..."
jawab Toni dengan nada kesal.
"Berita ini cukup menarik untuk di muat di halaman utama, untuk itu...saya akan tetap menerbitkannya"
"Harus mas...kami sudah membayar mas...jadi mas harus membantu kami..."
jawab Eva penuh harap.
Percakapan mereka masih panjang membahas tentang berita yang akan segera di muat oleh Riko. Eva dan Toni juga menambahkan beberapa fakta tentang rahim sewaannya itu. Termasuk alasan kenapa Arsana sampai menyewa rahim Eva.
Sore itu pun Riko segera undur diri dari kost Toni. Dia ingin segera menulis tentang berita yang menurutnya akan menjadi trending di seluruh jagad maya.
Riko pulang dengan mengendarai sepeda motornya, di tengah jalan baru saja keluar dari daerah kost-kost an Eva, dia di hadang dengan sebuah mobil hitam.
Dan Riko di paksa untuk turun dari sepeda motor dan masuk dalam mobil itu oleh 2 orang berseragam hitam yang tampak menakutkan.
Riko pun menurut, dia masuk ke dalam mobil sambil melirik sepeda motornya yang sedang di tepikan oleh seorang pria lainnya.
Masih dengan rasa takut dan gemetar di sekujur tubuhnya, Riko malah terlonjak kaget saat yang berada di sampingnya adalah model terkenal yang akan dia muat dalam beritanya yaitu Arsana.
astaga...bukankah ini Arsana...dia benar-benar lebih kelihatan cantik jika dilihat dari dekat...aslinya lebih cantik dari pada hanya fotonya....
batin Riko yang sejenak memandang Arsana diam mengaggumi kecantikan wajahnya.
__ADS_1
"Kau jurnalis yang di minta Eva untuk menulis berita tentangku..."
kata Arsana dengan aura dinginnya.
"A...aku...ya..aku..."
Riko terkaget akan suara dan aura dingin yang tiba-tiba di keluarkan oleh Arsana, Riko sampai terbata saat menjawabnya.
"Aku minta kau untuk tak menulis apapun tentangku..."
kata Arsana sama sekali tak memandang pada Riko.
"Ma...maaf nona tapi saya..."
belum selesai Riko berbicara, Arsana sudah memotongnya.
"Berapa bayaran yang kau terima dari Eva..."
"Maaf nona...saya tidak bisa menyebutkannya..."
"Katakan atau tangan para pengawalku yang akan memaksamu untuk mengatakannya..."
kata Arsana sambil memandang Riko penuh ancaman.
meraka semua pasti pengawal si Arsana ini...jelas-jelas dia mengancamku...jika aku tak mengatakan padanya bisa habis aku di keroyok dengan orang-orang ini...
batin Riko.
Merasa di bawah ancaman Arsana dan juga para pengawalnya, Riko tak bisa berbuat apa-apa dia dengan pasrah menjawab pertanyaan Arsana.
"Cepat jawab ataaau...."
"8 juta nona...8 juta Eva membayar saya.."
Riko segera menjawabnya secepat kilat sebelum dia babak beluk di hajar oleh para pengawal Arsana.
"8 juta....hahahhaha...."
tawa Arsana langsung saja pecah.
"Dia membayarmu hanya dengan 8 juta... lalu kau dengan beraninya akan memuat tentangku di dalam beritamu itu...dalam sekejab aku bahkan bisa menjebloskanmu kedalam penjara..."
__ADS_1
"Jangan nona saya mohon jangan....saya tidak ingin di penjara..."
" Lalu apa kau kira bayaran yang pantas untuk orang yang berani mencampuri urusanku..."
"Saya mohon nona....jangan bawa saya ke penjara..."
Riko yang ketakutan bahkan memohon dengan mata yang berkaca-kaca sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Jika kau tak mau masuk dalam penjara.. maka sekarang dengarkan aku baik-baik....kau jangan pernah menulis tentang berita itu...tentang kehidupanku itu hanyalah urusanku jangan pernah kau ikut campur tentang itu....dan ya untuk Eva dan Toni....lupakan mereka...jangan pernah kau menemui mereka lagi....kau mengerti..."
"Ba...baik saya mengerti nona...."
"Pergilah jauh dari sini...jangan pernah lagi berhubungan dengan Eva dan Toni....ini adalah uang untukmu....tapi kau harus pergi dari sini hari ini juga...jangan pernah kembali...jika kau ketahuan kembali atau bahkan berusaha bertemu dengan mereka lagi...akan aku pastikan kau akan membusuk di dalam penjara...."
Arsana melemparkan amplopnya pada Riko dengan kasar.
Riko hanya menatap amplop coklat yang sekarang ada di pangkuannya.
"Hey...kenapa kau hanya melihatnya...ambil....dan segera pergi dari sini....jangan pernah ikut campur lagi dengan urusanku...."
"Ba...baik..."
Riko mengambil amplopnya, dan menggenggam erat di tangannya, Sementara mobil memutar arah, kembali ke tempat sepeda Riko berada.
Riko pun turun dari mobil, lalu dengan segera mobil itu melaju dengan kencang meninggalkan Riko di jalanan.
Riko berjalan kembali menuju sepedanya berada, ingin menaiki sepedanya lagi, dia melihat isi amplop yang di berikan Arsana sebelum memasukkannya ke dalam tasnya yang tergantung di sepeda.
Dilihat dalam amplop tersebut ternyata berisi 20 juta. Riko cukup terkaget, ia segera memasukkannya dalam tas.
Hati nuraninya merasa kasian dan ingin sekali membantu Eva, tapi Riko tak punya pilihan lain selain harus pergi dan melupakan Eva. Agar dia sendiri bisa menyelamatkan hidupnya.
Tadi selepas di telpon oleh dokter Danis, Arsana langsung saja menyuruh orangnya untuk mengikuti kemana perginya si jurnalis itu. lewat ciri-ciri yang sudah di sebutkan oleh dokter Danis.
Arsana turun tangan langsung untuk mengatasinya, karna dia menganggap jurnalis tersebut adalah sebuah ancaman besar untuk dirinya dan karirnya.
Setelah di temukan dimana jurnalis itu berada, Arsana menunggunya keluar dari kost Eva. Lalu menghadangnya di jalanan dan memberikan sejumlah uang .Arsana menyuruhnya untuk menutup mulutnya rapat-rapat tentang apa yang dia ketahui.
Di dalam mobil yang masih melaju dengan kencang itu, Arsana menelpon seseorang lagi.
"Kau awasi si jurnalis itu selama 1 minggu ini...jika dia masih berhubungan dengan Eva maka segera habisi dia...."
__ADS_1
Arsana pun segera memutus telponnya tanpa mendengar jawaban dari lawan bicaranya, lalu melemparkan begitu saja ponselnya di sampingnya.
Bersambung....