
Malam itu Toni dan Eva bertengkar, karna Toni menginginkan Eva segera mengugurkan bayi dalam kandungannya. Toni tak ingin bayi itu terlahir ke dunia yang nantinya malah akan membuat hidupnya semakin sengsara.
Sementara Eva ingin mempertahankan bayi itu, dia tak tega jika harus menggugurkannya. Apalagi setiap hari Eva sudah merasakan kehidupan di dalam rahimnya, gerakan-gerakan kecil di dalam rahimnya, membuat Eva semakin hari semakin merasa kasihan padanya.
Dan ingin selalu melindungi bayi itu, karna sang bayi yang tak memiliki siapa-siapa lagi selain Eva yang mengandungnya. Di tambah lagi Toni yang kini juga membenci bayi itu, Eva semakin ingin melindunginya, tanpa dia sadari Eva mulai sayang pada bayi yang di kandungnya.
Pagi itu seperti biasanya Eva sudah bangun dan membuat sarapan untuk mereka berdua. Dengan perut yang besar dia berkutat di dalam dapur sempitnya. Memasak sup wortel dengan bahan yang sudah di belinya kemarin.
Masakan sudah selesai di buat, saat ini Eva juga sudah membawa 2 porsi sarapan hendak membangunkan Toni yang masih tertidur.
Hendak membangunkannya tapi Toni ternyata sudah terjaga dan hanya terdiam di posisinya.
"Toni ini sarapanmu..."
Eva menyodorkan sarapan yang telah di buat kepada Toni yang masih terbaring.
Di terima oleh Toni, dia sekarang tengah duduk menghadap Eva.
Tanpa banyak bicara Toni segera melahap makanan yang sedang ada di tangannya.
Eva yang melihatnya juga sama, tak mendengar pertanyaan apapun dari Toni dia memilih untuk langsung melahap makanannya.
Di tengah-tengah sarapan yang berada dalam keheningan, Eva pun berkata.
"Kau masih marah karna semalam ya...."
tanya Eva perlahan pada Toni.
"Aku tak marah...tapi aku tak habis pikir kenapa kau masih ingin mempertahankan bayi sialan itu...."
kata Toni kesal sambil mengunyah makanannya.
"Sudah aku bilang...aku kasihan padanya...dia tak berdosa atas semua ini..."
"Tapi dia cacat Eva...apa kau tak ingat..."
"Untuk itulah aku semakin ingin melindunginya...karna kekurangannya..."
"Kau sungguh gila...untuk apa...bahkan dia bukanlah darah dagingmu..."
__ADS_1
Eva pun hanya terdiam tak dapat menjawab pertanyaan dari Toni. Sampai sarapan di piringnya habis mereka tak berbicara apapun lagi.
Eva mencuci piringnya, lalu sejenak pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil.
Ketika Eva keluar dari kamar mandi, dia mendapati Toni yang sudah menghilang dari kamar.
apa dia benar-benar semarah itu padaku...sampai harus berangkat kerja sepagi ini...
batin Eva.
Eva melihat jam yang masih menunjukkan pukul setengah 6 pagi.
tapi bagaimana pun aku tak akan pernah mengugurkan bayi ini...dia juga butuh kehidupan..ntah seperti apa nanti hidupku kedepannya setelah dia terlahir...tapi aku akan selalu merawatnya....
batin Eva lagi sambil terus mengusap perutnya.
Hari ini Eva menjalankan rutinitas seperti biasanya. Ia membawa beberapa kantong baju kotor ke kamar mandi untuk di cuci.
Akhir-akhir ini karna banyak tetangga yang tau Eva membuka jasa cuci baju, banyak pelanggan baru yang mulai menyetorkan baju kotor padanya. Sangat antusias dengan apa yang di kerjakan Eva. Karna di nilai dapat membantu meringankan pekerjaan ibu-ibu, terutama mereka yang seorang wanita karir. Bekerja sekaligus mengurus rumah adalah hal yang cukup sulit di jalankan dalam satu waktu.
Setelah Eva menjemur semua pakaian yang di cucinya, Eva mengistirahatkan tubuhnya sejenak di ranjang sempitnya.
Waktu pun berjalan dengan cepat, sore hari tlah tiba. Kini Eva sedang menyetrika beberapa baju sambil menunggu Toni pulang dan menggantikan kegiatannya.
Eva sengaja mempercepat gerak dalam menyetrika baju-baju itu, berharap cepat segera selesai dan Toni tidak perlu menyelesaikan banyak pekerjaan nanti. Eva tau Toni pasti sangat lelah, setelah seharian di pasar, lalu di lanjutkan membantu Eva di rumah.
Lama yang di tunggu tidak juga pulang, hingga waktu sudah menunjukkan pukul 18.00. Toni tak kunjung terlihat di kamar kostnya.
Eva yang sudah kelelahan, dia segera menyudahi pekerjaannya, dan kembali berbaring, membiarkan bayi dalam rahimnya menggeliat dengan bebas .
kemana Toni ya...kok tumben sampai hampir malam dia belum juga pulang...apa sebanyak itu ya truk muatannya...sampai-sampai dia belum pulang juga...
batin Eva sambil trus memandangi pintu yang masih tertutup rapat.
Merasa lapar, Eva pun makan dengan menonton Tv acara kesukaannya. Dia beberapa kali memandang pintu yang belum juga memunculkan Toni disana.
"Sebenarnya kemana sih Toni....kenapa dia belum pulang sampai jam segini...apa dia mendapatkan pekerjaan yang lain ya....sampai harus lembur sampai jam segini...hmm..semoga saja..."
kata Eva dengan dirinya sendiri, mengira-ngira apa yang sedang terjadi pada Toni. Karna tak biasanya dia belum pulang sampai larut malam.
__ADS_1
Karna rasa kantuk yang berat dan tubuh yang sudah lelah, Eva pun yang menunggu Toni akhirnya tertidur dengan pulas.
Pagi pun menjelang, Eva yang sudah mulai terbiasa bangun pagi segera turun dari ranjangnya. Dan bersiap untuk memasak sarapan untuknya dan Toni. Tapi ketika dia akan turun dari ranjang, dia tak mendapati Toni yang biasa tertidur di bawahnya.
Tikarnya kosong, seperti tak tersentuh sama sekali.
jadi semalam Toni belum pulang...
batin Eva.
"Kemana sebenarnya Toni....dia sampai tak pulang semalaman...apa terjadi sesuatu dengannya..."
kata Eva sambil berfikir.
Eva pun mencari ponselnya untuk menghubungi Toni. Selama ini Eva jarang sekali menghubungi Toni dan hampir tak pernah, meski dia mempunyai nomor ponselnya.
Merasa khawatir terjadi sesuatu padanya, Eva segera melakukan panggilan ke nomor ponsel Toni.
Beberapa kali panggilan tak mendapat jawaban, Eva pun mengirimkan pesan pada Toni.
kau kemana Toni...kenapa tak pulang...
tulis Eva pada pesannya. Dan pesan pun berhasil terkirim ke nomornya.
Eva melakukan aktivitasnya kembali, dia mandi lalu segera memasak untuk sarapan. Eva berkali-kali melihat ponselnya, tapi sama sekali tak ada pesan balasan dari Toni, maupun panggilan balik darinya.
Terbiasa makan bersama dalam beberapa bulan belakangan ini, Eva terasa sepi saat kini sarapan sendirian. Ada rasa yang cukup aneh ketika tak melihat Toni di hadapannya. Juga rasa sedih yang tiba-tiba saja menyelimuti hatinya.
Pagi itu juga selesai sarapan, Eva kembali menyelesaikan setrikaannya semalam yang belum terselesaikan.
Takut-takut jika sang pemilik pakaian segera mengambilnya.
"Huuh...aku belum menyelesaikan setrikaan ku....belum lagi baju-baju yang harus di cuci masih banyak sekali.."
Eva bergumam dan berdiri sejenak, dia melihat ke luar kamar kostnya, ternyata juga sudah banyak kantong-kantong baju kotor yang di taruh pelanggannya di depan kost.
Eva menghela nafas panjang, membayangkan rasa lelah yang akan dia rasakan kembali, melihat betapa banyaknya pekerjaan yang harus dia lakukan.
Bersambung...
__ADS_1