Korban Rahim Sewaan

Korban Rahim Sewaan
Berbanding terbalik


__ADS_3

Malam itu Toni yang masih menyetrika pakaian pelanggan mereka, bahunya sudah terasa pegal karna seharian bekerja di pasar,ketika sampai di rumah dia masih harus membantu pekerjaan Eva, tapi dia menahannya demi mendapatkan uang lebih untuk kehidupan mereka sehari-hari.


Apalagi kini Eva sering bolak-balik memeriksakan dirinya karna berbagai keluhan yang di alaminya, karna dia memaksakan diri untuk bekerja keras menghasilkan uang.


Tapi karna seringnya Eva mengalami sakit, pekerjaannya banyak yang tertunda. Kadang Toni yang terpaksa menghandle semua. Dia mencuci, kerja di pasar dan malamnya masih harus menyetrika baju para pelanggannya.


Rasa kesal dan marah kadang menyelimuti Toni, dia selalu berfikir kenapa hidupnya menjadi sengsara seperti ini, dia membutuhkan biaya untuk makan sehari-hari, belum lagi biaya untuk Eva yang sering mengeluh tentang kehamilannya akhir-akhir ini.


Belum lagi nanti ketika anak yang di kandung Eva lahir, maka akan menambah biaya kebutuhan setiap harinya, apalagi bayi yang di kandung Eva di prediksi mempunyai kecacatan lahir yang cukup membuat hati Toni menciut ketika harus mengingatnya.


Malam itu Toni menyetrika sambil menonton acara di Tv, begitu pula Eva juga menonton di atas ranjangnya sambil membantu Toni mengepak baju-baju yang sudah tertata rapi, sesuai pemiliknya.


Acara di Tv menyiarkan sebuah berita tentang kemeriahan pesta seorang artis. Melihat cukup lama mereka tak menyadari bahwa acara pesta yang sedang di beritakan adalah acara milik Arsana dan Daniel. Yaitu acara pesta ulang tahun pernikahannya yang ke 1 tahun.


Pesta di laksanakan di sebuah gedung mewah, dengan segala hiasan dan pernak-pernik ala pernikahan yang seakan di laksanakan ulang. Tak lupa juga kue tart dengan tinggi beberapa meter, berbentuk sebuah istana yang megah menjadi pusat perhatian di dalam gedung pesta tersebut.


Dekorasi ruangan yang bernuansa kan warna putih dan merah muda menambah kesan romantis di setiap sentuhannya. Lampu-lampu kristal dengan pendar cahaya yang terang, membuat kilaunya menyorot ke seluruh penjuru ruangan.


Makanan super lezat dan minuman serta berbagai camilan terlihat melimpah di setiap sudut ruangan. Tamu undangan juga terlihat berhamburan memakan segala hidangan yang ada.


Kamera menyorot ke sang penyelenggara acara yaitu Daniel dan Arsana. Daniel terlihat tampan dan gagah dengan setelan jas lengkap berwarna biru tua, rambut yang di sisir rapi kebelakang, dan juga senyuman yang tampak menawan selalu menghiasi wajah tampannya.


Sedangkan Arsana memakai gaun berwarna senada dengan Daniel, yang berhiaskan berlian yang berkilauan di seluruh bagian gaunnya. Arsana terlihat sangat cantik walau hanya memakai make up tipis dan natural, dia selalu tersenyum manis pada setiap tamu undangan yang hadir.

__ADS_1


Rona bahagia tampak jelas terpancar pada keduanya, mereka sangat menikmati pesta yang meriah itu dengan saling bergandengan tangan di atas altar buatan, yang sudah di hias dengan desain bunga mawar berwarna putih dan merah muda yang sudah di susun rapi di setiap bagiannya.


Seakan berbanding terbalik dengan keadaan Eva dan Toni saat ini, yang sangat menderita karna ulah mereka. Kehidupan keduanya sebelumnya baik-baik saja dan tergolong normal sebelum bertemu dengan Daniel dan Arsana. Tapi kini mereka berdua sangat kesusahan dalam ekonomi, makan sehari-hari pun hanya dengan lauk seadanya, itupun mereka harus bekerja keras untuk mendapatkannya.


Bingung apa yang harus mereka lakukan selain hanya pasrah menerima keadaan yang ada. Menuntut pun percuma, mereka tak punya bukti yang kuat, apalagi mereka berhadapan langsung dengan orang kaya. Yang jelas akan menang dalam segala hal, karna uang yang akan selalu bertindak untuk melindungi mereka.


Toni merasa tersulut emosi saat mengetahui tayangan di Tv, karna gara-gara mereka hidupnya kini dalam kesusahan menanggung beban kehidupan Eva dan bayinya yang jelas-jelas bukan anak dan istrinya.


Sedangkan mereka kini tengah berbahagia, melaksanakan ulang tahun pernikahannya dengan sangat meriah dan mewah. Dan mungkin menghabiskan uang ratusan juta hanya untuk memperingati hari pernikahannya saja.


Sudah tak tahan menanggung gejolak emosi di hatinya akhirnya Toni pun meluapkannya.


"Dasar orang-orang sombong....mereka gak tau apa karna ulah mereka sekarang hidupku sangat menderita...mereka malah asyik berpesta tanpa memikirkan sedikit pun tentang anaknya..."


"Toni bersabarlah...apa boleh buat...kita tak bisa melakukan apapun...kita kalah banyak dengan mereka..."


kata Eva berusaha menyadarkan Toni, dengan masih fokus pada baju di tangannya.


"Kalah banyak apa maksudmu..."


"Ya..kita kalah segalanya..hingga kita sekarang seperti ini tak dapat berbuat apa-apa...hanya pasrah menerima keadaan..."


"Mereka saja yang sudah kurang ajar menitipkan benihnya padamu...lalu meninggalkannnya begitu saja...mereka jelas- jelas lebih rendah daripada kita bukan..."

__ADS_1


jawab Toni masih dengan nada Emosi.


"Hmm..mungkin begitu.."


jawab Eva malas meladeni emosi Toni, karna dia mulai merasakan pusing di kepalanya.


"Bukan mungkin lagi... tapi memang begitu....dan ya...kenapa kita mempertahankan anaknya dengan susah payah....dia anaknya... tentu pasti akan menurunkan sifat mereka nantinya....dia juga akan terlahir cacat...aku tidak bisa membayangkan akan seperti apa hidupku nanti setelah dia terlahir...aku akan menghadapi sifat yang sama dengan kedua orang tuanya yang angkuh, sombong dan tidak bertanggung jawab itu....belum lagi harus merawatnya seumur hidup dengan kakinya yang cacat itu...makin lengkap penderitaan ku....lagi pula untuk apa kita mempertahankan kehamilanmu ini...jelas-jelas dia sudah tidak berguna lagi untuk kita...dia tak akan menghasilkan uang..malah akan membutuhkan banyak uang nanti....gugurkan dia va...aku tak sudi lagi untuk terus menghidupi anak orang biadab dalam tubuhmu itu...."


kata Toni sambil menunjuk-nunjuk perut Eva.


"Apa yang kau katakan Toni....tidak bisakah kau lihat dia yang hanya seorang bayi yang tak berdosa dan masih suci....dia tak tau apa-apa tentang ini....dan ya....dia sudah bernyawa..tidakkah kau tau dia sudah bergerak di dalam sana....apa kau tega untuk membunuhnya..."


kata Eva memelas pada Toni.


"Untuk apa aku tak tega...toh dia juga bukan anakku....dan kenapa kau membelanya...jelas-jelas dia adalah sumber dari segala penderitaan hidup kita...aku tak sanggup lagi untuk menghidupinya...gugurkan dia Eva..dia bukan tanggung jawab kita..dia bukan siapa-siapa untuk kita...dia tak berarti lagi untuk kita Eva..."


"Aku bahkan tak pernah berfikir untuk melakukan itu Toni..aku sudah ihklas...dan aku merasa kasian dengan bayi ini....yang sudah di tinggalkan orang tuanya sebelum dia terlahir kedunia...hanya kita yang dia punya..tolong jangan kau berniat untuk membunuhnya..."


kata Eva dengan mata yang berkaca-kaca.


"Bunuh dan tinggalkan dia...atau aku yang akan meninggalkanmu..."


kata Toni dengan nada ancaman

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2