Korban Rahim Sewaan

Korban Rahim Sewaan
Ketakutan Eva


__ADS_3

"Untuk apa kau datang kembali pada kami..."


kata Toni dengan wajah penuh amarah.


"Tentu saja aku akan melihat anakku...dia anakku kan..."


kata Daniel dengan berusaha mengintip di belakang tubuh Eva.


"Dia bukan anakmu...kau telah meninggalkannya...kau telah membuangnya...dan kami selama ini yang telah merawatnya...kami orangtuanya...."


kata Eva dengan tegasnya.


"Aku tak membuang atau pun meninggalkannya...sama sekali tidak..."


"Lalu kenapa kau meninggalkan kami begitu saja setelah tau bahwa bayimu cacat...hah..."


kata Eva lagi dengan amarah yang semakin membara.


"Ya...kami memang tidak berfikir jernih kala itu...maafkan kami...sekarang...ijinkan aku melihatnya..."


"Dengan mudahnya kau bilang itu semua pada kami....kau tak tau hal apa saja yang telah aku lewati karna ulahmu ini...."


"Maafkan aku Eva...maaf...aku mohon..aku tak akan mengambilnya darimu...aku hanya ingin melihatnya...dia akan tetap bersamamu..."


kata Daniel yang sekarang dengan wajah memelasnya.


"Benarkah kau tak akan mengambilnya dariku..."


"Tidak Eva aku tak akan mengambilnya...tapi ijinkan aku melihatnya sebentar saja..."


"Meskipun kau berniat mengambilnya aku tak akan membiarkan itu...dia adalah anakku...aku dan Eva yang telah merawat dan menjaganya selama ini...."


Kata Toni tak kalah emosi pada Daniel, kebenciannya pada Daniel sudah sangat besar. Bahkan hanya dengan melihat Daniel saja Toni sudah ingin menghajarnya.


perlahan Eva melangkah kesamping, membiarkan Tama terlihat oleh Daniel.


Terlihatlah wajah yang tampan, kulit putih dan senyuman yang menggemaskan ala Tama. Tak dapat di pungkiri wajah Tama memang mirip dengan Daniel sebagai ayah kandungnya. Mereka memiliki berbagai kemiripan di wajah dan juga postur tubuhnya.


Daniel yang melihat Tama seketika itu juga terdiam, memandang dengan seksama. Tiba-tiba airmatanya mengalir begitu saja di ujung matanya. Daniel juga melihat bagian kaki Tama yang menjuntai begitu saja di gendongan Toni.


"Kau benar-benar anak yang sempurna...siapakah namanya..."


kata Daniel dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Namanya Tama....Adhitama..."


kata Toni dengan pandangan tak suka melihat airmata yang di nilai palsu dari mata Daniel.

__ADS_1


Daniel ingin melangkah lebih dekat dan ingin memegang Tama, tapi Toni tiba-tiba saja mundur dan berkata.


"Kau hanya bilang ingin melihatnya tapi tidak dengan menyentuhnya..."


"Aku mohon Toni...ijinkan aku untuk memeluknya sebentar...aku sangat merindukan adanya anak dalam hidupku...dan dia adalah anak kandungku..."


"Dia bukan lagi anakmu semenjak kau membuangnya dan meninggalkannya pada kami....sekarang kami adalah orang tuanya...dan aku memperingatkanmu untuk jangan dekat-dekat dengan anakku..."


kata Toni sambil berlalu dan melangkah masuk ke dalam rumahnya, tangan satunya lagi menarik tangan Eva agar ikut masuk ke dalam rumahnya.


"Pergilah dari sini...lupakan bahwa Tama adalah anakmu..."


kata Eva sebelum dia benar-benar menutup pintu, meninggalkan Daniel di depan rumahnya dengan tangis yang semakin menjadi karna mendengar kata-kata dari Eva maupun Toni.


Tangis penyesalan, kenapa waktu itu dia meninggalkan anaknya yang bahkan terlahir dengan sangat tampan dan sempurna. Bahkan dia menurunkan banyak kesamaan dengan Daniel, yang membuat dia semakin menyesal telah melakukan perbuatannya dulu.


"Tuan...mari kita pulang.."


kata sang pengawal Daniel sambil membantu Daniel berdiri.


"Aku ingin memeluk anakku..."


kata Daniel lagi memohon.


"Kita akan datang lagi di lain waktu tuan...sungguh tidak baik jika ada seorang yang melihat tuan dengan keadaan yang seperti ini..."


kata pengawal itu berusaha membujuk Daniel untuk berdiri dan pergi.


Di dalam rumah kost, Eva menangis di sebelah Toni.


"Bagaimana nanti jika dia mengambil Tama dari kita...sungguh aku tak rela melepaskan Tama...dia anakku...sampai kapanpun dia anakku...aku yang telah mengandung dan melahirkannya..."


kata Eva sambil terisak.


"Tidak akan Eva...aku tidak akan membiarkan mereka untuk mengambil Tama dari kita..tidak ada alasan apapun untuk menyerahkan Tama pada mereka..."


kata Toni melingkarkan tangannya di bahu Eva, sambil menepuk-nepuknya lembut menenangkan Eva.


"Tapi aku takut Toni..aku takut mereka akan kembali lagi nanti...bagaimana jika dia mengambil Tama saat kau tak ada di rumah...aku takut di rumah sendirian...apalagi mereka sudah tau tempat tinggal kita.."


kata Eva lagi memelas pada Toni.


"Lalu kita harus bagaimana Eva...tidak mungkin juga kita pindah dari sini...kita akan pindah kemana ...pekerjaanku sudah cukup baik disini....jika kita pindah...aku harus mencari lagi pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan kita..."


"Tapi aku takut Toni...jika mereka datang lagi..."


"Jangan khawatir...mereka tak mempunyai bukti apapun tentang Tama adalah anak kandungnya...saat itu Arsana bahkan mengumumkan tentang kegugurannya bukan...dia tak akan begitu saja mengambil Tama...karna reputasi yang sangat dia junjung tinggi dalam hidupnya...."

__ADS_1


Keduanya masih sibuk berdebat tentang ketakutan mereka akan Tama, karna Daniel telah mengetahui bahwa anaknya terlahir dengan sangat sempurna.


Sementara itu, Daniel baru saja pulang dari kost Eva. Maatnya masih sembab karna sepanjang perjalanan pulang dia masih menangis menyesali segala perbuatannya dulu, dan lebih percaya dengan perkiraan medis yang salah.


Daniel memasuki rumah, dan langsung menuju kamarnya dengan Arsana.


"Sayang...kau sudah pulang...larut sekali kau pulang...lembur lagi..."


kata Arsana sambil berjalan mendekati Daniel.


"Maaf aku tidak lembur hari ini..."


kata Daniel dengan lemas.


"Lalu dari mana kau sayang...sampai pulang selarut ini..."


tanya Arsana dengan wajah penuh menyelidiknya.


"Tak kemana-mana aku hanya makan malam bersama klien tadi...."


kata Daniel sedikit ragu, dia berbohong tak ingin Arsana mengetahui bahwa baru saja dia bertemu dengan Eva, juga anaknya yang sudah terlahir dengan sempurna.


"Kau bohong....aku telah menghubungi Vincent tadi dan dia mengatakan tak ada jadwal bersama klien manapun malam ini.... sebenarnya kau makan malam dengan siapa..."


tanya Arsana sudah mulai curiga.


Merasa akan ada pertengkaran ketika Daniel terus berbohong, Daniel pun memilih jujur pada Arsana.


"Aku baru saja bertemu dengan Eva..."


"Eva...siapa dia..."


Arsana bahkan sudah lupa dengan nama Eva dan siapa dia sebenarnya.


"Dia wanita yang mengandung anak kita dulu...bayi tabung.."


kata Daniel berusaha mengingatkan.


"ooh...".


Arsana hanya menaikkan kedua alisnya sambil tersenyum tipis, tak peduli dengan yang di bicarakan Daniel tentang Eva.


Daniel pun meneruskan kalimatnya.


" Anak kita lahir dengan wajah yang memiliki banyak kesamaan denganku....dia sangat tampan...kulitnya putih bersih seperti dirimu...dia mempunyai senyum yang manis sepertimu...dan dia terlahir dengan sempurna..."


kata Daniel menatap serius pada Arsana.

__ADS_1


Seketika Arsana menatap Daniel dengan pandangan tak percayanya.


Bersambung...


__ADS_2