
"Apaaa...serius nih mas...masak model kayak Arsana nyewa rahim segala..."
tanya sang jurnalis, dia yang akan memuat berita tentang Eva.
Jurnalis tersebut bernama Riko.
"Iya mas...kami buktinya...dan semua berita tentang dia itu selama ini palsu..."
kata Toni meyakinkan.
"Serius kan ini mas...gak lagi bercanda kan..."
"Ya serius lah mas buat apa saya ngarang-ngarang cerita...kalo mas gak percaya mas bisa ketemu sendiri dengan wanita yang sedang mengandung anaknya.."
"Ya bukan gitu masalahnya mas...ya saya tau pasti waniya hamil ya perutnya besar mas..masalahnya anak yang di kandung itu anak siapa...apa mas punya buktinya..."
Toni berfikir sejenak dia memang tak memiliki bukti yang mengarah langsung pada Daniel dan Arsana. semua bukti tentang kehamilan Eva Arsana lah yang membawanya, sehingga sangat sulit juga untuk membuktikan kehamilan itu adalah anak Arsana.
Melihat Toni yang sedang terdiam berfikir Riko pun berkata lagi.
"Gini nih mas...soalnya berita yang akan kita muat ini menyangkut seorang yang terkenal dan berpengaruh....jika berita ini hanya asal-asalan saja tanpa bukti yang jelas nanti kami yang bakalan kena imbasnya...kami bakal di tuntut karna menulis berita yang gak bener...kalo mas mau kita memuat berita mas harus punya bukti yang akurat dulu...."
"Gini aja mas besok saya akan temui dulu.narasumbernya bernama mbak Eva itu dulu...saya mau tanya-tanya dulu bagaimana cerita sebenarnya...agar nanti saya bisa nulis beritanya dengan jelas dan mudah...gak bisa klo ceritanya cuman dari mas nya..."
"Oh gitu ya mas...iya deh...ini alamat saya..."
Toni memberikan alamat kost nya pada Riko, untuk dia besok datang kesana mewawancarai Eva langsung.
Singkat cerita, hari sudah berganti. Riko benar-benar datang ke alamat yang sudah di berikan oleh Toni. Disana Riko cukup penasaran dengan kisah Eva, dia bertanya banyak tentang dirinya. Dan tentang cerita bagaimana dia bisa sampai kepada Arsana dan Daniel serta mengandung anak mereka.
Segalanya telah di catat oleh Riko, sesi wawancara yang panjang pun telah selesai.
"Saya sudah selesai mbak ...mas..."
kata Riko sambil membereskan barang-barang yang di bawanya.
"Iya mas terimakasih ya...sudah mau memuat berita tentang kami..."
kata Eva dengan tersenyum.
__ADS_1
"Iya mas terimakasih ya...saya berharap dengan adanya berita ini mereka akan sadar dan kembali bertanggung jawab atas anaknya..."
jawab Toni penuh harapan.
"Iya semoga saja ya...tapi untuk ini semua gak gratis mas....apalagi berita ini menyangkut orang-orang berpengaruh seperti Arsana dan Daniel...jika mereka tak terima saya beserta pabrik koran saya bisa di tuntut mereka mas..."
"Apalagi saya mencantumkan nama saya sebagai jurnalis...jika mereka menuntut saya, bisa-bisa saya masuk penjara...."
Seakan tau maksud dari perkataan Riko, Toni pun langsung bertanya berapa harga yang di minta oleh Riko padanya.
"Lalu berapa harga yang harus kami bayar untuk menerbitkan berita ini secepatnya mas.."
"Saya butuh 8 juta mas..."
"Apa banyak sekali.."
kata Eva terkejut.
"Haah....kenapa banyak sekali hanya untuk memuat 1 berita saja...mas memeras kami ya..."
"Loh...kok jadi saya di tuduh memeras...ya emang gini mas..kalo mas mau beritanya di terbitkan....semuanya gak gratis...apalagi menyangkut model seperti Arsana...ini cukup beresiko untuk kami mas..."
"Iya mas memang....tapi saya pikir-pikir ini sangat beresiko dan juga saya harus mencari bukti yang akurat juga untuk menerbitkan ini semua...saya harus mencari dan mewawancarai dokter yang terlibat dengan ini....paling tidak, ada pengakuan juga darinya...baru saya berani terbitkan... beri saya waktu 1 minggu untuk mencari bukti dan juga menerbitkan berita ini....dan dengan bayaran segitu kalian gak perlu repot-repot lagi untuk mencari informasi lain...saya yang akan mencari semua sendiri....kalian tinggal duduk manis dan menunggu berita ini naik....lalu setelahnya kalian akan mendapatkan kembali apa yang kalian inginkan...yaitu tanggung jawab dari si Arsana dan suaminya itu..."
jelas Riko panjang lebar.
"Baiklah mas....tapi saya sangat berharap mas benar-benar bisa menerbitkan berita ini mas...."
ungkap Eva.
"Pasti mbak saya akan terbitkan beritanya...tenang saja...."
Akhirnya Eva dan Toni pun membayar sejumlah uang yang sudah di minta oleh Riko. Mereka sangat berharap dengan adanya berita itu, Arsana dan Daniel kembali memperhatikan mereka dan tidak meninggalkan begitu saja bayinya. Paling tidak sampai bayi itu terlahir dan Eva bebas dari beban anak yang sedang di kandungnya.
Keesokan harinya, Riko benar-benar mendatangi rumah sakit Sari Husada untuk bertemu langsung dengan dokter Danis. Bukan mengatakan sebagai jurnalis. Tapi dia datang dan mendaftar sebagai pasien di dokter kandungan, bersama teman wanitanya sebagai penyamaran.
"Selamat pagi tuan dan nona....ada yang bisa saya bantu..."
"Selamat pagi dokter Danis..."
__ADS_1
jawab Riko sopan.
Riko sudah menyiapkan alat perekam di dalam tas nya untuk merekam semua percakapan antara mereka.
"Apa nona sedang hamil...atau ingin melakukan program kehamilan...."
tanya dokter Danis lagi.
"Oh tidak dokter kami datang kesini untuk maksud yang lain.."
kata teman wanita Riko.
"Maksud anda.."
tanya dokter Danis bingung.
"Iya dok....tentang Eva...pasien program bayi tabung anda....".
kata Riko menatap lekat pada dokter Danis.
Seketika expresi wajah dokter Danis langsung berubah drastis, menjadi kaget dan ketakutan.
" Siapa kalian...."
"Kami jurnalis di sebuah pabrik koran dokter....kami ingin tau sedikit kisah tentang Eva...maukah dokter sedikit membaginya dengan kami...."
"Lebih baik kalian pergi dari sini...ini cukup sensitif dan berbahaya jika di bahas...saya tak berani berkata apapun tentang ini..."
"Tolong lah dokter....apa anda tak kasihan dengan keadaannya sekarang, Eva sangat menderita dok....dengan bayi yang ada di dalam kandungannya...."
"Saya tidak peduli dengan itu...karna itu bukan tanggung jawab saya...saya hanya bertugas menanamkan bayi dalam kandungannya...setelahnya bukan tanggung jawab saya....lebih baik kalian pergi dari sini sekarang juga..."
Dokter Danis sangat ketakutan, karna dia di bawah ancaman Daniel dan Arsana. Yang sudah membayar mahal dirinya untuk tutup mulut tentang semua ini.
Bahkan saat itu pernah Toni datang ke rumah sakit untuk menemui dokter Danis. Tapi Toni tak berhasil menemuinya, karna dokter Danis telah bertitip pesan pada resepsionis untuk menghafalkan wajah Toni dan Eva, sebagai daftar orang yang tidak boleh di temui oleh dokter Danis.
Resepsionis kala itu mengatakan pada Toni, bahwa dokter Danis tidak lagi bekerja di rumah sakit tersebut. Seakan sudah hilang semua harapan, Toni pun pergi darisana tanpa mencaritahu kebenaran tentang dokter Danis sebenarnya.
Bersambung....
__ADS_1