Korban Rahim Sewaan

Korban Rahim Sewaan
End


__ADS_3

Pagi itu di kediaman mewah Ranika, waktu sarapan telah tiba. Tama dengan seragam sekolahnya tengah menunggu Eva dan Toni di meja makan. Begitu juga Ranika, dia sedikit bercanda dengan Tama, hingga tawa-tawa kecil terdengar dari keduanya.


Lama yang di tunggu tak juga datang, akhirnya Ranika memilih untuk menyusul mereka ke kamarnya, karna Tama yang sebentar lagi juga akan berangkat sekolah, Ranika tak ingin cucu kesayangannya itu terlambat, tapi dia juga tak ingin melewatkan sarapannya tanpa Eva dan Toni.


"Eva..Toni....ayo cepat sarapan...Tama sudah menunggu..dia bisa terlambat nanti..."


kata Ranika sambil mengetuk pintu kamar.


Tak mendapat jawaban, tapi Toni segera membuka pintu kamar dengan setelan jasnya. Setelan jas mahal sebagai seorang pemimpin perusahaan barunya.


"Maaf ma...sepertinya Eva sedang tak enak badan...dia terus mengeluh pusing dan muntah-muntah...sekarang dia ada di kamar mandi..."


kata Toni dengan wajah khawatirnya.


"Eva tak enak badan...sejak kapan...kenapa kalian tak bilang...aku akan panggil kan dokter untuk Eva segera..."


jawab Ranika dengan wajah khawatirnya.


"Aku juga tak tau ma...sejak beberapa hari belakangan dia terus saja mengeluh pusing sekarang malah muntah-muntah...."


"Apa mungkin karna Eva tak cocok dengan AC ini Toni....mama memang baru menggantinya beberapa hari yang lalu dengan AC yang lebih dingin...mama kira AC yang lama sudah tak berfungsi dengan baik...makanya mama menggantinya dengan merk terbaru..."


"Mungkin bisa jadi ma...Eva memang tak tahan dengan hawa yang terlalu dingin..."


Perbincangan mereka terhenti karna terdengar suara Eva membuka pintu kamar mandi.


"Kau baik-baik saja sayang...apa masih muntah-muntah...apa perutmu sakit...masih pusing ya..."


Toni mencecar tubuh lemah Eva dengan banyak pertanyaan, sambil menggandengnya menuju ranjang mereka.


"Tidurlah sayang...aku akan menyuruh pelayan membawakanmu teh herbal untuk meredakan mual...sambil menunggu dokter yang akan datang memeriksamu...."


kata Ranika membantu menyelimuti Eva yang sudah duduk bersandar di ranjangnya.


"Tak perlu khawatir berlebihan seperti itu ma...aku tak perlu dokter...aku baik-baik saja..."


kata Eva dengan nada lemah.


"Tak perlu khawatir bagaimana lihatlah keadaanmu Eva...kau pucat...badanmu juga lemas..."


kata Ranika heran dengan perkataan Eva.


"Sudahlah..menurut saja pada mama...kau benar-benar mengkhawatirkan sayang..."


kata Toni sambil menempel-nempelkan tangan pada dahi Eva melihat suhu tubuhnya.


"Kalian semua tak perlu khawatir...ini semua wajar...ini karna ulah adik Tama...dia selalu membuatku mual di pagi hari..."


kata Eva memandang ke arah Ranika dan Toni bergantian.

__ADS_1


"Adik Tama...siapa..."


kata Toni masih kebingungan dengan perkataan Eva.


Sedangkan Ranika lebih cepat mengerti, dia pun menutupi mulut dengan kedua tangannya terkaget dengan perkataan Eva.


"Astaga...kau hamil sayang..."


kata Ranika dengan mata yang berbinar.


Eva pun hanya tersenyum dan mengangguk pada Ranika. Seketika itu Ranika menghambur memeluk Eva, bahkan menciumi kedua pipinya.


"Aku akan mempunyai cucu baru....aah..senangnya rumah ini akan semakin ramai nantinya....terimakasih sayang..."


memeluk Eva lagi erat.


Sementara Toni sejenak diam mematung karna terkaget dengan perkataan Ranika yang mengatakan Eva hamil, lalu beberapa detik kemudian ada yang mengalir di kedua pipi Toni. Toni terharu dengan hamilnya Eva kembali, dan tentu dia sangat bahagia karna yang di kandung Eva sekarang adalah anak kandung dari mereka berdua.


Toni pun juga memeluk Eva, mencium keningnya masih dengan airmata yang mengalir di kedua pipinya.


"Terimakasih sayang..."


kata Toni terbata sambil memeluk Eva lagi.


Kehamilan Eva pun berjalan lancar, sejak saat itu Ranika juga lebih memperhatikan Eva lagi. Mencarikan Eva seorang dokter kandungan terbaik, juga mengawasi semua yang Eva makan, menyuruh para pelayan di rumahnya untuk selalu mempertimbangkan gizi yang di konsumsi oleh Eva.


Tama juga sangat bahagia karna dia sebentar lagi akan mempunyai seorang adik, tak jarang Tama tertidur di kamar Eva hanya untuk memeluk perut Eva dan juga menciuminya mengajak adiknya berbicara sambil mengelus-elus perut Eva.


Bayi itu di beri nama Anindita oleh Ranika, dia juga sangat bahagia dengan kelahiran anak kedua dari Eva, yang akan membuat harinya semakin berwarna.


Dita terlahir dengan sempurna dia memiliki wajah yang cantik menggemaskan, namun tak sama seperti Tama kakaknya. Dita mempunyai kulit yang sedikit coklat sama persis seperti milik Eva.


Tama sempat menanyakan hal itu pada mereka, tapi Eva hanya menjawab bahwa itu adalah takdir dari Tuhan dan bagaimana pun Tama dan juga Dita adalah saudara meski bukan saudara kandung.


Kehidupan di kediaman Ranika semakin bahagia, apalagi tepat 3 bulan setelah Eva melahirkan, Arsana dinyatakan sembuh oleh pihak rumah sakit, dan dia pun di perbolehkan pulang.


Kesehatan mental Arsana semakin membaik setelah tinggal di rumah, membaur dengan Tama dan juga Dita. Arsana juga tak kesepian lagi, ada Eva yang selalu mendengarkan setiap curahan hatinya.


Hingga Akhirnya Arsana pun kembali lagi seperti sedia kala, dia bahkan merawat dirinya lagi dan memiliki kembali tubuh idealnya.


Kecantikannya kembali terpancar sejak saat itu, dia juga di izinkan oleh Ranika untuk membantu Toni dalam mengendalikan perusahaan milik Arthur dulu.


Dan berkat semua bantuannya kecerdasan Arsana dan kecerdikan Toni, perusahaan semakin maju dan berkembang dengan pesat.


Tepat 3 tahun setelah Arsana di nyatakan sembuh, dia mendapatkan kembali tambatan hatinya dan memutuskan untuk menikah.


Arsana menikah dengan seorang karyawan di perusahaannya. Pria itu sangat mencintai Arsana, dia menerima semua kekurangannya, dia juga mengetahui segala kisah hidup Arsana. Dan itu sama sekali tak merubah cintanya pada Arsana.


Arsana tetap tinggal di kediaman Ranika atas permintaan Ranika sendiri. Ranika ingin anak-anaknya baik Eva maupun Arsana tetap berada dekat dengannya, dan dia juga ingin masa tuanya di kelilingi oleh canda tawa cucu-cucunya.

__ADS_1


Setahun setelah pernikahannya, Arsana di karuniai seorang anak perempuan yang sangat cantik. Kelahirannya di sambut dengan bahagia oleh Tama. Tama yang sudah mulai tumbuh besar selalu menjaga adik-adiknya dengan sangat baik, dia penyayang juga sabar dalam menghadapi segala kejahilan dari adik-adik perempuannya.


Ssmentara di lain tempat Daniel sudah memiliki sebuah warung kecil yang menjual berbagai kebutuhan pokok. Dia memakai uang yang di berikan Ranika untuk membuka sebuah usaha di kostnya. Dan dengan usaha itu akhirnya Daniel bisa membeli kost sempit yang dia tempati, sebagai tempat tinggal miliknya sendiri.


Daniel hidup dengan sederhana di rumah sempitnya tanpa seorang istri, dia tak lagi memiliki keinginan untuk menikah. Dia hanya ingin hidup berdua bersama putri kecilnya yang selalu bersikap manja padanya, merawat dan membesarkannya seorang diri.


Sungguh sebuah tantangan tersendiri untuk Daniel menjadi sosok ibu yang merawat putrinya, juga sosok ayah yang harus bekerja menghidupi dan membesarkannya.


Tapi semua itu Daniel jalani dengan ihklas dan bahagia. Daniel hidup dalam kesederhanaan bersama seorang putri kecil yang sangat di sayanginya.


Pada akhirnya mereka semua bahagia dengan caranya masing-masing.


Tak ada kata dan makna yang dapat menggambarkan kebahagiaan selain sederhana.


Karna bahagia itu sederhana dan hanya kita lah yang mampu menciptakan kebahagiaan untuk diri kita sendiri.


.


.


.


.


....>>Korban Rahim Sewaan<<...


...>>>TAMAT<<<...


.


.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih untuk para readers yang slalu setia membaca novel "Korban rahim sewaan"


Kisah kehidupan Eva, Toni, Arsana dan Daniel berakhir sampai disini ya...💞


Maaf jika ada kesalahan penulisan maupun kata yang tidak tepat dalam novel ini.

__ADS_1


Jangan lupa beri author dukungan dengan memberi hadiah, vote, like, coment dan favoritnya ya...


Salam manis dari author..semoga sehat selalu....💞💞💞💞💞


__ADS_2