
"Oh jadi ini toh....pria miskin pilihanmu itu..."
Erman menatap Toni dengan pandangan merendahkan.
"Udah hitam..jelek...miskin lagi...apa ya gak mending hidup sama aku va...lebih makmur dan masa depan terjamin....udah tinggalin aja lelaki kayak beginian...nggak nguntungin banyak nyusahin yang ada...."
imbuh Erman lagi dengan senyum menyeringainya.
orang ini bener-bener ya...
batin Eva kesal dan sudah mulai berdiri ingin menghina balik pak Erman. Tapi belum sempat berkata tangan Ibunya sudah mencegah Eva untuk melangkah maju.
Siti yang merasakan akan adanya pertengkaran jika pak Erman di biarkan disana, Siti pun berusaha mengusirnya dengan sopan.
"Maaf pak Erman...tapi apa gak sebaiknya bapak pulang...karna hari sudah mulai gelap..udara juga sudah mulai dingin...gak baik buat kesehatan bapak..."
kata Siti sambil tersenyum yang di buat-buat.
"Emm....ya kau benar...lebih baik aku pulang...gak baik lama-lama menghirup udara yang sama dengan orang miskin....bisa sesak nafas aku nanti..."
kata Erman sambil melirik Toni sinis.
"Oh ya....lebih baik kau memikirkan tawaranku tadi Eva...menikahlah dengan ku...agar hidupmu lebih baik dan lebih terjamin...dari pada dengan orang dekil ini...datanglah ke rumahku jika kau mau...rumahku slalu terbuka untukmu sayang..."
imbuhnya lagi sambil menyeringai pada Eva.
Eva yang di pandang dengan pandangan seperti itu hanya melengos dan menunjukkan wajah kesalnya.
Sementara Toni hanya terlihat mengepalkan tangannya, tanpa ingin membalas semua kata-kata dari pak Erman yang sedari tadi menghinanya.
Hari pun berganti, Toni pagi itu mengikuti ayah mertuanya untuk mulai pergi bekerja di ladang. Membantu apapun disana, karna Toni yang belum mempunyai pengalaman dalam bercocok tanam.
Tak mudah bagi Toni, dia sering kena marah oleh sang pemilik ladang, karna di nilai lama dalam bekerja, juga salah dalam metode penanaman dan masih banyak lagi.
__ADS_1
Belum lagi panas terik matahari langsung yang harus dia rasakan di tengah pekerjaannya, membuatnya terasa pusing karna belum terbiasa.
Dengan pekerjaan yang cukup berat, Toni mendapatkan bayaran yang tak seberapa. Mungkin karna ini di daerah pedesaan dan pelosok. Bayaran disana sangat jauh dari bayangan Toni. Beberapa hari bekerja ikut dengan ayah mertuanya membuat Toni berfikir sanggup kah dia menafkahi Eva dengan uang yang di dapatkannya.
Belum lagi Eva yang sebentar lagi melahirkan seorang anak dengan berkebutuhan khusus, yang membutuhkan biaya lebih untuk kehidupannya. Belum juga cacian dari para tetangga maupun teman kerja ayah mertuanya, yang selalu terdengar di telinga Toni, tentang kehamilan Eva, membuatnya semakin tak betah saja tinggal disana.
Baru satu minggu Toni bekerja di ladang, dia sudah tidak tahan dengan segala yang dia rasakan, karna dia sama sekali tak mempunyai pengalaman dalam bekerja di ladang. Juga Toni tak punya pilihan lain karna mata pencaharian disana memang lebih banyak di persawahan, tak ada tempat bekerja lain yang lebih Toni minati, mengingat desa Eva yang memang berada di pelosok jauh dari segala hingar bingar.
Toni pun mengutarakan segala keluh kesahnya pada Eva, dia tak ingin lagi tinggal disana. Lebih baik Toni tinggal di kota sebatang kara, tak ada yang akan menghinanya, dia juga dengan mudah mendapatkan pekerjaan, apapun itu yang terpenting bukan di ladang orang.
Karna keluh kesah Toni, Eva pun mempertimbangkan semuanya. Eva sendiri juga sudah lelah mendengar segala makian dari tetangga-tetangga di sekitarnya, apalagi tatapan-tatapan hina mereka pada perut Eva. Yang selalu Eva dapatkan setiap dia berpapasan dengan para tetangganya.
Eva dan Toni pun memilih untuk kembali ke kota, untuk menjalani kehidupan mereka lagi disana. Meski harus bekerja keras, tapi setidaknya Eva dan Toni bisa hidup tenang jauh dari segala caci maki para tetangganya.
Setelah kurang lebih 10 hari Eva dan Toni tinggal di desanya, mereka segera pamit untuk menjalani kehidupan lagi di kota.
Kedua orangtua Eva pun tak dapat mencegahnya, mereka membiarkan Eva dan Toni pergi untuk mencari kehidupan mereka sendiri.
kata Toni sambil mencium punggung tangan kedua mertuanya.
"Iya le...jaga baik-baik Eva dan anakmu ya....semoga kalian menemukan tempat tinggal yang lebih baik disana..."
kata Siti sambil menepuk-nepuk bahu Toni.
"Iya...tapi jangan lupa juga kabari kami ya kalau kalian sudah sampai....juga kabari kami kalau cucu kami sudah lahir...kami akan datang kesana nanti...yaa..."
kata Joni sambil tersenyum pada Toni.
"Iya pak itu pasti...doakan kami ya pak..."
Sementara Eva yang mendengar jawaban dari ayahnya, seketika menjadi murung.
bagaimana reaksi ayah nanti...saat mengetahui kondisi bayi yang aku kandung...aku tak bisa membayangkan itu....kedua orangtuaku sudah sangat terpukul dengan kehamilanku ini...apalagi nanti saat tau kondisi bayi yang sedang aku kandung ini....ayah..ibu...sekali lagi maafkan aku...
__ADS_1
batin Eva dengan pilu.
"Eva jaga kesehatanmu dan bayimu ya.."
kata Siti sambil memeluk Eva dengan eratnya.
Eva yang tersadar dari lamunannya karna pelukan ibunya yang tiba-tiba, segera memeluk erat juga tubuh ibunya.
"Tentu bu....maafkan Eva ya bu...."
"Maaf untuk apa sayang.."
kini Siti memandang Eva dengan wajah khawatir.
"Maaf...Eva telah mengecewakan ayah dan ibu....Eva bukan anak yang baik...maafin Eva ya bu..."
kata Eva sambil berkaca-kaca.
"Sudahlah....jangan bersedih seperti itu...yang terpenting sekarang jaga kesehatanmu ya....hati-hati disana..jangan gegabah dalam mengambil keputusan ya..."
"Terimakasih ya bu...ibu selalu mengerti dengan Eva..."
Eva memeluk lagi ibunya erat.
Pagi itu pun Eva dan Toni berangkat kembali untuk menjalani kehidupannya di kota. Mereka melakukan perjalanan dengan naik kereta, menuju kembali ke kota jakarta.
Kali ini Eva dan Toni memilih daerah yang berbeda untuk tinggal. Memulai lagi kehidupan baru mereka, dengan orang-orang baru, juga status yang baru sebagai suami istri.
Telah sampai di jakarta kembali, Eva dan Toni kali ini mendapatkan kost yang cukup layak. Sebuah rumah kecil dengan beberapa ruang di dalamnya, uang sewanya juga tak begitu mahal. Toni tak ingin menyewa kost dengan satu kamar lagi, karna sebentar lagi Eva yang memiliki seorang bayi pasti membutuhkan banyak ruang untuk bergerak. Dan membutuhkan tempat lebih untuk menaruh bayinya nanti.
Toni juga mendapatkan pekerjaan di restoran di dekat dia tinggal, dia membantu mencuci piring juga bersih-bersih disana. Merasa tak cukup dengan bayaran yang di dapatnya untuk segala kebutuhannya dan Eva. Toni di malam hari masih bekerja menjadi tukang parkir di depan ruko yang juga dekat dengan tempat tinggalnya. Sekedar mendapatkan uang tambahan untuk biaya hidup mereka setiap harinya.
Bersambung....
__ADS_1