
"Jadi selama ini kau bekerja menjadi wanita malam di jakarta...anakmu tak memiliki ayah yang pasti...begitu maksudmu..."
"Ti..tidak ayah...tidak seperti itu..."
kata Eva yang sulit berkata karna dirinya kini tengah terisak keras.
"Kau mengirimkan uang banyak kepada kami beberapa bulan yang lalu...jadi kau bekerja seperti ini...kau memberikan uang haram kepada kami..."
kata Joni lagi dengan penuh amarah. Eva yang terisak hanya terdiam tak sanggup menjawab apapun.
"Kami kecewa padamu Eva...lebih baik kami tak pernah menerima uang darimu jika kami tau kalau uang yang kau kirimkan adalah hasil dari ini..."
kata Siti menunjuk perut Eva dengan deraian air mata.
"Pergi dari sini...aku tak pernah mendidik anakku mencari uang dengan cara seperti itu...kau bukan anakku...pergi dari sini..."
kata Joni sambil menunjuk-nunjuk Eva.
Toni yang sedari tadi diam melihat segala cacian orang tua Eva, kini dia berbicara.
"Jangan mengusir Eva bu...pak...saya mohon dia juga anak kalian...ini bukan salah Eva...tapi ini semua salah saya...ini tanggung jawab saya..."
kata Toni sambil membantu Eva untuk berdiri.
"Saya yang bertanggung jawab atas keadaan Eva sekarang...atas kehamilannya..."
imbuh Toni lagi.
"Jadi kau yang menghamili anakku..."
kata Joni dengan mata terbelalak menatap Toni penuh amarah.
Toni ingin menjelaskan bahwa semua itu tanggung jawabnya karna dia yang telah mengajak Eva untuk menyewakan rahimnya. Tapi belum sempat Toni mengatakan semuanya pada orangtua Eva. Joni sang ayah yang sudah di penuhi amarah segera menyeret Toni memasuki rumahnya dengan kasar.
"Jadi kau ayah dari anak yang di kandung anakku...kau menghamilinya..."
kata Joni sambil menyeret kerah baju Toni ke dalam rumahnya.
"Ti..tidak pak...saya mohon dengarkan saya dulu...tidak begitu kejadian yang sebenarnya..."
kata Toni terbata sambil memegang tangan Joni yang sudah menarik kerah bajunya.
"Atau kau yang menyuruh Eva menjual tubuhnya..."
__ADS_1
Joni melepaskan tubuh Toni dengan kasar, mendorongnya hingga hampir terjatuh.
"Bukan begitu maksud saya pak...dengarkan saya dulu..bukan saya yang menghamilinya...tapi saya akan bertanggung jawab untuk semua ini.."
"Tidak usah banyak alasan untuk mengelak...kau pasti yang telah menghamilinya kan..."
"Demi Tuhan saya tidak pernah menyentuh Eva pak..."
"Kau sudah bersalah tapi masih membawa-bawa nama Tuhan...kurang ajar..."
satu pukulan keras mendarat tepat di wajah Toni yang membuatnya tersungkur di lantai rumah Eva.
"Saya mohon dengarkan saya dulu pak..."
kata Toni sambil meringis memegang wajah yang terkena pukulan ayah Eva.
"Ayah.....tolong jangan sakiti Toni.."
kata Eva berlari kecil hendak menghampiri Toni, tapi Joni segera menepisnya hingga membuat Eva mundur dan tak berani mendekati Toni.
"Kau diam...atau kau ingin aku yang memukulmu..."
kata Joni menunjuk Eva dengan amarah.
"Jangan pak...jangan sakiti Eva...lebih baik bapak pukuli saya saja...saya memang yang bersalah..."
"Kau memang benar kau pantas mendapatkan ini..."
satu pukulan lagi mengenai hidung Toni yang seketika itu mengeluarkan setetes darah dari hidungnya.
Eva terus saja merengek, agar ayahnya berhenti memukuli Toni. Tapi Joni yang sudah di penuhi oleh amarah tak memperdulikan siapapun. Bahkan perkataan istrinya sama sekali tak dia dengarkan. Rasa marah, kesal dan kecewa sudah memenuhi hatinya dan menutup telinganya.
Sore itu Toni di buat babak belur oleh Joni, dia bahkan tak melawan sama sekali. Dia membiarkan ayah Eva melampiaskan kemarahannya padanya. Karna Toni tak ingin Eva yang menerima semua pukulan itu.
Setelah semua kemarahan telah terlampiaskan, Joni yang sudah lelah memukuli Toni pun terduduk. Dia malah menangis ntah apa yang dia rasakan sekarang, Joni malah terisak terduduk di bawah lantai. Istrinya menepuk-nepuk pundak Joni menenangkan suaminya.
Setelah lama keadaan hening, Toni yang masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya di buat terbelalak dengan perkataan ayah Eva yang tiba-tiba.
"Aku akan menikahkan kalian malam ini juga.."
kata Joni sambil berdiri dan berjalan keluar rumah.
Siti hanya melihat kepergian Joni sambil menatap Eva yang sedang menyeka darah di hidung Toni. Juga menatap Toni yang meringis karna sakit di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
"Ibu aku mohon...cegah lah ayah...Toni bukan lah ayah dari anakku ibu....dia hanya bertanggung jawab atas semua keadaan ini..."
"Kalau dia bukan ayah dari anakmu...kenapa dia bertanggung jawab atas kehamilanmu..."
kata Siti memandang Eva heran.
"Dengarkan aku dulu ibu...aku akan menceritakan semua yang terjadi..semua tidak yang seperti ayah dan ibu kira..."
"Sudahlah diam....kau masih saja mengelak dengan semua bukti yang sudah ada jelas di depan mata...."
kata ibunya sambil meninggalkan Eva dan Toni di ruang tamu rumahnya.
Malam itu pun Eva dan Toni di nikahkan oleh kedua orang tua Eva. Pernikahan di hadiri hanya dengan beberapa saksi tetangga dekat Eva, dan penghulu yang menikahkan keduanya.
Mereka di nikahkan secara agama tanpa adanya surat-surat dari negara. Tanpa baju pengantin, dekorasi dan segala macam tentang pernikahan, keduanya sudah sah menjadi sepasang suami istri.
Beberapa tetangga yang hadir pulang dengan membawa berita masing-masing, sebagai bahan gunjingan tentang Eva yang pulang dan tiba-tiba di nikahkan dengan keadaan hamil besar.
Tak memperdulikan tentang omongan para tetangganya nanti, kedua orangtuanya tetap menikahkan keduanya meski mereka tau. Cepat atau lambat berita tentang kehamilan Eva akan menyebar dan menimbulkan berbagai gunjingan dari para ibu-ibu di kampungnya.
Malam itu Eva dan Toni tidur di kamar Eva dulu. Kamar sempit dengan tempat tidur yang sempit jika di pakai tidur untuk 2 orang. Kamarnya juga tak memiliki pintu. Hanya kelambu tipis sebagai penutup kamar itu.
Di dalam kamar, keduanya sedang terbaring di ranjang yang sama, meski sempit kini Eva tak mau Toni tertidur lagi di lantai. Yang nanti akan membuat kedua orangtuanya marah lagi, karna status mereka yang sudah menjadi suami istri.
Mereka tidur terbaring dan menyisakan sedikit celah di tengahnya, Eva menaruh sebuah guling disana untuk memberi jarak antara dia dan Toni.
"Kenapa kau tak menolak tadi..."
tanya Eva.
"Menolak untuk apa.."
"Untuk menikah denganku..."
"Percuma...karna orangtuamu tak mau mendengarkan penjelasanku...."
"setidaknya kau bisa menolaknya..dengan cara apapun itu...tapi kau tak melakukan apapun...dan kau hanya diam..bahkan menurut dengan semua perintah orangtuaku..."
"Tak masalah...anggap saja semua ini sebagai bentuk tanggung jawabku padamu..."
Eva terdiam cukup lama, seakan tau pemikiran Eva sekarang Toni segera berkata lagi.
"Tenang saja aku tak akan melakukan apapun padamu...meski kau sudah menjadi istriku..."
__ADS_1
kata Toni sambil memiringkan tubuhnya membelakangi Eva.
Bersambung....