Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku

Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku
#part10


__ADS_3

Sinar matahari mulai tampak memanjakan langit kebiruan di italia kini memasuki musim panas. Sekalipun masih pagi, dengan udara yang sejuk tapi tidak saat ini, udara terasa panas. Bahkan pria yang biasanya terbangun pagi masih terlelap sambil memeluk guling.


Emm


Dia melenguh, mempererat pelukannya entah apa yang terjadi di alam mimpinya sampai membuat pria itu tersenyum.


"Sayang," Adel mengguncang tubuh Hazel. Ia tersenyum melihat suaminya yang tertidur pulas sambil memeluk guling. "Kau sedang memimpikan aku kan?" Tangannya dengan lembut membelai kepala Hazel.


Tok tok tok


"Siapa sih yang mengganggu pagi-pagi," ucap Adel dengan kesal. Dia membuka pintu kamarnya dengan kasar dan melihat sang Mommy.


"Hari ini Mommy harus pulang, Daddy ku sudah pulang."


Adel ber oh ria, dia menguap dan menutup pintunya.


"Buat apa Mommy peduli baget sama Daddy, lagi pula Daddy tidak pernah melihat Mommy."


Drt


Adel melangkah ke arah nakas, ia melihat sebuah nama yang ia kenal. "Hallo," sapa Adel.


Pria di seberang sana pun menjelaskan kejadian tadi malam dan membuat Adel langsung menatap tajam suaminya. Bisa-bisanya suaminya memastikan keadaan ibu Kayla. Dadanya terasa panas, ia merasa terbakar.

__ADS_1


"Awas saja kau Kayla, lihat apa yang aku lakukan kali ini." Guman Adel.


"Kau jangan dengarkan perkataan suami ku, biarkan saja wanita itu, toh dia mati juga tak ada gunanya." Adel mematikan ponselnya secara sepihak.


"Hazel benar-benar keterlaluan, aku tidak akan membiarkan ibu pelakor itu hidup." Gumam Adel.


Ia menatap sebuah foto, dan tersenyum sinis. "Kita lihat, bagaimana kau akan menghadapinya."


Adel mengirim foto itu pada seseorang dan membuat nama Kayla tercemar di grup. "Maafkan aku sayang, aku harus menggunakan nama mu."


...


Mikayla merias dirinya, menggunakan celana jens, kaos biasa dan rambut di ikat satu. Dia tersenyum menatap wajahnya, hari ini ia akan masuk dan bertemu dengan kekasihnya itu.


"Bibi sudah menyiapkan sarapan untuk mu," ucap Bibi Lin, dia menyisakan sepiring nasi goreng untuk Mikayla. Meskipun Mikayla sudah resmi menjadi istri dari Hazel, tapi bukan berarti Mikayla memiliki status di rumah ini.


"Tidak usah Bi, aku bawa saja ya."


"Ya sudah, nasinya aku pindahkan ke kotak bekal saja." Bibi Lin pun mengambil kotak bekal dan menaruh nasi goreng di piring itu.


"Aku berangkat ya Bi."


"Iya hati-hati," ucap Bibi Lin tersenyum ramah. Melihat Mikayla, ia seperti memiliki anak sendiri.

__ADS_1


...


"Dion," sapa Mikayla. Pria yang sedang membaca buku itu mendongak dan menatap dingin. Kebetulan sekali ia ingin mendengarkan penjelasan Mikayla perihal foto yanh di kirim tadi pagi.


"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan pada mu," ucap Dion. Dia menarik kasar lengan Mikayla menuju taman samping yang terlihat sepi.


"Kamu bisa jelasin ini," ucap Dion sambil memperlihatkan sebuah foto.


Deg


Wajah Mikayla langsung berubah pucat, ada sesuatu yang sesak namun menyakitkan. Ia tidak tau harus memulainya dari mana.


"Apa benar kamu menjadi seorang simpanan?" tanya Dion. Dia tidak percaya kalau yang di foto itu Mikayla. "Aku tanya Kay?"


"Kamu dapet dari mana Di?"


"Tinggal kamu jawab, iya atau tidak Kay?" tanya Dion dengan sarkas.


Mikayla memejamkan kedua matanya, jantungnya berdebar ketakutan. Kedua telapak tangannya langsung dingin. "I-iya Di,"


"Brengsek!!" Dion langsung memukul sebuah pohon di sampingnya dan membuat Mikayla terkejut.


"Di, aku bisa jelasin." Mikayla memegang lengan Dion. Ia sangat mencintai pria di depannya ini dan tak ingin kehilangannya. "Aku bisa jelasin Di," imbuhnya lagi dengan air mata berderai.

__ADS_1


"Cukup Kay, ini sudah jelas. Aku gak nyangka Kay kamu semurah itu sampai kamu menjadi simpanan pria beristri, aku mau hubungan kita selesai."


__ADS_2