Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku

Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku
#part8


__ADS_3

"Sayang," Adel memeluk tubuh Hazel dari belekang. Dia tersenyum senang Hazel melihat Hazel memberi pelajaran bagi Mikayla, yang artinya ia tidak perlu khawatir kehidupan selanjutnya. Ia tidak perlu khawatir perkataan sang ibu.


Dia memandang Mommy Mona yang berdiri tak jauh darinya. Kedua saling lempar pandang.


"Sayang, maafkan aku membuat mu khawatir."


Hazel melepaskan kedua tangan yang melilit itu, dan merangkup kedua pipi Adel, lalu mencium keningnya. "Maaf ya sayang,"


"Aku gak masalah, aku senang kamu tegas dengan Mikayla."


Mommy Mona tersenyum licik. Beberapa menit yang lalu Mommy Mona sengaja menghubungi Hazel.


*Mommy Mona memasang suara sedih dan putus asanya. "Hazel, kamu di mana? Cepat pulang."


"Mom kenapa?" tanya Hazel yang khawatir di seberang sana membuat Mommy Mona tersenyum licik.


"Aku tidak tau apa salahnya Adel, tadi Adel hanya memperingatinya dan teganya Kayla mendorongnya*."


...


Pada malam harinya.


Mikayla keluar dengan wajah bengkak, dia menyiapkan makan malam untuk Hazel, Adel dan juga Mommy Mona. Kebetulan tuan Azraf berada di luar kota, jadi membuat Mommy Mona bebas bersama Adel dan mengerjai Mikayla habis-habisan.


"Seorang budak tidak akan mampu menjadi seorang Nyonya," sindir Mommy Mona dengan pedas.

__ADS_1


Bibi Lin hanya bisa menahan amarah yang selalu meredang setiap kali bertemu dengan Momny Mona. Entah sihir apa yang membuat Hazel mencintai Adel dan mempunyai mertua seperti Mommy Mona.


Tubuh Mikayla bergetar ketika mendengarkan suara langkah kaki. Kepalanya semakin menunduk dan tak ingin melihat pria kejam itu. Benci, ia sangat benci pada Hazel. Rasa sakit penghinaan tadi membuatnya merasakan jijik setiap kali melihat wajah Hazel.


Kedua manik Hazel menangkap sosok yang sempat tadi ia marahi, hatinya tak karuan. Dia pun duduk di kursi yang menunjukkan dirinya sebagai kepala keluarga.


Hazel menatap hidangan itu, wangi yang harum memabukkan perutnya. Dia tidak sabar ingin memakannya. Baru kali ini hidangan di depannya menggugah seleranya.


Setelah hidangan yang tertata rapi, Mikayla bergegas pergi menyisakan Bibi Lin yang berdiri tak jauh darinya.


"Makanya jadi orang jangan belagu, mau jadi nyonya ya nyonya gak di anggap." Sindir salah satu pelayan.


Mikayla tak ambil pusing, dia bagaikan air yang telah beku. Tidak peduli apa yang semua orang katakan, dia lebih fokus pada ibunya. Dia tak peduli lagi pada sang ayah atau pun Hazel. Ia telah memantapkan hatinya, setelah melahirkan anak untuk Hazel. Dia akan pergi dan tak akan menoleh ke belakang.


...


Bibi Lin berderhem. Menu hari ini bukan dirinya yang memutuskan, tapi Mikayla. Dia senang melihat gadis polos itu begitu menikmati, sepertinya Mikayla memang suka memasak.


"Maaf tuan, bukan saya. Tapi nona Mikayla, dia yang menyiapkan semua menu makan malam ini."


Uhuk


Uhuk


Hazel merasa tersedak, tidak di sangka dia menikmati makanan yang di siapkan istri mudanya itu.

__ADS_1


"Apa semua ini Mikayla yang memasak?" tanya Mommy Mona. Dia tidak percaya, bahkan masakan Mikayla sangat pas di lidahnya.


"Benar Nyonya, saya tidak berbohong."


Ehem


"Aku sudah selesai makan, kalian lanjutkan. Ada beberapa pekerjaan yang belum aku selesaikan."


Hazel bergegas pergi dan meninggalkan separuh nasi yang belum dia habiskan.


...


"Kayla, bisa kamu bawakan kopi hangat untuk tuan Hazel?" tanya Bibi Lin.


"Maaf Bi, aku tidak bisa. Aku ada pekerjaan kampus yang belum selesai," ucap Mikayla berlalu pergi. Dia sangat malas untuk bertemu dengan Hazel.


Sedangkan Bibi Lin malah menghela nafas, dia pun membawa kopi hangat untuk Hazel.


Dia menaruh kopi hangat itu, kemudian hendak pergi.


"Bi, emm."


Bibi Lin menoleh, "Ada apa tuan?" tanya Bibi Lin dengan suara dingin dan wajah datar.


Hazel langsung mengangkat wajahnya, tidak pernah dia mendengarkan Bibi Lin bersikap dingin.

__ADS_1


"Bagaimana keadaannya?"


__ADS_2