
Bersikap biasa saja? Apa dia berlebihan? Bahkan ia merasa tidak berlebihan dan justru senang melakukannya.
"Hem," Hazel membalikkan tubuhnya dan tersenyum. "Aku hanya ingin melakukan apa yang ingin aku lakukan Kay," sahut Hazel. Dia kembali melangkah dan menaiki satu per satu tangga.
Kayla mengambil tas ranselnya, dompet dan ponsel ia cek lebih dulu agar tidak ketinggalan.
"Kayla, ini minum susunya." Bibi Lin menaruh susu itu di atas meja.
Kayla menggeleng, ia merasa menjadi anak kecil. "Aku tidak mau Bi,"
"Kayla minum saja," Hazel menyambar sambil merneteng tas kerjanya, ia turun dengan tergesa-gesa.
"Sebaiknya tuan sarapan," Kayla mengalihkan pembicaraannya. Lagi pula dia jarang sarapan kalau hanya pergi ke kampusnya.
"Bibi bawakan sarapan untuk ku dan Kayla."
Bibi Lin tersenyum senang, dia pun pergi mengambil sarapan untuk Kayla.
"Duduklah dulu," Hazel menyeru. Dia menarik lengan Kayla agar duduk di sebelahnya. "Aku lupa," ia melupakan sesuatu, tangan Kayla belum ia perban.
"Sini tangan mu."
__ADS_1
Kayla menurut dan membuat Hazel gemas, hatinya merasa senang Kayla selalu menuruti perkatannya.
"Ini tuan, Non."
"Makanlah dulu," titah Hazel. Untuk pertama kalinya dia sarapan di ruang tamu. Selama ini ia tidak pernah sarapan di mana pun, kalau ia tidak ingin makan Adel dan Bibi Lin tidak akan memaksa dan menunggu keinginannya sendiri.
Hazel menyodorkan segelas susu yang di bawa oleh Bibi Lin dan Kayla meminumnya.
"Saya akan membawakan susu untuk tuan," ucap Bibi Lin. Hatinya merasa tentram dan tenang melihat kedekatan Kayla dan majikannya itu. Ia lebih senang melihatnya dari pada melihat yang sebelumnya.
"Tidak Bi," Hazel meminum sisa susu milik Kayla da membuat Bibi Lin melotot, kemudian tersenyum.
"Tidak masalah," ucap Hazel dengan santai. "Lagi pula kau bukan manusia ular jadi tidak ada racunnya." Canda Hazel membuat mata Kayla melebar, dia mengerucutkan bibirnya sangat kesal dengan Hazel, ia serius malah di jadikan candaan.
"Non Kay, itu tasnya kotor."
Kayla melihat ada sebuah noda di tas ranselnya. "Tidak apa-apa Bi, hanya noda biasa."
"Tas kesayangan ya Non sampai gak mau lepas," ucap Bibi Lin. Selama ini melihat Kayla yang tak ingin lepas dari tas ranselnya.
"Iya ini dari Dion Bi," ucap Kayla. Tas ransel berwarna merah itu memang dari Dion. Selama ini Dion memang memanjakannya, tanpa di minta pun. Dion akan membelikannya, apa yang sudah cocok menurutnya maka dia akan membelinya.
__ADS_1
Bibi Lin melirik Hazel, ia suka dengan wajah cemburu tuannya itu.
"Lain kali kau ganti tas jelek mu itu." Hazel mengambil sebuah kartu. "Ini beli tas lainnya, aku tidak mau di sangka suami tak bertanggung jawab."
Kayla memandang kartu hitam itu dan menggeleng.
"Ambil Kay, aku tidak suka di bantah. Mulai saat ini apa yang Dion belikan pada mu, buang saja dan beli yang lainnya. Apa kau tidak malu masih memungut barang pemberian Dion? bocah tadi malam itu. Dia memiliki tunangan Kay, aku tidak mau kau mengemis," ucap Hazel panjang lebar dan nada menekan. Kedua matanya tajam seakan ada api yang siap menghunus pada siapa pun.
"Ba-baiklah," cicit Kayla sambil melirik Hazel.
"Sudah, ayo kita berangkat."
Drt
Hazel mengangkat panggilan di benda pipihnya. "Iya sayang, aku berangkat kerja sekarang." Hazel tersenyum. Dia pun melirik Kayla yang menggaruk-garuk jarinya.
Sedangkan Kayla sudah bisa menebak kalau panggilan itu pasti dari Adel.
"Iyaa aku mencintai mu," ucap Hazel.
Aku ingin sekali di cintai seperti itu, tapi sekarang siapa yang akan mencintai ku dengan tulus?
__ADS_1