
"Di, ini gak seperti yang kamu ..."
Dion tertawa, dia menggenggam erat tangan wanita di sampingnya. "Aku gak peduli, kenyataannya kau yang mengkhianati ku. Ayo sayang, kita ke meja sana saja." Dion melangkah pergi sambil bergandengan dan tersenyum mesra dengan wanita yang tak lain adalah tunangannya.
Dion menarik kursi itu, membantu tunangannya duduk. Dia melirik Kayla dan tersentum sinis.
Kayla menunduk. "Tuan, saya mau ke toilet dulu."
Hazel menatap tajam pria itu, namun Dion malah membalasnya. Hazel mengambil ponsel di saku jasnya. "Aku ingin kau mencari informasi tentang Dion, mantan kekasih Kayla."
"Baik tuan," sahut seorang pria di seberang sana.
Hazel mengaraskan rahangnya, ia marah pada Kayla yang masih bersedih pada pria yang telah meninggalkan, ia sangat tidak menyukainya.
..
Kayla mencuci tangannya, lalu mencipratkan ke wajahnya. Dia menatap bayangan wajahnya di cermin di depannya itu. Rasanya masih sakit dan sesak, sama seperti dulu. Ribuan belati menancap di hatinya secara bersamaan. "Gak, aku gak boleh seperti ini terus."
__ADS_1
"Kau menyukai Dion?" tanya wanita di sampingnya. Kayla menoleh dan melihat wanita yang tadinya bersama dengan mantan kekasihnya itu.
"Hanya masa lalu, anda tidak perlu khawatir," ucap Kayla. Sekalipun ia mencintai Dion, ia tidak ingin merusak hubungannya.
Wanita itu berdecak, "Kau tidak ingin memperjuangkannya?"
Dia pun mengubah posisi tubuhnya menghadap ke arah Kayla. "Aku tidak tau hubungan mu seperti apa dengan Dion. Aku melihat kalian sama-sama mencintai kan? Tapi kalian tidak mau memperjuangkannya."
"Aku tidak pantas dengan Dion, dia seperti langit yang tak bisa aku gapai."
"Aku beci dengan orang seperti mu yang tidak mau berusaha. Kau tau, aku terpaksa menerima pertunangan ini."
...
Hazel menatap wajah Kayla, dia tersenyum sinis. "Kau masih menyukainya, sedangkan dirimu tidak di anggap?" sindir Hazel. Bagaikan ada ujung pedang yang menusuk relung hatinya.
"Aku percaya kau tidak akan merusak hubungan mereka."
__ADS_1
"Cepat habiskan makanan mu, aku ingin pulang," ucap Hazel.
Kayla melihat ke piring Hazel, bahkan pria itu belum menyentuh makanannya.
Kayla menghabiskan steak di depannya tanpa melirik Dion, sedangkan Dion sesekali melirik Kayla. Hingga tak terasa kini mereka telah sampai di kediaman mewah milik Hazel. Sepanjang perjalanan Hazel tidak pernah berhenti mengejek, bagaikan burung kecil yang mengharapkan makanan dari sang induk. Begitulah Hazel yang bahkan seakan tak berhenti bernafas, sedangkan Kayla hanya mendengarkan ejekan panjang lebar Hazel. Telinganya sudah kebal mendengarkan penghinaan dan ejekan yang sudah menjadi makannnya tiap hari.
"Kayla kau mendengarkan aku tidak, hah?"
Kayla menghela nafas panjang. "Tentu saja tuan, saya mendengarkan tuan."
Bagaimana ia bisa menjawab, mendengarkan suara Hazel yang tak habisnya itu bagaikan suara burung.
"Tuan saya menjawab salah, gak menjawab salah. Lebih baih saya diam menjadi pendengar setia saja."
Hazel semakin kesal dan membuat pria itu melenggang pergi, namun sampai di pertengahan anak tangga dia menoleh pada Kayla.
"Kayla sampai kapan kau berdiri di sana? Cepat siapkan aku air hangat!" teriak Hazel.
__ADS_1
Kayla berlari menyusul Hazel agar pria itu tidak lagi menunjukkan taringnya. Dengan cepat dia menyiapkan air hangat, pakaian milik Hazel sampai ia tidak sadar ****** ***** milik Hazel pun ia persiakan.