
eeuummm
Sebuah lenguhan dan suara merdu membuat dahi pria itu berkerut. Dia mencoba membuka kedua matanya dan merasakan hembusan hangat di dadanya. Dia pun menunduk dan melebarkan kedua matanya.
Dia mencoba mengingat kejadian tadi malam. "Sial!" umpatnya.
Ia pun perlahan melepaskan pelukannya dan langsung mengambil kimono yang ia pakai tadi malam dan bergegas keluar.
Di dalam kamarnya, pria itu tampak bingung. Ia tidak tau harus melakukan apa karena terlanjur melakukanya? Ada rasa sesal di hatinya, perasaan bersalah pada istri pertamanya itu.
"Argh! Kenapa aku bisa melakukannya? Adel tidak boleh tau," ucapnya dengan perasaan yang amat menyesal. Ia belum siap memiliki anak dengan Kayla, ia tidak ingin memiliki anak dengannya dan tidak mau membuat Adel bersedih. Rasanya hatinya sakit melihat Adel menangis.
"Aku harus menemui Bibi Lin." Hazel melangkah dengan cepat menuju ke dapur. Kebetulan Bibi Lin di dapur dia pun menyeret Bibi Lin.
__ADS_1
"Bibi Lin, kamu belikan obat pencegah kandungan di apotik, lalu berikan pada Kayla," ucap Hazel. Hari ini ia hanya fokus pada perasaan istrinya itu.
"Tapi tuan,"
"Tidak usah banyak tanya!!" bentak Hazel dengan nada tinggi. Kekhawatirannya sampai menuji puncaknya. Ia sangat takut kehilangan Adel. Semua kejadian tadi malam hanya khilafnya.
...
Kayla membuka kedua matanya, badanya terasa remuk redam. Ia beringsut dan melihat handuk kimono yang ia pakai berada di bawah. Dia pun melihat keadaan tubuhnya dan sontak ia terkejut karena tidak memakai apa pun. "Apa yang terjadi?"
Tubuh Kayla bergetar, hatinya resah. Ia pun bingung harus melakukan apa? Sejujurnya ia belum siap memiliki anak.
Tanpa sadar arah pandangannya melihat segelas air dan secarik kertas di atasnya ada beberapa obat. Kayla mengambil secarik kertas itu.
__ADS_1
Maafkan aku, tadi malam di luar kendali ku. Aku khilaf, aku harap kau melupakan kejadian tadi malam dan meminum obat ini karena aku belum siap untuk memiliki anak dengan mu, aku mohon mengertilah karena aku tidak ingin menyakiti Adel.
Kayla meremas kertas di tangannya dengan perasaan marah, sakit dan perrih. Perasaan itu bercampur aduk. apa hidupnya memang tidak berharga? Pria itu seenaknya saja mengaturnya?
Kayla mengusap air mata di kedua pipinya. "Baiklah, lupakan dan anggap semuanya tidak terjadi apa-apa."
Kayla mengambil obat di atas kertas itu, saat ia ingin minum ia seakan melihat bayangan kecil anak laki-laki yang memanggilnya sosok ibu dan anak perempuan yang memamerkan gaunnya. Dia mengepal kuat sambil menggenggam obat itu. "Tidak, kalau pun ada dia berhak hidup."
Kayla turun, dia menarik selimut panjang itu untuk menutupi tubuhnya, menyeretnya ke kamar mandi. Dengan cepat dia membuang beberapa obat itu ke Wc.
"Sudah cukup, kalian mempermainkan aku." Awalnya ia ingin berterimakasih pada Hazel, namun rasa sakit tadi membuatnya sangat membenci Hazel sampai ke tulang-tulangnya. Rasa benci dan sakit hati serta kecewa bercampur aduk. Bahkan pria itu menyatakan tidak ingin memiliki anak setelah merampas semuanya.
"Melupakan? Bagaimana aku melupakan kebejatan mu Hazel."
__ADS_1
Kayla menyalakan shower itu, perlahan selimut yang menutupi tubuhnya jatuh ke lantai. Dia menggosok tubuhnya dengan keras di iringi perasaan jijik. Ia jijik melihat beberapa tanda di tubuhnya, ia jijik mengakui."
"Arkh!!! Hiks ...."