
"Hazel! Buka pintunya!" teriak Kayla. Dia menggedor-gedor pintu di depannya. "Aku mohon buka Hazel, aku ingin bertemu Mama. Aku merindukannya." lirih Kayla.
Nyes
Hazel menatap pintu di depannya. Ia tidak tega melihat Kayla mrnangis, tapi ia takut Kayla akan bertemu dengan Dion. "Apa pria itu tau kesepakatan ku dengan Kayla?" pria itu menggeleng, perjanjian itu tidak boleh ada yang tau.
"Tuan ada apa dengan Non Kayla?"
Kebegtulan sekali dia melihat Bibi Lin, jadi ia tidak perlu mencarinya. "Bibi Lin, bawa semua pakaian Kayla ke kamar ini. Mulai saat ini Kayla akan pindah ke sini."
"O iya satu lagi, jangan sampai Kayla keluar, aku mengurungnya di sini."
Sejenak Hazel melirik ke pintu yang berada di belakangnya dan bergegas pergi ke kantor, hari ini ia ada meeting dan pastinya sudah terlambat.
"Non Kay," sapa Bibi Lin. "Kau tidak apa-apa kan?"
Kayla tak menjawab, ia hanya menangis kehidupannya yang sangat melelahkan. Ia lelah, sangat lelah. Ia butuh pelukan ibunya.
...
Para karyawan memberikan hormat saat melihat Hazel, mereka saling lempar pandang setelah Hazel pergi. Tidak biasanya wajah Hazel begitu dingin seakan tak bisa di sentuh. Setiap langkah kakinya bagaikan mengeluarkan panah es.
__ADS_1
"Apa tuan Hazel sedang ada masalah dengan Nyonya?" bisik karywan wanita pada temannya di sampingnya.
"Mungkin saja, biasanya kan tuan Hazel walaupun tak menjawab wajahnya ya biasa saja."
"Tapi tuan Hazel memang tidak murah senyum,"
"Apa yang kalian lakukan di sini?" seru seorang pria. Ketiga wanita itu pun buru-buru pergi.
...
"Apa ini? Ide sampah seperti ini kalian bilang bagus? Wah, apa otak kalian dongkol?" Hazel membuang dokumen yang berada di depannya.
"Aku menggaji kalian membuat perusahaan ini maju, bukan malah mundur. Anak kecil saja bisa melakukannya."
"Kerjakan lagi, aku tidak ingin ada yang kedua kalinya."
"Ba-baik Pak."
Dua wanita dan dua pria itu memberikan hormat, pagi-pagi sekali ia kena semburan api dari pemilik perusahaan. Di tambah perut mereka yang keroncongan seakan menambah beban hidup.
"Hazel kau kenapa?" tanya Wilie, sebagai tangan kanan Hazel sekaligus teman Hazel. Dia hidup bersama Hazel, kemana-mana bersama Hazel, ketika orang tuanya meninggal Hazel lah satu-satunya yang menjadi keluarganya. Sebagai seorang anak tukang kebun dari kediaman Hazel, tidak membuat Hazel semena-mena padanya, justru menganggapnya sebagai saudara.
__ADS_1
"Apa ada masalah dengan Adel?" kalau bukan masalah dengan istrinya, lalu siapa lagi. Bukankah kehidupan Hazel hanya untuk Adel, ia ingat betapa gilanya pria di depannya pada Adel.
"Aku tidak suka melihat Kayla berdekatan dengan Dion," akhirnya Hazel ingin mengeluarkan segala unek-uneknya.
"Kau tidak menyukai Kayla kan?" tebak Wilie. "Kau cemburu?"
"Mana mungkin, aku tidak mungkin menyukai Kayla, kau tau sendiri aku melakukan semuanya untuk Adel."
Wilie ingin tertawa, hanya untuk Adel? Tapi bercabang untuk orang lain. "Hazel, kau tidak memahami perasaan mu. Sebaiknya kau menyudahi permainan mu atau hati mu akan semakin terlibat."
"Sudah aku bilang, aku tidak menyukai Kayla," Hazel tak terima.
"Baiklah, jangan sampai menyesalinya."
"Malam ini aku berniat mempertemukan Kayla dengan papa mertua ku."
Wilie semakin tak tau pikiran Hazel, dulu pria ini mengatakan akan menyembunyikan Kayla, bahkan akan menyiksanya, tapi sekarang?
"Kau mengubah rencana mu?"
"Aku memiliki kesepakatan dengan papa mertua ku. Papa Mertua ku akan memperlakukan Adel dengan baik dengan syarat membantunya mempertemukannya dengan putrinya yang hilang."
__ADS_1
"Hazel sejujurnya aku tidak mendukung keputusan mu dari awal, ya aku tau aku sahabat mu, tapi pemikiran itu." Wilie menaikkan kedua bahunya. "Dengar, ini bukan kesalahan istri muda mu, siapa namanya? Kayla ya, tapi bukan juga kesalahan Adel. Menurut ku mertua mu yang egois."
"Aku harap kau jangan terlalu dekat dengan Kayla."