
Bibi Lin mengerutkan dahinya, bukannya ia bodoh, tapi kali ini ia ingin bodoh dan pura-pura tidak mengerti. "Keadaan nyonya Adel sangat baik tuan," jawabnya. "Saya permisi tuan," imbuhnya dan melangkah pergi.
"Bibi Lin bukan nyonya yang aku tanyakan, tapi .."
Bibi Lin memutar tubuhnya. "Tuan tidak perlu menanyakannya, dia baik-baik saja dan satu hal lagi, bersikaplah baik padanya walaupun sedikit. Dia tidak salah, dia hanya korban keegoisan orang tuanya."
Bibi Lin pun pergi dan tak lagi menoleh. Meninggalkan Hazel dengan perasaan yang tak menentu. Ia sungguh kecewa pada Hazel yang tak memiliki hati nurani sedikit pun.
Hazel mengusap wajahnya, ia tidak fokus pada leptop di depannya. Ia pun mengambil kopi yang di suguhkan oleh Bibi Lin. Menaruhnya kembali dan fokus pada layar di depannya.
Ia mengusap bibirnya, lalu beranjak ke dapur. Ia mengambil sebuah botol air dingin dan meneguknya, menyisakan setengahnya.
Hazel keluar, ia ingin menghirup udara segar untuk menghilangkan pikirannya yang buntu. Dia menghentikan langkahnya, kedua telinganya menangkap tangisa pilu.
"Ma, bagaimana kabar Mama? Maaf Kayla belum menjenguk Mama, tapi Kayla berusaha, berusaha agar Mama cepat sembuh. Kayla akan mengorbankan semuanya, termasuk kebahagian Kayla. Mama harus kuat, Mama harus kuat ..."
__ADS_1
Deg
Sedikit Hazel merasa kasihan, ia melihat tubuh rapuh itu semakin terisak. Ia pun melangkah, namun ia urangkan kembali karena mengingat perlakuannya tadi pagi.
Dia pun berbalik dan menghubungi pihak rumah sakit untuk menjaga keadaan ibu Kayla. Entahlah, ia ingin saja melakukannya mendengarkan tangisan Kayla yang sangat memilukan.
...
Sedangkan Kayla dia perlahan bangkit, cukup lama dia menangis mengeluarkan semua rasa sakitnya. Dia melangkah masuk ke dalam dan menunduk tanpa menyadari seorangs pria tengah menatapnya.
"Hah," Kayla terkejut, dia langsung mendongak saat dahinya menabrak sesuatu yang keras. Seketika wajah Kayla mendadak dingin, dia melangkah mundur, lalu kesamping dan berniat melewatinya.
Deg
Kayla mengepalkan kedua tangannya. Dia berbalik, "Apa ada sesuatu yang tuan inginkan? Maaf kalau saya tidak sopan, karena saya keluarga perebut suami orang dan tida memiliki aturan." Bagaikan belati yang menusuk, ucapan Kayla membuat ia merasakan sesuatu di hatinya.
__ADS_1
"Aku lapar," ucap Hazel. Dia menyalakan lampu utama dan menatap datar gadis di depannya.
"Apa ada sesuatu yang ingin tuan makan?" tanya Kayla. Dia mengambil celemek yang menggantung di dinding itu. Kemudian menyalakan kompor.
Hazel tidak tau apa yang harus ia makan, sebenarnya ia ia tidak lapar dan entah dari mana, mulutnya langsung mengatakan lapar.
Tidak ada sahutan, Kayla mengambil telur di kulkas lalu memasak seadannya. Kalau pun tidak mau, ia tidak masalah dan berencana membangunkan Bibi Lin saja.
"Ini nasi gorengnya tuan? Apa ada sesuatu yang tuan inginkan lagi?" tanya Kayla.
Hazel ingin menolak, ia tidak pernah makan nasi goreng apa lagi di tengah malam. Baru kali ini ia makan di tengah malam, selama menjadi seorang pria. Ia selalu menjaga kesehatan tubuhnya.
"Kalau tidak mau, saya saja yang makan." Kayla hendak mengambil sepiring nasi goreng dan telur ceplok itu. Dari pada di buang sangat sayang, masih banyak di luar sana yang membutuhkan makanan.
"Saya akan makan, kau duduk dan temani aku." Titah Hazel.
__ADS_1
Tak mau berdebat, Kayla menurut dan melihat lurus ke depan.
Sial!! Ini enak sekali, sihir apa yang dia gunakan sampai makanan yang ia masak selalu enak batin Hazel sambil melirik Kayla yang berwajah datar itu.