
"Nona, nona Kayla tidak enak badan tuan," ucap Bibi Lin.
Cih
Adel berdecak, dia tidak yakin wanita murahan itu sampai sakit. "Dia memang pemalas."
Bibi Lin langsung pergi, ia jengah mendengarkan mulut cerewet majikannya itu. Kalau bukan demi Hazel, sudah ia lawan sejak dulu.
Selepas kepergian Bibi Lin, Hazel terlihat tak bersemangat untuk makan. Ia merasa khawatir dengan keadaan Kayla.
"Sayang, jangan pernah kamu memikirkan Kayla. Aku tidak suka," ucap Adel dengan nada tajam.
Tidak ingin mencari keributan, Hazel mengelus pucuk kepala Adel. "Siapa yang memikirkannya sayang? Sudah, kita lanjutkan saja makannya."
Kedua dentingan sendok itu pun memenuhi ruang makan. Pasangan suami istri itu kini tampak makan dengan lahap.
Hazel menatap langit-langit kamarnya, pikiran dan hatinya kacau. Perkataan bibi Lin membuatnya ingin melihat keadaa Kayla, bahkan ia belum menyuruh Bibi Lin untuk memeriksa keadaan Kayla pada Dokter.
__ADS_1
Hazel menoleh ke arah samping, dimana ada istrinya yang tengah tertidur pulas menghadap ke arahnya. Dia pun perlahan turun dan melangkah dengan pelan menuju kamar belakang.
Kini langkah kakinya sampai di sebuah pintu, ia pun masuk dan melihat sebuah cahaya lilin bukan cahaya lampu. Kedua manik Hazel tertuju pada sebuah ranjang kecil. Dia pun mendekat dan menyentuh keningnya dengan punggung tangannya.
"Panas,"
Emm
"Bibi, aku baik-baik saja." lirih Kayla. Samar-samar dia melihat bayangan Hazel, namun ia menepis pikirannya. Mana mungkin Hazel datang padanya.
Hazel bergegas ke dapur, dia membawa sebaskom air dan sapu tangan. Dia mengambil kursi yang berada di dekat jendela, lalu menaruhnya di samping ranjang. Dia mencelupkan sapu tangan itu ke baskom air dan memerasnya, kemudian menaruhnya pada kening Kayla.
Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk bulan sabit, ia akui Kayla cantik. Di lihat dari wajahnya, wajah Kayla lebih mirip dengan wajah mertuanya, tapi yang paling ia tidak sukai karena status ibunya Kayla. Dia pernah merasakannya, dulu sewaktu kecil hanya ada pertengkaran dan pertengkaran, kehidupannya tidak semulus yang orang lain lihat, nyatanya sang ayah memiliki istri lain di belakang ibunya. Hal inilah kenapa ia selalu membenci Kayla.
"Kau tidak buruk Kayla, hanya saja status mu yang paling aku benci." Gumam Hazel.
Dia kembali memeriksa kening Kayla dan tersenyum, ia bisa bernafas lega saat merasakan tubub Kayla tidak panas.
__ADS_1
Tangan Hazel bergerak melihat tangan Kayla, dia pun menggenggam tangan itu dan langsung pergi.
"Tuan dari mana?" tanya Bibi Lin. Kebetulan dia terbangun karena ingin pipis dan rasa haus yang melanda. Dia melihat bayangan majikannya masuk dari pintu dapur.
"Oh bibi Lin," Hazel tersenyum kikuk. Ia tidak mungkin mengatakan kalau ia sedang merawat Kayla, tapi esok hari Kayla pasti berterima kasoh pada Bibi Lin. "Aku datang melihat Kayla," ucap Hazel.
Bibi Lin menghela nafas berat. "Apa tuan tidak percaya dengan ucapan saya?" sudah ia duga. Hazel tidak akan percaya. "Tadi saya menyuruh Kayla untuk memeriksa tubuhnya ke rumah sakit, tapi dia tidak mau."
"Aku sudah mengompresnya,"
Bibi Lin terkejut, tapi kemudian tersenyum tipis. Ia tau, sekejam majikannya tapi masih memiliki hati. "Begitu ya, saya tau tuan pasti masih memiliki rasa kasihan."
"Tuan, saya mohon jangan terlalu menekan Nona Kayla, dia gadis yang baik dan polos. Saya tau, masa lalu membelenggu hati tuan, bisa saja ada masa lalu yang belum di selesaikan."
"Maksud Bibi Lin ibunya Kayla tidak bermasalah? Yang salah di sini ibunya Kayla Bi."
"Apa tuan tidak merasakannya? Kalau memang nona Kayla dan ibunya ingin merusak rumah tangga Nyonya Mona, sudah dari dulu mereka lakukan, tapi sampai saat ini Nona Kayla dan ibunya tidak pernah melakukannya sampai tuan sendiri dan nyonya Adel yang menemukannya."
__ADS_1
"Saya tidak tau harus mengatakan apa pada tuan, tapi saya percaya gadis seperti Nona Kayla, tidak mungkin berpikir ingin merusak keluarga Nyonya Adel."