
Kayla memeluk batu nisan yang tercantum nama sang ibu dan foto ibunya. Sesekali dia mencium batu nisan itu. Hidupnya seolah gelap dalam sekejap. Seakan tidak ada sinarnya lagi.
"Sayang, sudah. Biarkan Mama mu tenang, kamu masih punya Papa."
Bukannya ia tak sedih, tapi di sini ialah yang peling kesakitan. "Demi Papa, tolong kuat untuk Papa. Papa hanya punya kamu nak."
Kayla menoleh, benar dia masih memiliki seorang papa, tapi rasanya sangat sakit. "Pa, ayo kita pulang, kita pulang ke Indonesia. Kayla tidak betah di sini." Wanita itu memeluk tuan Azraf begitu erat. Ia lelah dan memilih pergi, hatinya begitu perih saat tangan Hazel terangkat ke pipinya.
"Iya sayang, ayo kita pulang. Kita mulai hidup baru."
"Ada sesuatu yang Papa harus tau." Dengan sisa kekuatan di hatinya. Kayla menceritakan semuanya. Ia tak ingin menutupinya lagi, kadang dia menoleh pada sang ibu. Kini waktunya ia menceritakan semuanya. Ibunya berhak tau dan ayahnya juga berhak tau.
"Hazel, Papa akan balas dendam."
Kayla menggenggam kedua tangan tuan Azraf dengan tangan kotor. "Pa, aku tidak mau apa pun. Bawa Kayla pergi,"
"Sayang, Hazel harus di beri perhitungan." Tegas tuan Azraf. Ia tidak takut pada Hazel sekalipun Hazel di kenal kota ini.
"Tidak Pa, aku tidak mau apapun. Aku ingin pergi, aku tidak mau lagi terlibat dengannya. Aku membencinya Pa."
Tuan Azraf semakin erat memeluk putrinya, kehidupan Kayla jauh menderita di bandingkan dirinya. Banyak kesakitan di dalamnya, banyak tangisan dan penderitaan. Ia berjanji akan menyayangi Kayla, menjaga dan mencintainya.
__ADS_1
....
Tiga Hari kemudian.
Seorang wanita tengah berdiri di dekat jendela sambil melihat pemandangan di luar, melihat derasnya air hujan yang mengalir sama seperti air matanya yang tiada hentinya mengalir. Dia memeluk erat kedua lengannya. Kulitnya merasa dingin namun hatinya merasa panas. Dua hari ini ia berada di tempat yang baru, suasana baru. Namun hatinya masih belum bisa tenang, hatinya tak bisa menyentuh dan tak mau dengan suasana baru.
Dan selama ini pula, seorang suami, ya suami kontrak tak lagi menghubunginya, seolah dia bagaikan di telan bumi. Walaupun hatinya tak mengharapkan tapi sebagai seorang yang berstatus suami bukankah tak ada salahnya menanyakan istrinya, apa lagi di permalukan di depan banyak orang lain.
Krek
"Sayang, sarapannya sudah siap," ucap tuan Azraf. Hatinya memang menangis, bukan berarti ia harus larut dalam tangisannya. Kini ia memiliki Kayla, hanya putrinya yang menguatkannya.
"Jangan seperti ini, kau tidak sayang pada Papa?" tuan Azraf membujuk dengan lembut.
Kayla tersentuh, benar, dia harus hidup untuk Papanya. Kini mereka hanya memiliki satu sama lainnya.
....
Sedangkan di tempat lain.
Hazel terus memikirkan Kayla, bahkan semalam tiga hari dia tak menghubungi Kayla, tidak pulang ke mansionnya dan selama tiga hari ia tak bertemu dengan sang papa mertua.
__ADS_1
Hatinya sangat resah, siang dan malam dia selalu memikirkan Kayla, rasa bersalah yang semakin menggunung, pekerjaannya pun terbelangkalai, ia tak fokus. Adel, istrinya kini tak larut dalam kesedihan. Justru wanita itu shoping dan ia bersyukur Adel tak lagi memikirkan permasalahnya.
Dia pun menurut, tapi ia ingin bertemu dengan Kayla. Sedangkan mama mertuanya telah mendapatkan surat dari pengadilan. Seminggu lagi mereka akan sidang.
"Hallo Bi, bagaimana keadaan di mansion? Bagaimana keadaan Kayla?"
"Apa? Tidak pulang?" Hatinya seperti di remas, ia merasa takut, takut terjadi sesuatu pada Kayla.
"Aku akan kesana."
Hazel menutup panggilannya, lalu menyelipkan ke saku celananya. Dia pun hendak keluar kamar, namun saat menoleh ke ara pintu dia bertemu dengan Adel.
"Kau mau kemana? Bertemu dengan Kayla? Hazel kau pernah berkata tidak pernah membutuhkan anak selama bersama ku, asalkan bersama ku. Maka aku sekarang meminta, ceraikan Kayla."
Deg
Seperti di sambar petir, jantungnya seakan berhenti berdetak. Rasanya sangat perih dan nyilu, seolah belum siap.
Adel menjatuhkan barang belanjaannya, dia pun berhambur memeluk Hazel. Ia tidak ingin kehilangan Hazel seperti Mommynya kehilangan Daddynya. Ia tak akan membiarkan hal itu terjadi, ia akan berusaha mempertahankan rumah tanggannya.
"Kalau kau menginginkan anak, mari kita adopsi."
__ADS_1