Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku

Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku
Pernikahan End


__ADS_3

Kayla menatap kedua wanita berbeda umur dengan wajah datar. Adel menghubunginya dan mengajaknya bertemu. Ia pun menyanggupinya, ia tidak takut dengan Adel. Padahal Hazel, tuan Azraf dan Rio ngotot ingin menemaninya, namun ia bersikeras untuk datang sendiri menemui Adel, ia tidak tau kalau Adel mengajak ibunya.


"Apa yang ingin kalian katakan?" tanya Kayla, ia tidak memiliki waktu untuk meladeni kedua wanita di depannya.


"Kami minta maaf, maaf atas semua kesalahan ku. Karena keegoisan ku, kau dan ibu mu menderita."


Tangan Kayla meremas dresnya, hatinya kembali panas jika mengingat tentang ibunya. "Saya sudah memaafkan anda dan saya mohon jangan mengusik kehidupan saya, masalah Hazel. Silahkan kalian ambil, anak saya tidak membutuhkan Hazel," ucap Kayla. Keteguhan hatinya tidak ingin di pandang rendah.


"Kau lebih berhak memiliki Hazel, bukan karena kau sudah memiliki anak. Tapi Hazel membutuhkan mu," ucap Mommy Mona.


Sementara Adel diam dengan seribu bahasa. Ia hanya mendengarkan saja, lagi pula sudah ada ibunya yang mewakilinya. Sebelum ia bertemu dengan Kayla, ia meminta pada sang ibu untuk mewakili ucapannya.


"Adel sudah melepaskan Hazel." imbuh Mommy Mona. "Putri ku menginginkan Hazel bahagia."


"Kayla, aku melepaskan Hazel. Sudah banyak penderitaan yang aku torehkan padanya. Aku harap kau bisa membahagiakannya, bukan seperti ku. Aku mencintai tapi tak mampu untuk membahagiakannya, aku titip Hazel."


Adel langsung beranjak dan melangkah pergi, Mommu Mona menatap Kayla dan tersenyum. "Kami tidak akan mengusik keluarga mu, semoga bahagia." Mommy Mona pun meninggalkan Kayla dan mengejar putrinya.


Kayla menghembuskan nafasnya, rasa sesak di hatinya langsung hilang dalam sekejap. Ia meneguk jus di depannya hingga tandas.


"Bahagia," ucapnya begitu lirih.


..


......


Sebulan kemudian.


Dengan kesabaran Hazel mendapatkan hati Kayla, satu bulan pria itu melayani Kayla, membuat sarapan dan layaknya seorang suami dan seorang ayah. Ia menemani Kayla dan mengantarnya ke mana pun. Hingga permohonan kesekian kalinya Ghava membuat Kayla berpikir kembali menerima Hazel.


Dan kini saatnyalah yang di tunggu-tunggu, Kayla dan Hazel kembali melaksanakan pernikahan kedua kalinya yang di gelar secara meriah.


"Sayang kau lelah?" tanya Hazel. Ia melihat wajah lelah di wajah Kayla. Semenjak tadi istrinya menemui beberapa tamu undangan dan rekan bisnisnya.


Kayla mengangguk, kedua mulutnya seakan lelah menyapa dan menangapi senyuman para tamu yang hadir.

__ADS_1


"Aku akan mengantar mu ke hotel, biar aku saja yang menyapa mereka."


"Kau tidak apa-apa?" tanya Kayla merasa tak nyaman.


"Tidak, tunggu sebentar. Aku akan mengatakan pada ayah dulu dan Ghava."


Hazel pun mencari tuan Azraf dan menghampirinya, meminta ijin untuk Kayla kembali ke hotel beristirahat.


....


Hazel menutup pintu itu dengan pelan, ia membuka jasnya dan meletakkanya ke atas sofa. Ia duduk sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Akhirnya ia terletas juga dari serangkaian acara pernikahannya. Ia pun menutup matanya sambil menyandarkan kepalanya ke sofa.


ceklek


"Mas, acaranya sudah selesai?" tanya Kayla. Hazel membuka kedua matanya. Ia pun menatap lawan bicara dan seketika ia meneguk ludahnya susah payah.


Sekejur tubuhnya terasa tegang, apa lagi sesuatu di dalam celananya yang menegang melihat sang istri memakai handuk menutupi dadanya sampai ke lututnya. Ada handuk kecil yang melilit rambut hitamnya.


Hazel beranjak, bukankah ini malam pertanya. Ia ingin meminta jatahnya.


"Kay," Hazel mendekat. Suara seraknya membuat Kayla merinding.


Hazel mendekat ke wajah Kayla, bibir lembut itu kini menjadi sasaran empuk jalan pertamanya. Ia mencium bibir Kayla dengan lembut, menghisapnya dengan lembut. Tubuh Kayla menegang, terasa panas. Godaan lidah Hazel membuatnya terbuai. Ia ingin, tubuhnya menginginkan sesuatu. Seakan ada magnet yang menarik tubuhnya ke tubuh Hazel.


Hazel merangkup wajah Kayla, mencium seluruh wajahnya, kemudian kembali mencium bibir Kayla dengan rakus.


Kedua tanganya menekan dua buah di pinggngnya, lalu menekannya ke tubuhnya.


"Sayang, emmm ..."


Dalam sekejap Hazel menurunkan tubuh Kayla ke atas ranjang yang di penuhi dengan kelopak bunga mawar itu. Dia kembali meraup bibir Kayla, li.dahnya bermain dan saling melilit. Mengikuti permainan lidaah Hazel.


Sebelah tangan Hazel menarik handuk Kayla, hingga bungkusan handuk itu terbuka dan memperlihat tubuh yang terlihak seksi, apa lagi melihat kedua bukit cientalnya itu.


Sesaknya di bawah sana, panasnya tubuhnya. Dengan gerakan cepat ia membuka pakaiannya dan membuangnya ke sembarangan arah. Hingga memperlihatkan otot di bagian tubuhnya.

__ADS_1


Ini kedua kalinya Kayla melihat tubuh Hazel dan masih membuatnya malu, kini kedua pipinya bagaikan kepiting rebus.


"Kay, aku mencintai mu, sangat mencintai mu." Hazel menatap penuh gaeirah, nafasnya naik turun. Dadanya berdebar-debar dengan kencang, bagaikan di sapu oleh angin topan.


Tidak ada jawaban, namun kedua netra wanita di bawahnya mengiyakan. Ia pun kembali mencium bibir Kayla dengan rakus, satu tangannya menekan salah satu gunung kembar padatnya.


"Uemmm." Kayla mendeasah. Hazel semakin rakus mendengarkan suara merdunya. Lidahnya mencium setiap enci leher Kayla, puas memberikan tanda ciumannya. Lidahanya kini menuruni dua bikit ke embar milik Kayla, menye.dotnya dengan rakus dan memberikan beberapa tanda di sekitarnya.


Kayla melenguh, tubuhnya panas dingin. Ia merasakan sesuatu bergesekan di bawah sana. Sebuah tombak panjang dan mene,gang, ia meneguk ludahnya susah payah, berharap alam bawahnya baik-baik saja.


"Sayang, bukankah kita pernah melakukannya."


Hazel tersenyum, ia kembali mencium bibir Kayla untuk mengalihkan bayangannya. Namun perlahan tombak panjangnya terdorong ke arah lobang yang rindang.


"Siiiiih ..." Kayla berdesis dan menutup matanya. Sudah lama miliknya tidak pernah di hujami tombak kuat. Hanya milik Hazel lah yang pernah memanenny, kini Hazel pun juga akan memanennya.


Hazel menghentikan tombak panjangnya, membiarkan lobang milik Kayla menerimanya dengan baik.


Cup


Di iringi kec.upan dan kecepan. Hazel menarik dan mendorong tombak kuat. Kayla kembali berdesis. Hazel memelankan tombaknya dengan mendorong dan menariknya dengan lembut.


"Huh emmm ..."


Hazel meraup dua bukit kembar itu, namun di iringi dorongan tombak panjangnya. Kedua tangan Kayla meremas rambut Hazel, mengelus punggung milik Hazel. Kedua tangannya tak sampai mencakar tubuh Hazel, ia menahan perih dan sakitnya dengan menekan giginya.


Kini ruangan itu semakin panas, udara dingin di iringi kecaprokan tombak panjang Hazel yang memasuki lobang menjadikan ruangan itu semakin panas, butiran keringat membasahi tubuh Hazel dan Kayla, seprai yang rapi itu kini lusut tak terkira.


Tombak panjang milik Hazel terus menciptakan sebuah nada dengan di iringi dua drum naik turun milik Aluna.


"Uh Hazel, emm ..."


"Sayang," Hazel menyahut. Ia mendorong tombak panjangnya semakin cepat dan cepat. Ia terus menarik dan mendorongnya.


"Hazel, emmm uh .."

__ADS_1


Hazel terus memeprcepat miliknya, sesekali ia mencium salah satu drum milik Kayla. Hazel menghentikan miliknya.


Kayla merasakan tombak yang menghujaninya tidak ada pergerakan namun akan meledakkan sesuatu, hingga ia merasakan sebuah cairan tumpah ke rahimnya.


__ADS_2