Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku

Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku
#part16


__ADS_3

Hazel menguyah beberapa sandwich di depannya, lalu meminum segelas air putih di depannya.


"Sayang, aku mau ke rumah Mommy ya. Tidak perlu mengantar ku, hari ini aku dan Mommy berencana ke Mall," ucap Adel. Dia pun menyantap kembaki sisa sandwich di tangannya.


Hazel teringat Kayla, selama menjadi istrinya ia belum memberikan nafkahnya. Pikirannya pun kembali berputar pada kejadian tadi malam yang akhirnya membuatnya tak bisa tidur nyenyak.


"Sayang kenapa dengan wajah mu? Kau demam,"


Adel mengecek suhu tubuh suaminya. "Sayang kau panas, sebaiknya kau tidak perlu bekerja." Dia meneguk segelas susu di depannya. "Ya sudah aku pergi,"


"Tuan kalau merasa tidak enak tidak usah ke kantor, biar Kayla yang merawat tuan," usul Bibi Lin. Selama ini Hazel selalu bekerja dan bekerja sekalipun dalam keadaan demam, pria ini tidak pernah mau libur, paling tidak sampai pulang sewaktu sore.


Hazel tersenyum tipis, "Baiklah, aku tidak akan bekerja dan biarkan Kayla yang merawat ku."


Kening Bibi Lin semakin berkerut, hingga kerutan di kulitnya semakin jelas. Wanita yang tak lagi muda itu dan rambutnya yang di penuhi beberapa uban keherana. Kemana seorang Hazel? Semenjak kapan seorang Hazel tidak menolak libur?


"Baiklah," Bibi Lin anggap ini waktunya Kayla dan Hazel lebih dekat. Ia percaya, pesona Kayla bisa melumpuhkan seorang Hazel. "O iya tuan, Nona Kayla mungkin masih sedih karena hubungannya dengan kekasihnya putus dan kekasihnya bertunangan."


"Kok bisa?" tanya Hazel. Tapi ada sesuatu di hatinya, setidaknya Kayla telah menyandang status sebagai isyrinya.


"Tidak tau, Non Kayla tidak mengatakan apa pun hanya itu, sepertinya dia stress berat sampai kebawa demam. Apa tidak ada salahnya tuan menjalani hubungan yang normal sebagai suami istri?"


Hazel terdiam, usulan bibi Lin memang tidak salah. "Iya aku akan mencobanya Bi, ya sudah aku ke atas dulu. Bibi panggil Kayla untuk mejaga ku."


Bibi Lin kembali tercengang, Hazel bahkan tidak marah atau menolak ada apa dengan majikannya? Tapi ia cukup bersyukur, mungkin Hazel sudah sadar pikirnya.

__ADS_1


Bibi Lin menyuruh beberapa pelayan lainnya untuk membereskannya, sedangkan ia akan memanggil Kayla yang sedang membersihkan kaca di teras belakang.


"Kayla,"


Kayla menghentikan aktivitasnya. "Iya Bi,"


"Kamu di panggil tuan Hazel di kamarnya."


"Iya Bi," Kayla yang tak banyak bicara pun menurut, entah apa yang di minta oleh majikannya itu, padahal tadi ia sudah membereskan keperluan Hazel untuk pergi ke kantor.


Ketukan itu membuat Hazel beringsut duduk dan menyandarkan tubuhnya, ia layaknya pria lemah yang sedang sakit sungguhan. Anehnya, ia mau saja berpura-pura sakit.


"Tuan memanggil saya?"


"Ehem," Hazel berderhem menetralkan kegugupannya. "Apa Bibi Lin tidak berbicara?"


Hazel mengusap tengkuknya. "Iyah, kau yang harus merawat ku."


"Ya sudah Kay panggilkan Dokter."


"Tidak!!" sontak Hazel berteriak, kalau sampai mendatangkan Dokter yang ada ia malah malu karena ketahuan bohong.


"Aku hanya butuh istirahat,"


Dengan polosnya Kayla berbalik dan menghampiri Hazel kembali. "Baiklah, apa tuan ingin sesuatu?"

__ADS_1


....


Sedangkan di kediaman Azraf.


"Apa kau masih mencari wanita murahan itu?" tanya Mommy Mona dengan nada sarkas. Setiap harinya suaminya yang ia tau hanya sibuk bekerja, tapi tidak taunya malah diam-diam mencari istri murahannya itu.


Tuan Azraf pun tak bisa mengelak dan berbohong lagi. "Benar aku mencarinya, lantas kau mau apa?" tanya tuan Azraf. Sudah seperti kehidupan baginya yang setiap saat wanita di depannya hanya mengajak bertengkar. "Aku memiliki tanggung jawab pada wanita itu dan aku memiliki seorang anak."


"Dia bukan anak mu Azraf, anak mu hanya Adel. Adella Azraf, bukan siapa pun. Sampai kapan kau akan seperti ini? pandang aku Azraf, aku yang mencintai mu bukan dia, kalau dia mencintai mu. Dia tidak akan meninggalkan mu," Seru Mommy Mona. Darahnya mendidih saat mendengar pengakuan suami yang ia cintai. "Kau sudah berjanji pada orang tua mu kan? Kemana janji mu?"


Tuan Azraf akui, dia memang berjanji pada orang tuanya, tapi sebagai seorang ayah ia tidak ingin lepas dari tanggung jawabnya. "Aku katakan, aku sudah memiliki anak dan aku hanya ingin bertanggung jawab," Elaknya.


"Tidak!!!" Mommy Mona berteriak hingga urat di lehernya terlihat. "Kau tidak akan bertanggung jawab pada anaknya saja, tapi pada ibunya kan? Aku tidak percaya pada mulut mu."


"Daddy!" Adel langsung masuk ketika mendengarkan suara sang Mommy dari lantai bawah. "Daddy kenapa sakiti Mommy lagi? Daddy masih memikirkan wanita ****** itu?"


Daddy Azraf menatap tajam, kilatan kemarahan keluar bergitu saja pada mendengarkan perkataan Adel.


"Daddy masih memikirkan wanita perusak itu? Daddy, apa Daddy tidak sadar? Bisa saja anak yang di kandungnya bukan anak Daddy, tapi anak haram."


Plak


Tanpa sadar tuan Azraf melayangkan tamparan di pipinya.


"Daddy!" teriak Mommy Mona saat melihat putrinya mendapatkan sebuah tamparan.

__ADS_1


"Yang anak haram bukan anak ku, tapi dirimu," ucap Daddy Azraf dengab nada dingin dan rahang mengeras.


"Azraf!!"


__ADS_2