
Sore harinya. Hazel pulang ke rumah mertuanya, dia sangat merindukan istrinya, tak lupa dia membawa kue kesukaan sang istri.
Wanita yang di sapa Adel itu berlari memeluk Hazel begitu erat, hatinya begitu senang melihat suaminya datang menemuinya. "Hazel."
Seorang pelayan pun mengambil kue yang di pegang Hazel dan siap menghidangkan untuk sang nyonya dan yang lainnya.
"Aku merindukan mu," Hazel mencium kening Adel. Wanita itu pun berjinjit dan mengecup bibir Hazel.
"Aku merindukan mu, O iya honey, bagaimana pekerjaan mu? si ****** itu tidak menggoda mu kan?"
Hazel mengelus pipi Adel. "Honey, bagaimana kalau kau ubah nama panggilan mu? Tidak enak kalau ada yang mendengarkan." Nasehat Hazel.
"Huh, biarkan saja. Biarkan semua orang tau," sungut Adel. Ia tidak suka Hazel membela Kayla, di matanya Hazel membelanya, padahal pria itu hanya ingin menasehati istirnya.
"Hazel, kau sudah pulang. Hari ini mau menginap di sini?" tanya Mommy Mona. Dia berharap menantunya ikut bergabung dengan keluarganya. Ia percaya, suaminya lambat laun akan luluh dan menyadari kesalahannya. Pada Adel sudah berubah, apa lagi pada dirinya.
"Iya Mom, tapi nanti malam aku ada janji dengan klien di luar," ucap Hazel. "Ya sudah, aku mau mandi dulu, rasanya tidak enak."
"Adel, Mommy bersyukur Hazel sangat mencintai mu. Bahkan hal baik datang, Daddy mu tak lagi bersikap acuh pada mu."
Adel memeluk Mommy Mona, bermanja-manja dengannya, bergelanyut di lengannya. "Benar Mom, aku yakin cepat atau lambat Daddy pasti bersikap hangat pada Mommy."
"Iya sayang,"
....
Hazel mengguyur tubuhnya dengan air shower. Tangannya bersandar pada dinding di depannya, matanya memerah. Ia mengusap wajahnya dan mendinginkan pikirannya.
"Semoga saja bukan, iya ini hanya rasa kasihan. Aku harus menjauh dari Kayla. Aku tidak boleh terlena padanya, aku tidak boleh menyakiti Adel. Setelah ini aku akan memindahkan Kayla ke tempat lain, tapi apa yang harus ku katakan pada Adel. Dia tak mungkin menerimanya begitu saja." gumam Hazel.
__ADS_1
Tok
Tok
"Sayang kau di dalam, ini sudah waktunya makan malam," ucap Adel. Entah apa yang di lakukan suaminya? Dari sore sampai malam suaminya masih betah berada di kamar mandi.
Hazel mengambil kimono yang bergantung itu, dia pun keluar dan melihat sang istri yang berada di depan pintu.
"Ngapaian di dalam? Sampek jam segini baru keluar," ucap Adel.
"Biasalah sayang, mendinginkan pikiran."
"Ya sudah makan malam mu sudah siap," ucap Hazel.
Hazel menatap makanan yang berada di atas nakas, dia merasa kenyang, pikirannya kabut membuatnya terasa kenyang. "Aku makan di luar saja sayang,"
"Ya sudah," ucap Adel.
Adel mengambil dasi berwarna merah itu, lalu membantu Hazel memakaikanya. Dia mengusap dada bidang Hazel. "Honey, aku menunggu mu di sini."
"Iya," Hazel mencium kening Adel. Dia pun bergegas pergi. Adel menghela nafas, walaupun sedikit kecewa ia tidak mempermasalahkannya, yang jelas nanti malam ia memiliki banyak waktu dengan Hazel.
...
Hazel menghubungi tuan Azraf, sang mertua. Hingga beberapa panggilan, akhirnya pria di seberang sana mengangkatnya. Hazel mengatakan niatnya dan malam ini malam di mana dia akan mempertemukan Kayla dengan papa mertuanya.
"Iya Dad, aku tunggu di Restaurant Xxx, nanti aku bawa Kayla."
Tit
__ADS_1
Hazel menekan klakson mobilnya. Kayla yang berada di dalam kamarnya membuka sedikit tirai jendelanya dan melihat mobil Hazel yang telah masuk ke dalam pekarangan.
"Dia pulang,"
Kayla menutup tirai di depannya dan kepalanya ia sandarkan ke dinding sambil bersendekap dan melihat keluar.
"Kay," sapa seorang pria. Hazel membawa sebuah gaun lalu menaruhnya di atas ranjang king size itu.
"Ini aku bawakan gaun, kau bersiaplah. Aku tunggu di luar." Hazel menghela nafas, ia merasa bersalah pada Kayla, tapi ia marah karena Kayla dengan mudahnya jatuh ke dalam pelukan pria lain. "Kay, kau mendengarkan aku kan? Aku tidak ingin di bantah." Hazel kembali berucap karena tidak ada pergerakan dari Kayla. Pria itu pun langsung pergi
"Apa aku hanya mainan yang tidak memiliki hati," gumam Kayla. Dia menoleh dan melihat gaun berwarna putih menutupi sampai ke lehernya.
Kayla mengambil gaun yang di berikan suami kontraknya, lalu memakainya dan merias diri. Dia menggerai rambut hitamnya.
Hazel menunggu dengan perasaan dag dig dug, ia merasa gugup. Kadang ia berdiri dan mondar mandir, kadang dia duduk sambil menggerakkan jari telunjuknya, seakam dia menunggu sidang yang sangat penting.
"Hazel,"
Hazel mendongak, seakan waktu langsung berhenti. Kedua maniknya tak berkedip melihat pahatan yang indah di depannya, gaun itu pas sempurna membentuk tubuh ramping dan indah, terlihat manis dan menggemaskan.
"Tuan, Non Kayla cantik."
Blush
Kayla menunduk, "Bibi apa sih?"
Hazel perlahan melangkah ke arah Kayla. Ingin rasanya dia mencium dan memeluk Kayla, ingin sekali ia menyuruh Kayla berada di rumahnya saja, tapi sialnya ia sudah berjanji akan mempertemukan mereka di luar.
Kayla menatap sepatu hitam itu, dia pun perlahan mendongak dan menatap kedua manik Hazel, begitu tenang dan indah.
__ADS_1
"Ayo kita pergi," ucap Hazel. Dia menekukkan sikunya dan Kayla pun cepat tanggap, dia mengalungkan lengannya ke lengan Hazel.
"Kay, apa pun yang terjadi nanti. Kau harus kuat."