
Kayla mengikuti langkah kaki Hazel menuju salah satu meja. Dia melihat seorang pria yang tengah memunggunginya.
Apa Hazel ingin memperkenalkan dirinya pada rekan bisnisnya?
"Om," Hazel menyapa. Pria di depannya pun berdiri. Tubuhnya gemetar, kedua matanya memerah. Panas dingin yang ia rasakan di tubuhnya, ada rasa takut, khawatir dan senang.
Dengan air mata yang membasahi kedua pipinya, dia memutar tubuhnya.
Deg
Kedua mata Kayla tak berhenti berkedip, sekali pun ia hanya bertemu beberapa kali tapi ia tau siapa pemilik wajah di depannya. Bayangan demi bayangan berputar di pikirannya. Satu demi satu bayangan itu membuat dunianya runtuh. Seorang anak yang selalu mengharapkan kedatangannya sang ayah, pagi dan malam ia tak pernah berhenti menunggu di depan pintu, berharap seseorang akan memanggilnya dan berlari memeluknya.
"Putri Ku." Tuan Azraf langsung memeluk tubuh Kayla, dia menangis pilu, betapa rindunya ia pada Kayla dan wanitanya.
Sedangkan Kayla membeku, tubuhnya terasa hangat, sebuah pelukan yang ia rindukan bertahun-tahun. Namun pelukan itu terasa sakit dan perih.
"Kenapa? Kenapa baru sekarang?" Setelah banyak kesedihan yang ia lalui dengan ibunya, kenapa baru sekarang ayahnya datang? Bahkan hidupnya hancur.
__ADS_1
Ehem
Hazel berderhem, Kayla justru butuh penjelasan. Ia ingin wanita itu tau semuanya, bahwa bukan salahnya tuan Azraf.
"Kayla, kita duduk ayah akan jelaskan semuanya." Kayla duduk di samping sang ayah. Sedangkan Hazel dia berpindah tempat di samping Kayla, merapatkan tempat duduknya membuat kening tuan Azraf berkerut.
Tuan Azraf menghilangkan pikiran tak wajarnya, dia pun mulai menceritakan semuany dari awal dan membuat Kayla semakin menangis, hingga tak tega dan pada akhirnya Hazel memeluk Kayla.
"Kayla," Hazel mengusap punggung Kayla, ia tak lagi memperhatikan kemejanya yang basah. Justru yang ada di benaknya sekarang adalah kesedihan Kayla. Bagaimana cara menenangkannya?
"Maafkan Papa, Kayla mau kan memaafkan Papa?" tuan Azraf menggenggam sebelah tangan Kayla dengan tatapan memohon.
"Iya sayang, apa kau tak merindukan papa? Papa begitu merindukan mu, mari kita mulai dari awal, kita hidup bersama dengan ibu mu? Bujuk tuan Azraf. Bertahun-tahun hidupnya terasa mati tanpa putrinya dan wanita yang ia cintai.
Kayla mengangguk, rasa rindu lebih besar dari kekecewaannya. Rasa sakit hati yang telah di hilangkan oleh rasa rindu.
"Papa ..." Ia memeluk hangat tuan Azraf. Pria itu berkali-kali mencium kening Kayla.
__ADS_1
Tuan Azraf menyeka air matanya dan menatap Hazel. "Hazel terimakasih telah membawa Kayla. Aku berhutang budi pada mu,"
"O iya kau menemukan Kayla dari mana?" tanya tuan Azraf.
Sejenak Hazel tak menjawab, ia tak mungkin mengatakannya kalau ia mengurung Kayla, menyiksa Kayla dan menikah kontrak dengannya.
Kayla menggenggam sebelah tangan tuan Azraf, ia tau Hazel tak menjawab. Ia akan mencari waktu untuk menjelaskannya.
"Tuan Hazel tidak sengaja menemukan ku Pa, yang penting kita sudah bersama." Tutur Kayla berbohong. Sekalipun ia sakit hati ia tidak ingin membebani pikiran ayahnya.
Tuan Azraf menghapus air mata Kayla. Wajah ini sangat mirip dengan Puspitasari. "Ibu mu bagaimana?" tanya tuan Azraf. Ia sangat menyesal telah menelantarkan sari.
"Ibu di rawat di rumah sakit Pa, karena sakit jantung." Air matanya mengalir begitu saja.
Deg.
Tuan Azraf semakin menangis, hatinya sangat perih mendengarkan keadaan wanita yang sangat ia cintai. Kayla merangkul tuan Azraf dan mengusap punggungnya.
__ADS_1
"Percaya pada Papa, Papa akan membahagiakan mu dan juga ibu mu."
Pa, semuanya tidak seperti dulu.